Membimbing Anak Memilih Jurusan

Standard

Perlunya Bimbingan dalam Penjurusan Anak

            Setiap siswa yang duduk di bangku SMA nantinya pasti akan menghadapi penjurusan sesuai dengan yang ada di sekolahnya masing-masing. Pemilihan jurusan ini pun dalam pelaksanaannya ditetapkan oleh berbagai pihak. Ada yang ditetapkan oleh pihak sekolah, ada yang oleh anak yang bersangkutan, ataupun dari pihak orang tua sendiri yang meminta kepada pihak sekolah.

            Pihak sekolah biasanya menetapkan jurusan berdasarkan nilai yang diperoleh setiap siswa dari mata pelajaran yang diberikan. Siswa sendiri biasanya menentukan jurusan yang diingini bisa berdasarkan kemauan sendiri, kecenderungan pemilihan dari teman-teman dekat, ataupun arahan dari orang tua atau keluarga. Sedangkan pihak orang tua biasanya berdasarkan dari pengalaman orang tua, pekerjaan orang tua, atau gengsi maupun trend yang sedang terjadi.

            “Akibat yang bisa muncul adalah siswa ditempatkan pada jurusan yang belum tentu ia minati, belum tentu ia memiliki potensi di sana, ataupun ketidaktahuan dan keterpaksaan untuk menjalankannya,” ujar Rostina Tonggo Morito, psikolog yang saat ini bekerja sebagai HR Consultant dan Praktisi di PT Tunaskarya Indoswasta.

            Tidak jarang, penjurusan siswa pun didasarkan pada nilai serta bakat dan minat anak. Hingga muncullah beberapa pertanyaan seperti apakah nilai yang tinggi menunjukkan minat yang tinggi pula dari seseorang? Apakah kemampun seorang siswa dalam mengikuti dan memperoleh hasil yang baik dalam sebuah jurusan menunjukkan bakat dari siswa tersebut?

Atau sebaliknya, apakah nilai yang jelek berarti dia tidak memiliki potensi untuk bidang tersebut? Apakah saat siswa tidak memilih berdasarkan kebanyakan pilihan orang, siswa tersebut menjadi aneh? Apakah pilihan orang lain adalah yang paling tepat atau menjadi paling tidak tepat bagi seseorang? Siapakah yang akan menanggung kegagalan yang akan ditemui di kemudian hari? Siapakah yang akan senang dengan keberhasilan kelak? Siapakah yang paling menikmati hasil dari pilihan-pilihan tersebut?

            “Segudang pertanyaan akan muncul pada saat satu pihak tidak setuju dengan keputusan dari pihak lain. Adu argumen dan kepentingan akan saling terlontar dari pihak-pihak yang terkait. Namun harus diingat, bahwa akhir dari semuanya adalah konsekuensi itu terkait erat dengan siswa yang menjalaninya,” papar Rostina.

Ketidaksesuaian, keterpaksaan, ketidakpahaman akan jurusan menurutnya dapat berdampak negatif pada anak. Rasa apatis, kegagalan, tidak memiliki arah dan tujuan menjadi contoh dari akibat yang dapat muncul sebagai reaksi dari anak.

            Apalagi, pada masa SMA, siswa dikategorikan dalam usia remaja. Di usia tersebut, ia akan mengalami banyak gejolak baik yang terjadi di dalam dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya seperti orang tua ataupun teman.

“Masa-masa ini menjadi masa yang kurang menyenangkan karena harus melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai hal. Yang berarti, itu akan menuntut energi dan usaha yang tinggi,” ujar Rostina.

Oleh karena itu pada masa ini, remaja perlu diberikan bimbangan dan pengetahuan untuk dapat melewati masa ini dengan baik. Jika remaja dapat sukses melewati masa ini sesuai dengan kemampuan dan kondisi remaja, maka saat-saat tersebut dapat memberikan dampak positif baginya di masa depan. (ika)

 

Anak Butuh Arahan Orangtua

            Bimbingan dan pengetahuan yang diberikan pada remaja tersebut menurut Rostina yang juga Wakil Ketua Himpunan Psikolog (Himpsi) Wilayah Kepri, harus diberikan oleh figur ‘orang tua’ baik itu di rumah, guru, atau pihak lain yang ‘dituakan’. Dengan demikian ini berarti ‘orang tua’ juga harus memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup luas untuk dapat membimbing remaja.

“Dan dalam membimbing satu hal yang perlu dan harus dipahami ‘orang tua’ adalah bahwa remaja masih labil, memiliki keinginan, minat sendiri, memiliki kemampuan yang berbeda dari teman, saudara, atau keluarga,” lanjutnya yang juga mengingatkan bahwasanya tiap individu adalah berbeda.

Dengan memaksakan cara berpikir ‘orang tua’, memaksakan pilihan dan kehendak ‘orang tua’ tanpa memberikan pengertian, arahan, dan komunikasi yang tepat bagi remaja merupakan awal dari sebuah ketidakmengertian yang kurang dapat diterima oleh remaja.

