Arsip untuk September 9th, 2007

09
Sep
07

Morning Sickness

Bisa Dipicu Maag dan Stres

            Mual, muntah, pusing, sulit nafsu makan, kebanyakan kondisi tersebut pastinya sering dialami oleh seorang wanita yang sedang mengandung. Meskipun, ada juga wanita  hamil yang tidak mengalami masalah tersebut, namun menurut dr Adri Yanti SpOG, dokter kandungan yang ada di Batam Medical Centre, 70 persen wanita hamil pasti mengalami rasa tidak mengenakkan di dua bulan awal kehamilan.

            “Penyebabnya karena adanya perubahan hormon pada ibu hamil. Akhirnya ibu hamil ada yang mengalami morning sickness. Tapi tidak hanya pagi saja. Ada juga ibu hamil yang merasa tidak enak seperti itu pada sore, malam, atau bahkan sepanjang hari,” terang Adri.

            Namun jika seorang wanita memiliki riwayat sakit maag atau memiliki kecenderungan untuk mudah panik dan bermental labil, maka kondisi tidak mengenakkan pada saat kehamilan tersebut bisa berlangsung hingga saat kelahiran tiba.

            “Untuk itulah seorang ibu perlu mendapatkan dukungan support emosi yangcukup dari lingkungan sekitarnya. Kadang memang kalau wanita hamil itu kelihatan kolokan. Tapi jangan dikira kalau dia gampang mengeluh dan manja itu merupakan keinginan dia. Siapapun wanita pastinya tidak ingin merasa sakit seperti itu,” jelas Adri.

            Dengan adanya support dari lingkungan sekitar, maka seorang wanita yang sedang hamil dan merasa bahagia serta memiliki tingkat stres yang rendah berkemungkinan untuk mengalami rasa tidak mengenakkan yang minim terjadi.

Selain kelelahan pikiran, seorang ibu hamil juga dianjurkan untuk mengurangi keaktivannya seperti biasanya. Hindari terlalu capek, banyak mengangkat beban yang berat, dan menempuh perjalanan yang jauh. (ika)

 

Hindari Minyak dan Softdrink

            Meski rasa tidak mengenakkan kerap hadir pada ibu hamil, namun tetap saja ia harus terus memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk makan. Sampai-sampai menurut Adri, ia sering mengatakan kepada pasiennya dengan pesan, “Ayo berjuang untuk makan, untuk kesehatan ibu dan juga bayinya.”

            Menurut Adri, sesungguhnya seorang ibu bisa memenuhi kebutuhan bayinya selama satu bulan awal kehamilan jika sang ibu mengalami kondisi kurang makan dengan porsi seperti kebiasaan pada umumnya.

            Namun tetap saja, seorang ibu perlu tetap makan untuk memenuhi kebutuhan asupan tubuhnya serta bayi yang sedang dikandungnya. Jika rasa tidak mengenakkan itu ada, menurut Adri, hendaknya seorang ibu bisa melakukan pola makan yang sedikit-sedikit tapi sering.

            “Bisa dua sampai tiga sendok dulu kemudian dua jam lagi makan lagi. Sedikit-sedikit asal sering,” saran Adri.

            Lantas, makanan dan minuman apa saja yang hendaknya dihindari untuk mencegah semakin parahnya kondisi mual? Adri menyarankan untuk menghindari terlalu banyak makan yang berlemak atau mengandung minyak serta mengkonsumsi soft drink yang mampu membuat perut menjadi kembung.

            “Ada baiknya makan makanan yang hangat atau segar. Jika ingin ngemil, bisa juga dengan mengkonsumsi cracker atau makanan alternatif lainnya. Jika tidak bisa makan nasi, bisa juga diganti dengan bubur sereal atau air sop, ice cream, dan jus atau sayur sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang,” lanjut Adri.

            Sedangkan untuk urusan ngidam yang kerap dialami oleh ibu hamil, menurut Adri hendaknya dilihat-lihat dulu makanan atau minuman apa yang diinginkan oleh sang ibu. Jika itu merupakan makanan atau minuman yang tidak membahayakan kondisi sang ibu tersebut karena sedang mengandung, tak ada salahnya untuk dipenuhi.

