Bintang Mana yang Ingin Kau Gapai

Standard

Seumur-umur, saya kurang percaya sama yang namanya kata pepatah. Misalnya nih, pepatah yang berbunyi gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kalau dulu pas sekolah, kata-kata seperti itu cuma ada sebagai hapalan pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Tapi itu dulu, dan minggu lalu saya baru tersadar jika itu ada benarnya. Ceritanya, seorang teman dari Malang yang dulu satu kampus dengan saya dan sama-sama aktiv di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) meski tidak satu organisasi main ke tempat saya di Batam. Bisa ditebak, acara reuni dan saling berbagi cerita mengingat kisah perjalanan kami dengan teman-teman yang dulu itulah yang banyak jadi bahan pembicaraan kami.

Nama teman saya itu Beni. Tidak hanya dengannya, kami pun akhirnya bertemu dengan seorang teman lagi yang sama-sama seorang aktivis kampus. Namanya Dodi, ia pun seperti saya juga akhirnya bekerja di Batam saat ini. Jadi berkumpullah kami bertiga, saya yang dulunya aktiv di pers kampus, Beni yang aktiv di fotografi, dan Dodi yang dulunya aktiv di pecinta alam.

Setelah selesai bernostalgia, kami pun kemudian menceritakan masing-masing apa yang sedang kami alami saat sekarang ini. Saya yang sekarang bekerja di sebuah media harian di Batam, Beni yang baru saja mem-PHK-kan dri dari sebuah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi bangunan dan kini belum terikat pada sebuah pekerjaan tertentu, dan Dodi yang bekerja di sebuah perusahaan yang sesuai dengan bidang kuliahnya dulu, mesin.

“Wah, sepertinya kalau mendengar cerita dari kalian, pada keturutan lah ya cita-citanya dulu?”celutuk Dodi pada akhirnya.

Saya pun tercenung mencoba mengingat. Memang, sejak kecil saya bercita-cita untuk bisa keluar dari pulau Jawa, ingin bekerja di tempat yang bebas aturan baju serta jam kerjanya, bisa jalan-jalan kemana-mana, dan semua itu memang saya alami sekarang.

Demikian pula dengan Beni. Ia berujar, menurutnya dulu ia memang bercita-cita bisa keliling Indonesia. Hal itu telah ia capai. Pun ketika ia bercita-cita bisa bekerja di sebuah perusahaan BUMN, itu juga sudah dia capai meski akhirnya ia memutuskan bahwa dunia tersebut justru diinginkannya untuk saat ini.

“Lha, terus kamu dulu sendiri memang cita-citanya apa Dod?” tanya Beni.

Pria yang duduk di depan saya itu malah tersenyum dengan ekspres, kalau bisa saya simpulkan, ia menyesal. “Aku dulu tuh cuman cita-cita bisa kerja cari makan saja,” jawabnya masih dengan senyum menertawakan diri sendiri.

Kami sama-sama terdiam. Saya kembali mencoba merenung mengingat kembali, adakah mimpi saya yang masih tersimpan dan belum terwujud? Atau adakah mimpi saya yang lainnya yang telah tercapai tanpa saya sadari?

Tiba-tiba saya justru tersenyum sembari memandang Beni sahabat saya. Setahun yang lalu ketika saya pulang ke Malang dan berkumpul dengannya termasuk dengan teman-teman saya yang lain di sebuah kedai, ia pernah berujar, “Nek, gue ntar ke tempat lo ya. Nemenin lo liputan deh jadi ojek lo nggak pa pa,” itu kata-kata becanda yang pernah terlontar darinya.

Dan minggu lalu, Beni kawan saya itu pun benar-benar menjadi ojek saya selama liputan. Ternyata jangankan sebuah cita-cita, sebuah ujaran celutukan saja yang sempat terlontar bisa menjadi sebuah kenyataan. Entah meski itu kebetulan ataukah mimpi sugesti yang tanpa kita sadari sedang berusaha kita wujudkan sendiri.

Saya pun jadi teringat dengan cerita seorang teman saya yang lain. Berkali-kali ia selalu mengungkapkan keinginannya untuk memiliki sebuah mobil mewah dalam setiap kali ia melewati sebuah pameran mobil mewah di Batam.

Jika dipikir sekarang, rasanya memang tidak mungkin jika melihat kondisinya yang hanya seorang fotografer di sebuah media. Tapi saya baru sadar, itulah mimpinya, keinginannya, yang entah kapan, pasti ia akan bisa mewujukannya.

Jadi, apa mimpi Anda? Bintang mana yang ingin Anda pilih untuk Anda gantungkan sebagai tempat cantolan mimpi?