UU Perlindungan Anak

Anak pun Punya UU Perlindungannya

            Tahukah Anda kalau anak Anda juga anak-anak di sekitar Anda, dilindungi oleh UU tentang Perlindungan Anak? Mungkin, siapapun Anda pernah mengetahuinya. Atau paling tidak pernah mendengarnya. Namun jika kita amati, sudahkah UU No 23 tahun 2002 tersebut dilaksanakan sepenuhnya. Jangan-jangan, Anda sendiri justru selama ini telah melanggar UU tersebut?!

            Imelda Yetti, pemerhati pendidikan yang juga menjadi pendidik di sekolah Charitas Batam, mengungkapkan, bahwasanya begitu banyak hak-hak anak yang kurang disadari keberadaannya bahkan oleh orangtua ataupun bahkan gurunya sendiri. Ia pun kemudian merangkum beberapa pasal yang menurutnya hingga kini kurang diperhatikan oleh mereka yang berusia dewasa.

            Misalnya dalam kata-kata ‘menimbang’ yang ada dalam UU tersebut, Imelda menegaskan beberapa poin yang dirasa perlu diperhatikan. “Anak merupakan kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan sehingga perlu diupayakan perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan anak,” ujarnya sedikit mengutip kata-kata ‘menimbang’ yang ada dalam UU tersebut.

            Sedangkan untuk beberapa pasal yang ada di dalamnya, ada beberapa pasal yang menurut Imelda dirasa penting untuk diperhatikan. Misalnya dalam pasal 1, yang dimaksud anak adalah sebetulnya mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan termasuk anak di dalam kandungan.

            “Jadi kalaupun anak tersebut melakukan tindakan kriminal, ia seharusnya dipisahkan tahanannya dari yang dewasa dan tidak boleh dicampur,” imbuhnya.

            Kemudian pasal berikutnya yang dirasa penting adalah pasal 7, dimana anak sebetulnya berhak untuk mengetahui orangtuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orangtuanya sendiri.

            “Makanya kalau ada perceraian atau hal-hal yang terjadi di antara orangtuanya, sebetulnya anak perlu tahu siapa orangtuanya dan atau diasuh oleh orangtuanya sendiri,” tegas Imelda.

            Pasal yang terkait dengan pasal ini adalah pasal 14 yang berbunyi, pemisahan anak demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir. Sayangnya ketika kasus perceraian saat ini banyak terjadi, orangtua jarang yang mengindahkan pasal ini. Anak pun tidak jelas dalam pengasuhan siapa. (ika)

 

Biarkan Anak Menjadi Anak

            Satu lagi yang saat ini begitu perlu diperhatikan adalah hak dan kewajiban anak dalam bermain dan belajar. Memang, dalam pasal 9 UU No 23 tahun 2002, setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kedewasaannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

            Namun seringkali, anak akhirnya harus banyak belajar dan kurang memiliki waktu bermain. “Memang, sekolah yang lama membuat anak lebih berkembang. tapi bukan berarti ia harus lama mengenyam pendidikan akademik. Itu tidak sama dengan pendidikan pengembangan diri lho,” tutur Imelda.

            Dalam pasal 11 sendiri disebutkan, bahwasanya setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi perkembangan diri.

            “Anak perlu juga bermain untuk kekritisannya. Jadi, biarkan anak menjadi anak. Kalau anak sekarang memang lain dengan saya dulu. Saya dulu bisa main dan tempat mainnya pun luas. Tapi sekarang susah,” aku Imelda. (ika)

 

Trauma Karena Dikerasi Orangtua

            Masalah kekerasan terhadap anak, tanpa disadari para orangtuanya sendiri, juga akhir-akhir ini banyak dialami oleh anak-anak. Mulai dari perlakukan kasar pada anak, sampai makian dalam marah yang tanpa disadari diterima oleh anak.

            Padahal, hal ini telah diatur dalam pasal 13 dan 16 UU no 23 tahun 2002. Misalnya, setiap anak selama dalam masa pengasuhan orangtua, wali, atau pihak lain manapun berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya.

            Sedangkan dalam pasal 16, setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Setiap anak juga berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. Sedangkan penangkapan, penahanan, tindakpidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.

            Jadi, berhati-hatilah kepada anak Anda. Bahkan jika pada saat dan cara yang tidak tepat, anak bisa mengalami trauma jika dikerasi oleh orangtuanya sendiri. (ika)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s