            “Tapi kalau membahayakan, ya jangan dituruti. Nggak ada kok hubungannya dalam medis antara ibu hamil ngidam dan tidak dituruti dengan cerita nanti anaknya kalau lahir akan mudah ngiler,” sahut Adri. (ika)

           

Rencanakan dari Tiga Bulan Sebelumnya

            Mendengar istilah merencanakan kehamilan sebelum beberapa bulan sebelumnya, pasti yang akan banyak terpikir di benak kebanyakan orang adalah menyiapkan mental dan dana yang cukup. Padahal, ada hal lain yang sama pentingnya dan perlu dilakukan oleh seorang calon ibu sebelum memutuskan untuk hamil.

            Menurut Adri, seorang ibu seharusnya mempersiapkan dirinya selama tiga bulan sebelum ia hamil. Di masa tersebut, seorang wanita yang sedang mempersiapkan kehamilannya harus memenuhi asupan asam folatnya.

            “Asam folat ini penting untuk membentuk syaraf pada bayi serta mencegah cacat pada bayi. Untuk itu pada masa tiga bulan sebelum seorang wanita memutuskan untuk hamil, ia harus memenuhi asupan asam folat yang cukup dari sayur-sayuran,” saran Adri.

            Selain itu pada seorang wanita yang merencanakan kehamilan dan memiliki kebiasaan merokok, ia tentunya harus menghentikan kebiasaannya tersebut. Demikian juga pada wanita gemuk yang sedang menjalani program diet dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, juga harus menghentikan kebiasaannya tersebut.

            “Sehingga sel telur yang akan dibuahi itu nantinya dalam kondisi sehat dan berkualitas. Sebelum hamil, seorang wanita juga harus melakukan konsultasi ke dokter. Nantinya, dokter bisa memberikan saran pilihan obat-obatan mana yang bisa dikonsumsi selama masa sebelum kehamilan,” terang Adri.

            Ditegaskan kembali oleh Adri, seorang wanita yang sedang merencanakan kehamilan perlu berhati-hati dalam memenuhi asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya. Karena dengan asupan yang berkualitas bisa mempengaruhi kondisi bayi yang ada dalam kandungan serta yang akan dilahirkan nantinya. (ika)

 

Evening Sickness Pun Ada

            Siapa bilang wanita hamil hanya merasakan morning sickness. Rasa tidak mengenakkan di waktu pagi itu ternyata juga bisa hadir kala sore hari atau yang bisa disebut dengan evening sickness. Itu juga yang dialami oleh Situ Nurbaya atau yang biasa akrab disapa dengan Nora.

            “Wah nggak hanya pagi saja. Kalau saya sore hari terutama kalau pas mau maghrib itu rasanya nggak enak juga. Ya mual, pusing. Jadi nggak hanya morning sickness, evening sickness juga,” aku wanita yang kini bekerja di bagian protokol Pemko Batam tersebut.

            Uniknya di kehamilannya yang kedua kali ini, Nora juga merasakan rasa tidak mengenakkan yang berkepanjangan. Jika pada kehamilannya yang pertama ia cukup merasakan rasa tidak mengenakkan tersebut hanya sekitar tiga bulan, kini di usia kandungannya yang sudah menginjak 22 minggu, rasa tak mengenakkan tersebut masih tetap ada.

            Untuk mengatasi rasa mualnya tersebut, Nora pun akhirnya mengikuti saran dokter untuk mengkonsumsi obat penghilang rasa mual. “Tapi kata dokter kalau bisa ditahan, lebih baik ditahan dulu. Kalau tidak kuat, baru minum obat,” ujar Nora.

            Untungnya, Nora tidak mengalami rasa tidak mengenakkan tersebut hingga pada kondisi yang parah. Menurutnya, ia masih bisa beraktivitas selama kehamilan dan tidak merasa terlalu terganggu dengan rasa tidak mengenakkan yang kadang kerap muncul.

            “Untuk makan aku juga nggak rewel yang sampai ngidam aneh-aneh gitu. Paling-paling hanya pengen makan yang lebih segar-segar saja,” imbuh Nora.

            Menurut dr Adri Yanti SpOG, dokter kandungan yang ada di Batam Medical Centre, normalnya, ibu hamil bisa mengalami tidak hanya morning sickness akan tetapi evening sickness bahkan bisa jadi sepanjang hari. Semua itu tergantung dengan kondisi dari ibu hamil tersebut.

