Berkarir Di Luar Negeri (lanjutan)

Standard

Harus Open Minded

Menurut Herman yang saat ini berprofesi sebagai trend forecaster di sebuah perusahaan retail di New York Amerika Serikta, bekerja di luar negeri mungkin mudah bagi mereka yang sudah bekerja di perusahaan asing di Indonesia kemudian dikirim keluar negeri oleh perusahaan tersebut. Atau, bagi mereka yang studi atau kuliah terlebih dahulu di negara tersebut. Karena dari situlah mereka bisa kuliah sambil bekerja.

“Kadang mereka dapat tawaran kerja dan bisa mendapatkan sponsorship untuk greencard atau US permanent resident. Itupun kalau mereka dinilai memiliki skill dan pintar,” imbuh Herman.

            Menurutnya, hampir semua perusahaan di Amerika Serikat selalu mempertanyakan US experience buat warga negara asing yang mencari kerja. Bukan berarti sudah bekerja dengan perusahaan asing di Indonesia atau negaranya lantas kemudian bisa disebut US experience.

Setiap tahun terutama di kota kota besar di Amerika Serikat, banyak sekali mahasiswa yang baru menyelesaikan studinya dari mulai college degree sampai master atau bahkan lebih. Itu juga merupakan satu kendala buat warga negara asing pencari kerja yang mana mereka harus bersaing dengan anak muda yang mempunyai fresh idea.

“Perlu diingat sistem pendidikan di luar negeri jauh berbeda dengan di Indonesia yang mana di luar negeri, mahasiswanya dituntut banyak melakukan research dan assignment atau project,” Herman mengingatkan.

Faktor lain yang bisa jadi menjadi kendala adalah bahasa. Untuk budaya sendiri sebenarnya tidak terlalu susah menurutnya asalkan siapapun itu harus bisa open minded. “Meskipun seringkali saya temui hal-hal yang buat saya janggal baik itu di lingkungan kerja atau di luar,” imbuhnya. (ika)

 

Bekerja Harus Lebih Berprestasi

            Sembilan tahun sudah Herman tinggal di New York. Ia pun menceritakan betapa berliku-likunya usaha yang harus diraihnya untuk bisa mengenyam kondisi seperti yang diperolehnya saat ini.

            Sebelumnya ketika ia bekerja di Indonesia, Herman memang sudah terbiasa dikirim oleh perusahaannya untuk bertugas di luar negeri. Suatu ketika, ia kembali dikirim dinas luar negeri ke New York. Dan di saat itulah ia memutuskan untuk tidak kembali.

“Buat imigran atau warga negara asing sebenarnya sulit untuk cari kerja di satu negara lain terutama di Amerika Serikat,” demikian ujar Herman yang mengakui, keputusannya tersebut adalah kurang lebih merupakan modal nekad.

Tidak langsung dalam posisi enak, Herman memang harus mencoba bekerja serabutan selama kurang lebih setahun lamanya. Mulai dari mencoba bekerja di restoran, toko kain, hingga delivery guy di sebuah cafe.

“Kemudian, saya mencoba memberanikan diri menghubungi salah satu konsultan yang pernah bekerja dengan perusahaan yang saya dulu pernah bekerja di Jakarta. Saat itu mereka memang tidak ada lowongan. Tapi saya meninggalkan nomer telepon,” ceritanya.

Beberapa bulan kemudian mereka menghubunginya dan ia pun dapat posisi part time. Herman harus bekerja tiga hari seminggu setiap datang dalam hanya tiga jam, dibayar cash, dan di bawah standard gaji.

“Menurut peraturan pemerintah baik state atau federal, hal tadi adalah ilegal. Tapi mereka berani menanggung resiko. Karena saya harus membayar apartemen dan menanggung biaya hidup pribadi tidak cukup hanya bekerja sembilan jam seminggu, saya harus bekerja lagi di dua restoran dan belajar bahasa Inggris setiap hari,” itulah yang dilakukan oleh Herman.

            Setelah tiga bulan bekerja di konsultan tersebut, saya bisa diangkat sebagai full-timer. Hingga tiga tahun, ia lalu memberanikan diri untuk mengajukan propose sponsorship. Ternyata dikabulkan karena menurut perusahaan tempatnya bekerja, cara kerja, talent, skill, dan kepandaian yang Herman miliki melebihi batas pegawai lainnya atau artinya warga negara Amerika sendiri.

“Lima tahun menunggu greencard dan masih bekerja di tempat yang sama meskipun sebenarnya saya sendiri sudah jenuh. Dengan perasaan sabar dan nasihat dari pengacara, saya masih bertahan sampai saya mendapat apa yang saya ingini yaitu sepotong kartu yang mengizinkan saya tinggal di sana secara legal,” cetusnya.

            Setahun setelah mendapatkan greencard, Herman pun mencoba untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Akhirnya, ia mendapat referensi dari teman di sebuah perusahaan retail atau departemen store, salah satu departemen store terbesar di Amerika Serikat.

“Dengan bekal pengalaman selama tujuh tahun saya akhirnya bisa mendapat posisi yang saya idam-idamkan dari dulu. Tentu dengan pendapatan lebih dari ekspektasi saya. Belum setahun saya bekerja di perusahaan baru, saya sudah dipercayai oleh direktur divisi saya dengan persetujuan manajer saya untuk membuat satu konsep dan satu trend story setiap musim. Yang mana konsep tadi, akan dipergunakan oleh buyer atau merchandiser untuk guidance mereka membeli barang,” jelas pria yang bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki 150 toko tersebar di Amerika Serikat.

