Ngegencet Adik Kelas

Standard

Tolong… Gue Digencet!

            Buat Youngsters, istilah gencet menggencet mungkin kita ketahui saat MOS. Biasanya nih, dilakukan sama kakak-kakak kelas yang nge-MOS kita. Tujuannya sebetulnya baik, untuk melatih mental kita biar nggak gampang cengeng.

            Tapi gencet-ngegencet ini ada batasannya lho. Apalagi kalau sampai di siang bolong yang udah lewat masa MOS-nya, eh, acara kayak beginian masih ada. Wah, harus diwaspadai tuh.

            Seperti kata Pak Syamsul Bahri, bagian kesiswaan SMK Ibnu Sina. Ada batasan yang harus dilakukan oleh kakak kelas saat melakukan MOS ke adik kelas yang notebene anak baru.

            “Tentunya itu tidak boleh menyangkut hak atau perasaan seseorang yang sampai menyingung perasaan,” ujar Pak Syamsul sambil mengumpamakan ada seorang anak yang mengeluarkan perkataan kotor atau mengatai dengan menyamakannya seperti nama seekor binatang.

            Selain dalam bentuk perkataan, ngegencet itu juga bisa dari segi fisik. Dalam MOS, dilarang banget tuh yang namanya sikap menampar, memukul, atau bahkan mendorong kepala seseorang dengan sengaja. “Sanksinya yang sebatas normal saja,” imbuh Pak Saymsul.

            Itu kalau pas MOS. Nah kalau hari-hari biasa nggak ada MOS dan perilaku seperti itu juga kok masih jalan, wah ini dia yang namanya udah ngegencet. Sasarannya bisa ke adik kelas, bisa juga ke kakak kelas.

            Di SMA Katolik Yos Sudarso yang punya julukan Smakys sendiri, cerita gencet menggencet ini sempat ada dan untungnya, sekarang udah aman-aman aja. “Ceritanya dulu sih waktu aku pas masih SMP kelas tiga. Aku dengar dari kakak kelasku. Katanya dulu masih ada senioritas kayak gitu,” ujar Glory Rosari Oyong yang pada periode tahun lalu menjabat sebagai ketua OSIS.

            Begini nih waktu itu ceritanya, “Misalnya ada adik kelas yang lewat terus dimintai apa gitu. Tapi dia nggak ngasih. Ya udah, lewat. Tapi ntar pas pulangnya tuh anak dihajar habis-habisan di kamar mandi,” tutur Glory yang ngerasa lega banget karena sekarang masalah kayak begituan udah nggak ada lagi. (ika)

 

Salah Kita Apa Sih…?

            Bingung juga kalau tahu-tahu ada teman atau kakak kelas yang ngedeketin dan terus main kasar ke kita. Masih agak mending kalau dimaki-maki. Tapi kalau sampai udah main fisik bahkan pelecehan seksual, hiy… Lho, salah kita apa sih?

            “Biasanya kalau ada yang sengak, sok belagu lah,” kata Adi Yudha Pratama, siswa kelas XII Smakys. Dia juga ngaku, kalau kadang anak yang culun suka juga jadi bahan sasaran. Tapi cuma sebatas di ucapan saja dan sebagai wujud keisengan.

            Sedangkan kalau di sekolah, Adi ngaku paling-paling ngusir anak-anak yang nempatin tempat nongkrong yang biasa dipakainya sama teman-temannya. “Tapi asal kita fair-fair aja, di sini ini nggak ada masalah kok,” tambahnya.

            Kalau di SMK Ibnu Sina yang kebanyakan punya murid cewek, kadar gencet-ngegencet ini paling-paling hanya masalah main di mulut saja. Nggak sampai pada permainan fisik.

            “Biasanya masalah eksyen atau gaya dari penampilan anak-anak saja. kadang ada juga yang ketahuan dari kotak saran, misalnya ada yang nggak suka sama gaya adik kelasnya, Pak tolong dong sama anak kelas itu. Kita nggak enak karena kakak kelas,” ujar Pak Symasul menirukan keluhan dari murid-muridnya yang kadang ia ketahui.

            Gencet ngegencet baik di kalangan cewek maupun cowok kebanyakan emang karena ada yang ngerasa nantang duluan. Misalnya kalau kayak kata Adi tadi cowok yang gayanya belagu, di cewek biasanya karena ada yang sok kecentilan atau kecantikan.

            “Kadang ada juga yang karena caper atau karena digosipin, itu yang kadang sering,” imbuh Glory.

            Nah, biar Youngsters nggak ngalamin kejadian kayak begitu, mending ikutin nih beberapa tips dari teman-teman kita. Misalnya dengan jangan nyari masalah duluan, hormat dan sopan sama kakak kelas.

            Tapi kalau sampai nggak ada hujan nggak ada angin terus kita digencet sama kakak kelas atau bahkan teman kita sendiri, tanyakan, apa salah kita. Kalau memang kitanya yang salah, ya kita harus minta maaf dan janji buat memperbaiki kesalahan kita.