            Demikian juga dengan masa morning sickness. Jika pada kebanyakan orang hal tidak mengenakkan tersebut bisa muncul hingga usia kandungan mencapai hingga dua bulan, namun ada juga yang lebih dari masa kehamilan tersebut.

            Namun ditegaskan oleh Adri, keberadaan rasa tidak mengenakkan tersebut tidak ada hubungannya dengan kualitas kehamilan. “Ada orang bilang kalau hamil tapi kok nggak sakit itu berarti ada apa-apa. Yang betul nggak ada itu kaitan antara mual dengan kualitas hamil.” (ika)

09
Sep
07

Nikah atau Karir

Jadi Pilihan Hidup

            Wanita hanya di rumah saja, bukan masanya lagi. Saat ini, fenomena wanita berkarir bisa jadi dianggap sebagai trend atau mungkin kebutuhan aktualisasi diri.

            Tapi tidak dapat dipungkiri, wanita pun sesungguhnya juga memiliki dorongan untuk mewujudkan pernikahan dan bahkan memiliki keluarga. Namun sayangnya, keinginan untuk menikah sekaligus berkarir sering kurang dapat berjalan beriringan.

            “Sebenarnya jika ditanyakan apakah ada hambatan seorang wanita berkarir atau berumahtangga maka jawabannya tergantung tujuan hidup orang tersebut,” ujar Adelina Situmorang, HRD Manager Panbil Industrial Estate.

            Dikatakan lebih lanjut oleh Adel, berkarir dan berumah tangga adalah contoh sebuah pilihan hidup. Bila seorang wanita memutuskan untuk terus berkonsentrasi dalam berkarir maka resikonya ia akan terlambat dalam berumahtangga. Dan sebaliknya jika ia memutuskan untuk berumahtangga, pada beberapa karir tertentu, wanita tersebut harus mengorbankan karirnya.

“Namun bukan berarti karirnya harus mati kok. Seseorang dapat mengubah jalan hidupnya dan meniti karir yang lain dengan berusaha dan menggali potensi lain yang ada dalam dirinya,” saran dari Adel. (ika)

 

Konsentrasi Harus Terbagi-bagi

            Ada mitos yang berkembang, bahwasanya wanita yang telah menikah biasanya memiliki penurunan kecerdasan dan kemampuannya dalam bekerja. Dari mitos inilah tidak jarang, banyak perusahaan yang enggan mempekerjakan wanita yang telah menikah atau menaikkan karirnya.

            Selain itu, wanita yang telah menkah pada kenyataannya memang sering tampil kurang cemerlang bahkan menurun jika dibandingkan masa karirnya dahulu sebelum menikah. Jadi, benarkan fakta tersebut?

            Menurut Adel, penurunan kecerdasan pada seorang wanita tidak ada hubungannya dengan apakah ia telah menikah, faktor usia, keturunan, kesehatan fisik dan psikis yang dihubungkan dengan faktor kecerdasan.

“Mungkin pada sebagian wanita menikah seolah-olah berkesan jadi berkurang kecerdasannya. Padahal sebenarnya mungkin karena kurangnya konsentrasi ia saja dalam bekerja. Banyak yang harus dipikirkan oleh wanita karir yang telah menikah sehingga konsentrasinya menjadi terbagi-bagi,” lanjut Adel.

Belum lagi jika seorang wanita menikah, mungkin menjadi lebih sering mengajukan izin keluar kantor untuk keperluan anak atau yang lainnya. Sehingga, produktivitas wanita itu pun dirasa menjadi kurang optimal.

“Hal inilah yang menyoroti seolah-olah wanita karir yang menikah menjadi lebih berkurang kecerdasannya. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, karena memang konsentrasi akan menjadi terbagi-bagi,” tambah Adel.

Biasanya jika wanita karir bisa berpikir penuh hanya untuk karir dan pekerjaaannya, kini menjadi terbagi-bagi. Wanita karir yang telah menikah harus membagi perhatiannya menjadi tiga bagian yaitu antara karir, suami, dan anak. Belum lagi jika ia telah memiliki anak lebih dari satu orang. Konsentrasinya pun harus terserap untuk memikirkan keperluan atau kebutuhan rumah tangganya yang lain.