Reaksi yang muncul pun akan beragam. Bisa berbentuk patuh tanpa perlawanan yang sesuai dengan budaya timur, anak harus patuh pada ‘orang tua’. Ada juga bentuk reaksi anak seperti memberontak, mengikuti tanpa rasa tanggung jawab, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu untuk mencapai hasil yang optimal saran Rostina, diperlukan kerjasama yang baik dari pihak orang tua, pihak sekolah dan remaja sendiri. “Orang tua bertanggung jawab untuk mengarahkan dan memberikan pengertian kepada remaja. Sekolah atau guru bertanggung jawab mencermati perkembangan studi dan minat remaja. Remaja sendiri bertanggung jawab untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya sehingga dapat mengenal dan mengetahui potensi dan minat yang ada dalam dirinya.”

Dalam hal ini yang dimaksudkan Rostina adalah, remaja diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan hasil yang optimal. (ika)

 

Berikan Gambaran Tentang Profesi

            Pemahaman mengenai jurusan, pandangan tentang dunia kerja, gambaran dan pengertian tentang profesi atau jenis-jenis pekerjaan sebaiknya juga diberikan kepada para remaja.

“Mengusahakan agar terjadi keselarasan antara potensi-bakat-minat dengan jurusan yang akan dipilih, baik mulai dari bangku SMU sampai di perguruan tinggi, dan cita-cita di masa depan menjadi pekerjaan rumah semua pihak,” tegas Rostina.

 Adalah baik apabila guru memberikan pengertian tentang apa itu jurusan studi, hal-hal yang terkait dengan suatu jurusan studi, seperti kemampuan yang dituntut dalam jurusan studi tersebut, arah pekerjaan dari studi tersebut, dan sebagainya.

Orang tua juga hendaknya memberikan gambaran tentang dunia kerja dan bidang-bidang pekerjaan yang mereka ketahui. Adalah sangat baik apabila remaja itu sendiri berusaha mencari tahu tentang jurusan studi, bidang-bidang pekerjaan dan mengetahui bakat-minatnya sendiri.

“Dan adalah sangat baik apabila setiap pihak melakukan diskusi bersama dengan dasar untuk saling mengerti dan memahami, sehingga terjadi penerimaan terhadap keberadaan dan kemampuan pihak lain untuk dapat menghasilkan informasi yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan remaja tersebut,” saran Rostina.

 

Telusuri Bakat Minat Lewat Tes Psikolog

            Setelah memberikan informasi tentang profesi yang bisa digeluti remaja di kemudian hari, langkah selanjutnya adalah mengarahkan anak kepada jurusan yang hendak ditekuninya. Caranya, tentu dengan mengarahkan mereka sesuai dengan potensinya.

Mungkin kemudian muncul pertanyaan dari ke-3 pihak tersebut, bagaimana dapat mengetahui potensi, bakat-minat ataupun hal-hal lain yang sesuai dengan remaja tersebut? Apakah hobby-nya dapat dijadikan sebuah acuan? Apakah cita-citanya bisa dijadikan dasar untuk pemilihan jurusannya? Apakah keterampilan ataupun kemampuannya yang menonjol dapat menjadi pegangan? Lalu bagaimana mengukur dan mengetahui dengan lebih akurat pontesi-bakat-minat seseorang tersebut? Apakah bisa dilakukan dengan kasat mata atau observasi saja?

Penelusuran untuk mengetahui potensi, bakat dan minat dalam diri seseorang dapat diketahui melalui tes psikologi. Banyak jenis tes psikologi yang dapat diberikan pada saat kita datang meminta bantuan tenaga profesional yaitu psikolog. Dari hasil tes psikologi dapat diperoleh gambaran kemampuan kecerdasan, bakat dan minat yang terbesar dari seseorang.

“Hal ini berbicara tentang prediksi bukan ramalan di masa yang akan datang. Bagaimana keakuratannya? Setiap tes psikologi sebelum diterapkan dan digunakan telah melalui serangkaian tes yang harus berakhir pada reliabilitas yang tinggi dan juga validitas atau kesahihan yang juga tinggi serta dapat diterapkan pada siapa saja dan kapan saja,” jelas Rostina.

Dengan demikian hasilnya akan akurat dan dapat dipercaya. Karena ini adalah tes psikologi, menurut Rostina, maka hanya psikolog saja yang kompeten dan dapat menggunakannya untuk kemudian menghasilkan sebuah interprestasi dari hasil pemeriksaan tersebut.

Tapi dengan catatan dari Rostina, para orang tua atau sekolah juga harus hati-hati dengan banyaknya penawaran tes bakat-minat yang tidak dilakukan oleh pihak yang kompeten.

Dengan bantuan tenaga profesional psikolog tersebut, maka dapat diperoleh gambaran tentang potensi, bakat-minat, kekuatan maupun kelemahan dari seorang remaja atau siswa. Dari hasil pemeriksaan tes psikologi ini juga akan dapat didiskusikan baik kepada remaja yang bersangkutan, orang tua, maupun guru untuk memilih jurusan studi yang paling sesuai dengan kemampuan dan keadaan remaja tersebut.

Pendidikan masa depan remaja pun dapat diarahkan pada pendidikan yang lebih sesuai dan tepat dengan bakat dan minatnya. “Dan ini akan menghemat antara lain dari segi waktu dan biaya karena dapat meminimalkan kemungkinan drop out dari sekolah. Anak pun tidak perlu melakukan pindah jurusan yang berdampak pada waktu dan biaya sekolah jurusan yang baru. Ataupun, menekan munculnya tingkat orang yang bingung dengan pendidikan di SMU, kuliah, dan dengan pekerjaan tidak bersesuaian,” jelas Rostina. (ika)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s