            Uniknya, Herman justru menyarankan hal yang bertentangan dengan apa yang dilakukannya kepada mereka yang ingin mengikuti jejaknya. “Dari pengalaman pribadi, sering saya menasehati teman-teman yang ingin pindah keluar negeri. Kalau memang sudah bekerja dan punya karir di Indonesia, lebih baik tinggal di negara sendiri. Tinggal di luar negeri itu kedengarannya enak. Ya memang enak kalau sudah sukses. Tapi untuk merintis dari bawah tidak gampang.”

Tapi di antara tantangan yang dipaparkannya, Herman juga memberikan tips untuk mereka yang ingin berkarir di luar negeri. “Kalau memang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap di Indonesia. apa boleh buat. Asal ada temen di luar negeri yang mau bantu, modal nekad, dan sabar. Plus, kitanya pun harus bisa bekerja keras.”

Dan yang paling penting menurutnya adalah kemampuan untuk open minded tapi juga tidak culture-shock. Karena hidup di luar negeri banyak sekali yang tidak pernah kita lihat di negara kita terutama masalah hiburan dan gaya hidup orang barat atau western life-style. “Apalagi buat mereka yg berkeluarga dan membawa anak. Tidak gampang membesarkan anak di luar negeri, dr perbedaan budaya, dan sosial,” imbuh Herman. (ika)

 

Penghasilan Lebih Menggiurkan

            Apa yang terbersit dalam benak Anda ketika sebuah tantangan seperti ini ada di depan mata, berkarir di luar negeri. Penghasilan besar dan pengalaman baru seakan melambaikan tangannya kepada Anda.

            Namun untuk orang-orang yang optimis, hal-hal tersebut memang bisa saja terjadi. Sementara bagi mereka yang ragu atau merasa puas dengan kondisi yang sudah ada, jangankan bayangan tidak menyenangkan yang terbersit, berkarir di luar seakan tidak terbersit sama sekali.

            Banyak keuntungan sebetulnya yang ditangkap ketika seseorang memutuskan karir untuk pergi ke luar negeri. Tidak hanya pengalaman atau lingkungan baru, gaji yang lebih menggiurkan daripada di dalam negeri, akan tetapi tantangan serta peluang untuk mendapatkan referensi karir yang lebih baik bisa didapatkan.

            Sudah banyak cerita, untuk mereka yang memiliki referensi bekerja di luar negeri, sekembalinya ke tanah air, bisa mendapatkan kedudukan yang lebih mapan dan karir yang melejit.

            Ini dikarenakan pengalaman serta keahlian yang dikembangkan di negara lain tempat kita berkarir, diharapkan nantinya dapat ditularkan kepada SDM yang ada di tanah air. (ika)

 

Berkarir dengan Third Country Nationalist

Ada beberapa model kebijakan sebuah perusahaan yang memungkinkan seseorang bekerja tidak di negeri asalnya. Secara umum, staffing decision yang berkaitan dengan kebangsaan terbagi menjadi tiga, parent country nationalist, host country, dan third country nationalist.

Misalnya, jika perusahaan AS di Indonesia mempekerjakan orang AS di perusahaan mereka di Indonesia, berarti kebijakan yang diambil adalah memperkerjakan parent country nationals. Apabila perusahaan itu merekrut pekerja Indonesia untuk diperkerjakan di perusahaan mereka di Indonesia, maka keputusan tersebut adalah mempekerjakan host country nationals. Jika perusahaan tersebut memperkerjakan karyawan dari Filipina untuk bekerja di perusahaan mereka di Indonesia, maka keputusan ini merupakan third country nationals.

            Dan saat ini, beberapa warga negara Indonesia yang mencicipi karir di luar negeri banyak yang menempuh jalur third country nationals. Karena, sangan kecil kemungkinannya untuk bekerja di perusahaan Indoneseia yang beroperasi di negeri orang.

            Jika orang Indonesia bekerja di perusahaan global yang beroperasi di Indonesia, dan kemudian ditugaskan di luar negeri, hal ini nantinya akan tampak terasa mudah daripada memiliki inisiatif sendiri mencari pekerjaan di luar negeri. Karena, mereka yang dikirim ke luar negeri ini sudah mengenal budaya perusahaan dengan baik dan memudahkan untuk beradaptasi nantinya.

            Namun jika termasuk dalam kelompok berburu karir di luar negeri, tentunya persaingan dengan mereka yang berasal dari negara itu sendiri menjadi lebih berat. Namun jangan khawatir, ada beberapa hal yang bisa Anda pegang jika ingin berkarir di luar negeri.

            Yang pertama perlu Anda pegang dan diperhatikan adalah a            spek inti dari kompetensi yang menjadi nilai jual dari para pihak rekuritmen. Dan yang kemudian perlu dipegang adalah faktor personal diri kita sendiri yang dapat menunjang karir. Misalnya dukungan dari pihak keluarga Anda sendiri. (ika)

About these ads

3 thoughts on “Berkarir Di Luar Negeri (lanjutan)

  1. randi

    i’m really intresting
    n i have dream can work in there
    now i’m always looking job in internet
    maybe if you want help me get job there exactly in england
    i will really glade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s