“Tapi dalam hal ini, keprofesionalitasan wanita karir yang telah menikah dalam bekerja tetap harus dipertahankan. Justru saya merasakan ibu rumah tangga yang tetap eksis berkarir sangatlah luar biasa. Karena selain tetap dapat berkarir di pekerjaannya, ia juga mampu membagi-bagi peran. Untuk itulah diperlukan selain konsentrasi yang cukup tinggi juga perencanaan yang baik agar tetap eksis di dalam karirnya,” saran dari Adel. (ika)

 

Harus Tetap Pacu Diri

Bagi seorang wanita karir yang telah berumahtangga, ia mungkin akan kehilangan kesempatan-kesempatan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan kesempatan disekolahkan ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama, maka ia perlu mendapat persetujuan keluarga yang ditinggalkan, lain hal jika semua mendukung.

Kemudian untuk posisi tertentu, mungkin saja wanita karir yang telah menikah tidak diberi kesempatan karena membutuhkan produktifitas kerja yang tinggi. “Karena untuk wanita yang sudah beberapa kali melahirkan tentu saja ada penurunan secara fisik dan kegesitan mulai berkurang,” imbuh Adel.

Namun jika wanita tersebut ingin karirnya tetap naik atau paling tidak karirnya tidak menurun, maka ia harus tetap memacu diri untuk melatih dirinya tetap optimal dan maksimal. Apalagi seperti sebelum keadaan memiliki anak. (ika)

 

Produktifitas Tetap dapat Optimal

Tuntutan untuk memilih antara karir dengan menikah juga pernah dilalui oleh Adel. Dalam karirnya, Adel telah berkecimpung dalam dunia HRD selama sekitar 15 tahun dan 7 tahun terakhir sebagai manager yang sebelumnya sebagai officer yang tetap juga mengepalai departemen HRD / Pesonalia.

“Saya selalu berprinsip bahwa jika saya move out harus lebih tinggi secara income, level atau kedudukan, karir, dan perusahaan yang lebih besar lagi. Hal ini saya jalani. Dan setiap dua tahun bekerja, saya meningkatkan karir saya sesuai dengan goal setting saya. Hal itu bisa terjadi atau tercapai,” tutur Adel.

Adel sendiri memulai karirnya dengan bekerja pada sebuah perusahaan group yang sangat besar dengan jabatan sebagai admin personalia. Dari sana, banyak pengalaman yang ia gali. “Karena saya fokus pada pekerjaan dan karir, saya dikatakan orang lupa usia, lupa menikah, dan waktu berlalu demikian pesat,” sahutnya.

Sampai pada akhirnya di puncak karir yang tertinggi, ia memilih menghentikannya dan tidak lagi mewujudkan ambisi-ambisi yang lebih tinggi lagi. Ia berani untuk memutuskan untuk berniat meneruskan tugas perkembangannya sebagai manusia normal, yaitu ingin menikah dan memiliki rumah tangga. Itu pun akhirnya terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

“Setelah menikah, saya tidak merasakan karir itu turun. Memang saya tidak memacu untuk ke posisi yang lebih tinggi lagi karena saya telah membuat keputusan yang menjadi prioritas dalam hidup saya. Bahwa ketika saya mengambil keputusan untuk menikah maka harus ada yang dikorbankan yaitu karir,” tegasnya.

Namun bukan berarti ia berhenti dalam pengejaran prestasi. Melainkan bagi Adel, ia ingin bisa mempertahankan apa yang eksis saat itu dan mengembangkannya dengan tidak mengejar sesuatu bak meteor seperti sewaktu masih muda.

“Setelah berumah tangga, setiap orang pasti memiliki komitmen-komitmen yang telah disepakati bersama. Misalnya kebutuhan memiliki anak. Atau bagi yang belum, tanggungjawab mengurus anak, suami sehingga untuk melaju lebih kencang lagi seperti ambisi-ambisi pada waktu muda akhirnya terkandaskan,” ujar Adel.

Namun sekali lagi Adel menekankan, seorang yang memutuskan menikah dan tetap berkarir bukan berarti lantas akan semakin mengendur. Menurutnya, semangat semangat kerja dari wanita karir yang telah menikah tetap dapat dipelihara dan produktifitas tetap dapat dioptimalkan.