            Tapi kalau kitanya yang nggak salah, terus acara gencet ngegencet ini kok mash terus kita alami, mending aduin saja ke guru BP. Seperti cara yang dipakai sama Kelvin Sumito K, siswa kelas X Smakys.

Dia akhirnya mutusin untuk ngadu ke wali kelas dari cewek yang ngegencet Kelvin. Akhirnya, sejak itu Kelvin pun nggak digencetin lagi dan malahan, cewek yang ngegencet dirinya justru jadi temen. (ika)

 

Pengarahan Sebelum Masuk Kelas

            Beruntungnya teman-teman kita yang sekolah di SMK Ibnu Sina. Karena, kasus gencet menggencet ini terhitung langka. “Rata-rata kasusnya malah muncul dari satu gank dan bukan antar gank. Paling-paling karena masalah ceweknya yang direbut temannya sendiri atau saingan ngedapetin cewek,” ujar Pak Syamsul Bahsri, bagian kesiswaan yang biasanya menangani masalah pada siswa.

            Sedangkan kalau di kalangan cewek, biasanya sih perang antar mulut sampai memaki-maki gitu. Nah kalau yang ini, biasanya timbul karena gap cara berpakaian atau karena tingkah polah yang dirasa menyebalkan. Kalau ada masalah kayak begini ini, Pak Syamsul akan memanggil mereka yang kedua-duanya dan kemudian diberi penjelasan secara persuasif.

            “Malahan kalau sudah saling mengerti dan berbaikan, mereka jadi saling akrab kok,” imbuh Pak Syamsul.

            Untuk menghindari adanya kesenjangan antar siswa yang sampai memunculkan gencet menggencet, makanya dalam upacara setiap Senin misalnya, dikasih pengarahan tentang etika, cara berpakaian, atau cara beradaptasi.

Selain itu, para guru di sekolah ini juga ditekankan untuk memberikan pengarahan sebelum dan setelah pelajaran sekolah. Setidaknya tiga sampai lima menit. Jadi nggak langsung pelajaran tapi ada pengarahan tentang etika menjadi siswa yang baik. Maksudnya sebagai antisipasi sebelum kasus gencet menggencet ini jadi banyak di kalangan siswa. (ika)

 

Dasarnya dari Bully

            Bully, ini bukan salah ketik nama lho. Kata Bully ini ditujukan sebagai istilah untuk orang yang melakukan penindasan terhadap orang lain. Nah, yang namanya gencet menggencet teman atau adik kelas ini dasarnya ya dari bully.

“Bully merupakan suatu prilaku ancaman, baik fisik maupun verbal terhadap seorang anak oleh anak lain dengan tujuan memperoleh kepuasan. Pelaku bully biasanya sangat puas melihat orang lain menjadi gelisah. Bahkan jika korban memandang bermusuhan dari si korban. Anak yang menjadi korban disebut dengan istilah bully boy, bila laki-laki, dan bully girl bila perempuan. Pada anak, Bully biasanya baru muncul pada usia sekolah,” terang Bu Melly Puspitasari, psikolog Awal Bros.

Bully biasanya berlangsung sampai bertahun-tahun lho. Akibatnya pun jadi bisa mempengaruhi korban. Gejala yang timbul antara lain depresi, rendah diri, reaksi paranoid seperti curiga tanpa alasan, cemas, obsesi misalnya muncul pikiran-pikiran yang tidak masuk akal secara terus menerus, sampai agresi hingga bunuh diri.

Pelaku bully ini adalah berasal dari anak-anak yang tidak punya rasa takut atau perasaan takutnya rendah sekali. Sedangkan korbannya adalah anak-anak yang tidak dapat melawan ketika diancam atau diperas.

Seringkali kita hanya mengamati adanya motif agresi di balik bully. Sebetulnya bully tidak hanya didasari oleh rasa permusuhan, tetapi juga kecemasan dan perasaan inferior. Lewat tingkah laku jagoan, ia inginnya sih berusaha mengatrol harga dirinya.

“Melalui Bully, anak juga bisa mengalihkan rasa dendamnya terhadap orang lain yaitu kepada korban. Dan dari hasil studi didapatkan bahwa perilaku Bully umumnya anak yang dahulu pernah diperlakukan sama seperti yang ia lakukan sekarang terhadap korbannya,” tambah Bu Melly. Yah, jadi istilahnya proses belajar dan balas dendam gitu. (ika)

 

Tips kalau Youngsters digencet:

-Tanyakan baik-baik, apa kesalahan yang telah membuatnya kesal pada kita

-Kalau memang kita yang salah, coba minta maaf dan berjanji akan memperbaiki kesalahan kita

-Bila ternyata kita tidak bersalah dan ia terus menerus menggencet kita, laporkan saja kepada guru

-Jangan menyimpan dendam kepada orang yang telah menggencet kita

-Termasuk, jangan juga membalaskan dendam perbuatan menggencet tersebut kepada orang lain, misalnya adik kelas kita

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s