“Karena jika sudah menikah, stres kerja dapat dibagi dengan pasangan. Dan bagi yang memiliki anak, ia bisa mendapat hiburan setelah seharian penat bekerja,” ujar Adel. (ika)

09
Sep
07

Orangtua Sering Jauh dari Anak

Tidak Pandang Gender

            Menjadi orangtua di zaman sekarang memang tidak bisa disamakan dengan waktu dulu. Jika dulu, orangtua masih bisa memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya, kini tidaklah bisa seperti itu lagi.

            Belum lagi bagi para ibu masa kini. Tidak hanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi juga pandangan akan pentingnya karir di luar rumah serta aktivitas sosial juga menyebabkan seorang ibu masa kini tidak bisa selalu ada menemani buah hatinya.

            Akhirnya, mau tak mau, orangtua pun membutuhkan peran bantuan orang lain untuk bisa mengawasi aktivitas anak-anak ketika orangtua tidak bisa dekat mengawasi mereka.

Jika anak sudah menginjak usia sekolah, saat ini pengawasan anak masih bisa diatasi dengan keberadaan sekolah yang kebanyakan menerapkan sistem setengah hari di sekolah. Mulai pagi pukul 07.30 hingga sore hari sekitar pukul 16.00, anak-anak bisa diawasi oleh pihak sekolah dengan adanya berbagai aktivitas yang ada.

Namun jika anak tidak bisa mendapatkan hal tersebut di sekolah, atau anak masih belum waktunya usia sekolah, otomatis, orangtua harus membutuhkan orang lain untuk turut mengawasi anak-anaknya.

Akhirnya, peran orang lain seperti baby sitter atau pembantu terkadang dibutuhkan untuk bisa ikut mengawasi anak-anak selama di rumah. Selain itu, menitipkan anak di tempat penitipa anak juga bisa dilakukan.

Sayangnya, cara ini sering kali kurang sejalan bagi orangtua yang memang benar-benar memperhatikan pendidikan dan perkembangan anak. Karena tak jarang, bagaimana prilaku orang lain dalam mengasuh anak akan berbeda apabila itu dilakukan oleh orangtua dari si anak itu sendiri.

Sebetulnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengasuh anak ketika orangtua sering tidak bisa berdekatan dengan anak. Misalnya komitmen bersama dengan pasangan tanpa memandang gender.

Seperti yang dilakukan oleh Suryani atau yang akrab disapa dengan Nani, anggota DPRD Provinsi Kepri dengan pasangannya Wildan Hadi Purnama dalam mengasuh kedua putra mereka, Abdussalam Muta’ahiddin atau Akid dan Muhammad Azzam atau Azzam. Saat kedua putra mereka belum menginjak usia sekolah hingga sekarang telah sama-sama sekolah di tingkat SD, Nani lebih berani mempercayakan peran pengasuhan anak dengan pasangannya.

“Untung suami saya mau berbagi peran tidak berdasarkan gender. Misalnya saya nggak ada, ya dia mau juga kok menyiapkan bekal untuk anak-anak sebelum berangkat sekolah. Jadi nggak harus istri melulu,” tutur Nani.

Kemudian ketika anak-anak sudah sekolah, Nani pun akhirnya meminta bantuan kakaknya untuk tinggal bersamanya dan turut mengasuh kedua putranya. Selain itu kepada putra sulungnya Akid, tak jarang Nani pun berpesan agar bisa putra bungsunya, Azzam. (ika)

 

Percayakan Pada Keluarga

            Jika orang lain lebih mudah mempercayakan anak-anak mereka ketika mereka tidak ada pada orang lain, ini tidak berlaku bagi Nani. Sejak kedua anaknya lahir, kecil, hingga sekarang telah bersekolah semaunya di tingkat SD, Nani selalu lebh memilih mengasuh kedua putranya sendiri bersama sang suami.

            “Dari mereka kecil sampai sekarang, saya asuh sendiri mereka. Paling ya berbagi dengan suami saya. Tapi sekarang kalau sudah besar begini, saya ikut percayakan sama keluarga. Kebetulan ada kakak saya di rumah. Mereka (anak-anak, red) memanggilnya uak,” ujar Nani.

            Nani sendiri mengaku kurang mempercayakan tanggung jawab atas kedua putranya jika ia maupun suami tidak ada kepada orang lain selain keluarga. Pernah menurutnya ia menggunakan pembantu. Namun menurutnya, hal itu ternyata berefek besar pada kondisi putranya.

            Karena itulah, ia lebih memilih mempercayakan kedua putranya ketika ia dan suaminya tidak ada kepada keluarga sendiri. “Kalau saya sendiri lebih percaya dengan extended family, kurang percaya kalau dengan orang selain keluarga,” aku Nani. (ika)

 

Ajarkan PR Lewat Telepon

            Setelah kantor DPRD Provonsi Kepri dipindahkan ke Tanjungpinang, praktis, Nani harus tiap hari bolak balik dari Batam-Tanjungpinang di waktu kerja setiap harinya. “Biasanya saya berangkat dari rumah jam setengah delapan pagi dan pulang minimal jam lima,” cerita Nani.

            Dan ternyata bagi kedua putranya, Akid serta Azzam, kesibukan Nani yang seperti itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Sejak Nani mengandung kedua putranya sejakmereka kecil, hingga sekarang mereka sekolah, Nani terbiasa meninggalkan mereka berdua untuk beraktivitas atau bekerja.

            Namun meski demikian, Nani mengaku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Bahkan ketika Nani berkantor di Batam, ia kerap mengajak kedua putranya ke kantor DPRD Provinsi yang ada di Batam Centre.

Meski tidak selalu dekat dengan kedua putranya, Nani juga rutin mengecek aktivitas putranya melalui telepon. Misalnya menanyakan aktivitas apakah sudah shalat atau belum, sudah makan atau belum, ataupun aktivitas apa yang sedang mereka lakukan.

            “Malahan, saya sering juga kok mengajarkan mereka kalau sedang ada PR lewat telepon. Nanti kalau teman saya tanya, ya saya jawab biasalah, waktunya memberikan konsultasi,” ujar Nani sembari tersenyum.

            Sedangkan ketika ada waktu senggang bersama keluarga, Nani maupun suaminya Wildan tidak akan menyia-nyiakan waktu tersebut. Mereka akan menggunakan waktu senggang mereka untuk berjalan-jalan bersama kedua putranya. (ika)

09
Sep
07

Berdamai dengan Camer

Pelajari Dari Pasangan

            Tak kenal maka tak sayang, itulah ungkapan yang bisa kita tunjukkan ketika kita sedang berada dalam tahap penjajakan dengan pasangan menuju jenjang pernikahan. Dan apapun yang yang terjadi dalam hubungan selanjutnya, sebetulnya sangat tergantung dengan tahap pertama saat mengenal.

            Menurut Dinuriza Lauzi, psikolog asal Batam, untuk bisa lebih mengenal karakter dari pasangan nantinya setelah menikah, ada baiknya kita perlu mengetahui bagaimana karakteristik dari keluargnya.

            “Caranya cari tahu dahulu bagaimana keluarganya, pelajari dulu karakteristiknya yang itu bisa kita dapatkan dari pasangan. Caranya bisa dengan komunikasi yang lebih intens,” saran wanita yang akrab disapa dengan panggilan Nisa ini.

            Jika sudah mengetahuinya, hindari terlebih dahulu habit-habit tertentu yang dirasa memang perlu diubah. Apalagi, habit atau kebiasaan yang memang dinilai kurang baik. Komunikasi antar pasangan memang penting dalam hal kepentingan saling memahami dan menerima.

            “Karena itulah, perlu komunikasi awal antar pasangan untuk bisa saling menerima dan memahami pasangan. Perlu kesiapan mental dan keiklasan untuk bisa menerima apapun baik itu kelebihan maupun kekurangan. Berikut masa lalunya,” lanjut Nisa.

            Sebetulnya, kebiasaan seseorang itu bisa dipelajari, diubah, dan ditularkan. Tapi jika ada yang kurang berkenan pada diri pasangan, komunikasikan terlebih dahulu untuk mau tidaknya mengubah kebiasaan tersebut. (ika)

 

Tampilkan Diri Apa Adanya

            Meski kita harus mengubah beberapa kebiasaan buruk yang kita miliki, tetap saja, ada baiknya kita tetap harus bisa menampilkan diri kita apa adanya. Tentu saja, yang sesuai dengan norma sosial.

            “Kita perlu juga untuk menampilkan apa kompetensi yang kita milik. Waktu pendekatan, cari tahu apa yang disukai oleh calon mertua. Mulai dari hobi atau kesukaannya. Tapi memang ini bukan ajang untuk menjilat,” saran Nisa.

            Dengan bersikap apa adanya dan mampu menunjukkan apa yang kita miliki, maka akan ada nilai plus yang bisa dilihat oleh calon mertua tentang diri kita. Sementara itu antara orangtua pria dan wanita, biasanya ada perbedaan karakter saat menghadapi calon menantunya.

“Orangtua pria lebih jaga image biasanya. Tapi kalau sudah kenal biasanya pembawaannya akan biasa. Beda dengan orangtua wanita. Biasanya awal-awalnya mereka terlihat biasa tapi mereka diam-diam menilai kita secara keseluruhan,” terang Nisa.

            Karena itulah, terkadang kekakuan sering terjadi antara orangtua wanita dengan calon menantu wanita. Begitu juga halnya orangtua pria dengan calon menantu pria. Tapi lepas dari itu semua, pembawaan pada kesan pertamalah yang memang penting. (ika)

 

Beri Argumen Sesuai Logika

            Ada kalanya, penerimaan seseorang akan seuatu bisa berbeda-beda. Apalagi jika menyangkut norma dan budaya yang selama ini dianutnya. Dan di situlah terkadang, seorang calon mertua bisa jadi kurang menyukai calon menantunya namun bukan karena sesuatu yang dipandang buruk dalam masyarakat.

            Misalnya, pandangan bahwasanya seorang wanita harus sepantasnya lebih banyak mengenakan rok daripada celana. Untuk menyikapi hal tersebut, sebetulnya bisa saja kita menyesuaikan diri terlebih dahulu terhadap keinginan calon mertua.

            Akan tetapi jika sesuatu yang tidak diinginkan tersebut kurang dapat kira ubah dalam diri kita, maka berilah argumen yang tepat dan logis. “Pasangan bisa mengatakan kepada orangtunya, bahwasanya jika kita mengenakan rok, akan sulit bagi kita untuk beraktivitas,” saran Nisa.

            Kita pun bisa mengambil contoh iklan kecap yang ada di tayangan televisi beberapa waktu. Ketika sang menantu memiliki pilihan sendiri dan berbeda dengan pilihan mertuanya, maka alasan dan cara yang baik bisa ditempuh agar pilihan itu pun tetap bisa dilaksanakan.

            “Di iklan tersebut sebetulnya ada pelajaran yang bisa kita ambil. Kalau kita mau mengalah terlebih dahulu, kita bisa nantinya mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan berikutnya kita bisa masuk di sisi logika mereka jika ada perbedaan,” ujar Nisa. (ika)

09
Sep
07

Big But Beautiful

Syaratnya Minimal 85 Kilogram 

            Berawal dari keikutsertaan dalam ajang Miss Impian yang diadakan sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia, Lulu Lustanti dan beberapa kawan-kawannya pun kemudian jadi saling bertemu dan berkumpul. Apalagi karena Lulu dan beberapa kawan-kawannya itu pun memiliki kesamaan yaitu bertubuh besar, maka tercetuslah sebuah ide untuk mengadakan sebuah perkumpulan.

            “Kita yang awalnya dari ikutan ajang Miss Impian itu kemudian temenan sampai sekarang dan akhirnya ngebentuk perkumpulan Xtra-L Be Community. Dari situ juga kita akhirnya kepikiran untuk kenapa nggak bikin ajang yang seperti Putri Indonesia tapi untuk kita yang berbadan besar,” ujar Lulu.

            Ajang yang kemudian diberi nama Miss Big Indonesia itu sendiri menurut Lulu bukan ingin dibentuk sebagai ajang lucu-lucuan melainkan benar-benar serius. Dengan bermotto big, beauty, brain and behaviour, ajang ini ingin membentuk wanita tetap menjadi smart meski betubuh besar.

            “Walaupun bertubuh besar, tapi attitudenya juga harus bagus. Dan ternyata ide ini dari teman-teman banyak yang tertarik. Sampai-sampai banyak yang protes, kenapa kok syaratnya harus usia di atas 20 tahun,” ujar Lulu yang dalam acara Miss Big Indonesia berepran sebagai public relation dari acara tersebut.

            Kontes yang tetap ingin menjaga kecantikan dan keanggunan wanita yang bertubuh besar ini memang yang pertama di Indonesia. Harapan dari para pencetus ide ajang ini sendiri, kontes Miss Big Indonesia ini bisa mengubah cara pandang orang selama ini tentang wanita bertubuh besar.

            Syarat-syaratnya memang bisa dibilang tidaklah begitu mudah. Selain persyaratannya yaitu wanita dengan rentang usia antara 20 hingga 35 tahun, belum menikah, serta memiliki kepribadian menarik dan berwawasan luas, ajang ini juga menuntut pesertanya untuk memiliki berat badan minimal 85 kilogram! Benar-benar sebuah ajang yang berbeda dari kontes kecantikan yang selama ini ada.

“Kontes ini jauh dari unsur untuk melecehkan dan mendeskriditkan wanita bertubuh besar. Sebaliknya, semua peserta dituntut untuk mempunyai wawasan yang luas, berkepribadian yang menarik, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi,” tegas Lulu.

Dalam kontes ini nantinya, para peserta akan mengikuti karantina dan menerima berbagai materi seperti koreografi, wawasan nusantara, public speaking, master of ceremony, table manner, english class, fashion class, make up class, hingga personality class.

“Semuanya diajar oleh guru-guru profesional dan terkenal di bidangnya. Selain itu masih banyak lagi kegiatan-kegiatan sosial yang akan dilakukan oleh para finalis Miss Big Indonesia,” ujar Ririe Bogar, konseptor dan desicion maker dari ajang tersebut.

            Audisi dari acara ini akan dilakukan pada tanggal 30 juni dan 1 juli 2007. Sedangkan untuk malam finalnya dilakukan pada tanggal 27 juli 2007. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi saja nomor telepon 021.7829964, 0812 972 8245, atau 081380045677.

Nantinya selain meraih gelar Miss Big Indonesia dan mendapat piala bergilir untuk gelar tersebut, pemenang dari kontes ini akan menjadi Vest The Rhino, istilah untuk duta lingkungan yang bekerjasama dengan Departemen Kehutanan untuk turut mengampanyekan pelestarian Badak Jawa.

“Di luar negeri hal seperti itu sudah sering terjadi. Misalnya bekerjasama dengan WWF. Jadi itu dia kenapa kita nggak bikin semacam even yang sama,” sambung Lulu. (ika)

 

Dari Urusan Pacar sampai Pekerjaan

            Keberadaan Xtra-L Be Community sendiri di Jakarta ternyata cukup menguntungkan bagi para wanita khususnya yang bertubuh besar. Di ajang kumpul-kumpul yang sering mereka laksanakan setiap bulannya, para anggota dari perkumpulan tersebut bisa mendapatkan berbagai macam informasi.

            “Banyak yang tertarik dan akhirnya ikutan. Di situ kita memang bisa saling ngobrol dan berbagi tips. Mulai dari gimana cara mencari pacar, urusan pekerjaan, di mana bisa mencari butik yang koleksi bajunya untuk orang-orang bertubuh besar, sampai bagaimana cara memakai baju biar kita bisa tetap terlihat cantik,” cetus Ririe.

            Ia sendiri akhirnya bisa membuktikan, bahwasanya meski bertubuh besar, seorang wanita tetap bisa terlihat cantik dan bahkan bisa juga menjadi model untuk tampil di majalah ternama. “Aku mau matahun kalau wanita cantik itu nggak berarti harus langsing dan putih,” tegas Ririe.

            Ia mengaku, perkumpulan tersebut memang menghasilkan manfaat. Antara lain membentuk para anggotanya menjadi lebih pe-de, banyak teman, tahu cara berpakaian yang sesuai dengan bentuk tubuh, sampai informasi di mana ada tempat makanan yang enak!

            “Tapi komunitas ini bukan lantas diadakan untuk kita tetap terus gemuk kok. Kita juga bagi-bagi tips diet. Intinya kalaupun kita big, tapi tetap sehat, be healthy. Kita juga sering sharing dan supporting ke anggota misalnya untuk mereka yang mengeluh nggak punya-punya pacar,” cerita Ririe.

            Selain mengadakan perkumpulan, Ririe, Lulu, dan beberapa rekan mereka juga membuat sebuah butik khusus untuk wanita bertubuh besar. Sayangnya untuk sementara ini, Lulu, Ririe, dan beberapa teman yang mengurusi butik tersebut memilih untuk konsentrasi terlebih dahulu pada kegiatan Miss Big Indonesia yang mereka cetuskan. (ika)




Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,762 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan