Oleh: Ika Maya Susanti
<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>
“Rambut… Wajah… Baju…” Faya seakan-akan menghapal apa saja yang perlu dicek dari penampilannya sebelum berangkat. Tubuhnya pun tak henti-hentinya
dibolak-balikannya sampai dirasa tak ada lagi yang salah dalam penampilannya.
“Oke.. sekarang siap deh ke sekolah!” ujarnya mantap sembari tersenyum puas. Dengan gaya bak korean girl, bibir membentuk huruf U dan tangan membentuk huruf V di samping bibir, Faya mengakhiri sesi narsisnya.
Sambil bersenandung Faya mendekati Fafa saudara kembarnya yang sebetulnya… tidak ada kemiripan sama sekali. “Udah non ajang foto modelnya? Udah siap nih berangkat ke sekolah?” berondong Fafa dengan tampang seolah-olah menahan ingin menerkam Faya. Gas mobil dan klakson pun sedari tadi sudah dibuatnya berisik agar Faya mau segera turun dan berangkat ke sekolah.
“Aduh Fafa, ini kan penampilan perdana kita di SMA dan di kota yang baru. Ya mesti harus oke dong penampilan Faya. Apa kata dunia coba kalau seorang Faya yang biasa terkenal cantik ini harus ke sekolah dengan…”
“Aduh… udah deh cerewetnya Nenek Bawel! Cepetan ah udah mau telat nih! Sok ber-apa kata dunia lagi kayak film Naga Bonar lagi?! Apa kata dunia coba kalau Faya yang cantik tapi ke sekolah baru dengan gaya telat! Nggak hanya sama kakak kelas yang tugas di MOS, guru pun bisa-bisa ngehukum kita tau!” Fafa menyindir saudara yang menyadarkan satu hal buat Faya.
“Iya, kamu benar Fa. Yuk kita berangkat sekarang ntar terlambat lagi. Gue juga nggak mau ah reputasi gue jadi jelek gara-gara terlambat,” ujar Faya yang membuat Fafa jadi salting dan keki.
“Ye… dari tadi juga gue tuh emangnya ngomong apaan sih?! Nyadar kok telat!”
Yup, hari itu memang hari pertama buat Faya dan Fafa di sekolah barunya. Karena Papa harus dipindahtugaskan di Singapura, sedangkan mama menemani papa di tempat tugasnya, Faya dan Fafa pun akhirnya harus tinggal di Batam. Alasannya, karena Faya yang nggak pe-de dengan kemampuan bahasa Inggrisnya.
“Hari gini nggak bisa bahasa Inggris gitu lho. Ih, malu-maluin banget! Gitu kok ngakunya mau jadi super girl yang bisa super segala-galanya. Oke deh super cantik, oke deh super kaya, oke deh supermodel, tapi kok juga super bloon ya?!” ledek Fafa yang membuat Faya mencak-mencak.
“Oke, lihat aja, pokoknya Faya cuman sekolah di Batam satu tahun doang. Habis itu nanti pas kelas dua, Faya minta ikut papa sama mama deh ke Singapur,” Faya nggak mau kalah.
“Iya, silakan aja. Dan pokoknya Fafa sekarang ini mau langsung ikut papa sama mama langsung ke Singapura ah. Males banget kalau cuma hidup sama nenek lampir ini doang!”
“Ih kok… Papa…,” Faya mulai merengek mengeluarkan jurus andalannya.
“Eh eh… kalian ini kenapa sih selalu nggak bisa akur! Punya anak kembar tapi kok nggak ada kembarnya sama sekali. Mana sering berantem lagi. Udah deh, pokoknya begini sekarang, Fafa tetap nemenin Faya di Batam satu tahun ini,” ujar mama dengan suara histeris dan langsung pergi. Biasanya cara seperti itu akan dipilih mama mereka kalau sudah kewalahan menghadapi ulah kedua anaknya tersebut.
“Tapi Pa…” ganti Fafa yang minta keadilan.
“Fa, kamu jaga adikmu di Batam ya. Biar Faya lancar bahasa Inggrisnya, nanti kalian sekolah di sekolah international school aja. Terus setiap minggu, kalian pergi deh ke Singapura ke tempat papa dan mama. Gimana?” akhirnya keputusan Papa itulah yang keluar dan membuat Faya tersenyum menang.
Dan kini, Fafa memang harus hidup mengalah demi adik kembarnya yang selain tidak punya kemiripan wajah, kelakuannya pun selalu bertentangan dengan Fafa. Jika Fafa punya ciri khas cuek, berbeda dengan Faya yang punya ciri khas centil dan terlalu peduli dengan penampilan. Hanya satu yang membuat keduanya bisa dibilang punya kesamaan, sama-sama cakep mesti tidak mirip seperti laiknya saudara kembar.
Dan seperti di sekolah sebelumnya, Faya dan Fafa di sekolah baru tempat mereka bersekolah sekarang menjadi pusat perhatian. Yang cewek berlomba-lomba menarik perhatian Fafa, yang cowok pun berlomba-lomba menarik simpati Fafa. Dan seperti juga di sekolah mereka sebelumnya sewaktu SMP di Bekasi, jika Fafa masih selalu acuh dan bersikap seperti biasanya, Faya justru sudah punya fans club yang terdiri para cowok yang naksir kepadanya. Beberapa cewek pun ada juga yang mencoba mendekati Faya dan mencoba menjadi teman dekatnya. Siapa sih yang nggak mau kecipratan tajir dan ngetopnya Faya.
“Ah… hari yang pertama yang menyenangkan seperti harapanku,” seru Faya kegirangan.
“Yeah, dan ini hari pertama yang menyebalkan seperti dugaanku. Udah harus ngadepin nenek bawel, eh masih harus ngadepin para cewek yang nggak kalah resenya!” keluh Fafa.
“Ayolah Fa, elo pasti akan menemukan seorang cewek yang menyenangkan kok. Yah, yang seperti diriku ini deh. Tadi gue punya dua teman cewek yang sepertinya oke juga tuh kalau jalan sama elo,” ocehan Faya justru membuat Fafa mencibir. “Cuman… tadi kata Vera dan Lala, ada seorang cewek nih yang kayaknya bakal jadi sainganku di sekolah. Denger-denger nih, anaknya selain cakep, baik hati, pintar, banyak prestasi, dan nggok sombong lagi. Halah, pramuka banget kan?! Tapi…hmm, jadi penasaran juga nih seperti apa sih orangnya ya?!” Faya sibuk mengoceh sambil mereka-reka. Sementara itu Fafa malah makin merutuki nasibnya yang semakin terasa kurang beruntung. Ah, seandainya betul ada cewek yang bisa bikin dirinya merasa betah di sekolah tersebut. Tapi yang jelas, tentunya ia sangat tidak berharap mendapat cewek yang tidak berbeda jauh dengan saudara kembarnya.
**
Hari demi hari akhirnya dilewati Faya dan Fafa di sekolah baru tersebut. Kedua saudara kembar ini pun makin hari makin disibukkan dengan pelajaran dan ekskul yang mereka ikuti. Dan suatu hari, sepertinya Fafa merasakan bahwa doanya seakan-akan segera terjawab ketika pada akhirnya ia tahu, ada seorang cewek yang benar-benar jadi idola di sekolah tersebut. Seorang cewek yang begitu sesuai dengan harapannya dan begitu jauh dari sosok bayangan saudara kembarnya, Faya. Semua itu terjadi ketika Faya dan Fafa terlibat dalam sebuah rapat persiapan pensi dengan para pengurus OSIS.
“Heah… belagu banget sih si Lintang itu! Baru jadi ketua OSIS baru aja aksinya udah sok kayak begitu!” sungut Faya.
“Apanya yang sok? Perasaan tuh anak emang oke kok aksinya. Bayangin aja, baru jadi ketua OSIS beberapa minggu aja dua udah berani unjuk aksi. Nggak OD alias omong doang. Nggak nyesel deh punya ketua OSIS kayak dia. Anaknya cantik, pinter, prestasinya banyak, ramah, hmm…. Ah, tuh anak mau nggak ya jadi pacar gue?” Fafa berangan-angan sendiri yang tapinya justru membuat Faya salting dan keki.
“Heh, lu oediphus complex apa ya? Tuh anak kan udah kelas dua! Sedangkan lu sendiri masih kelas satu. Nggak mungkin si Lintang itu naksir ama elo?! Lagian, gue juga nggak mau lagi punya ipar kayak dia, ogah!!!” cerocos Faya histeris.
“Eit, liat aja ntar ya. Pokoknya jangan panggil gue Fafa kalau nggak bisa ngedeketin Lintang,” tandas Fafa yakin.
“Ciiit….”
“Aduh gila lu! Kalo mabuk cinta ya mabuk aja sendiri nggak usah sampai kacau gini dong nyetirnya! Sini, gue aja yang nyetir,” gerutu Faya mencoba merebut kendali setir yang dipegang Fafa. Namun usaha Faya tidak digubris sama sekali oleh Fafa yang sedang tekun melongo ke arah depan.
“Lintang!” desis Fafa takjub yang membuat Faya mengikuti arah pandangan Fafa. “Oh, Tuhan… kenapa Lintang gue tabrak!” Fafa segera turun dari dalam mobil dan mendekati Lintang yang tersungkur di tengah jalan.
“Lu nggak papa kan Lin?” Fafa mencoba membantu Lintang berdiri yang untungnya hanya mengalami lecet.
“Oh, kamu Fa. Belok kok nggak pasang lampu sen sih,” protes Lintang sambil meringis menahan sakit.
“Eh, elonya aja kali Lin yang nyebrang nggak lihat-lihat,” Faya mencoba membela Fafa yang baru saja turun setelah meminggirkan mobil ke tepi jalan.
“Sori, sori, gue emang yang salah. Yuk Lin kita minggir dulu. Elo bener nggak papa kan?” Fafa masih khawatir.
“Yah, untung deh cuman lecet aja. Tadi jatuhnya juga karena kaget. Udah deh, gue jalan lagi, yuk…” Lintang mencoba kembali menyeberang jalan dengan langkah tertatih-tatih.
Faya mendekati Fafa yang bengong. “Jadi lu yang salah tuh tadi? Tega banget sih lu,” Faya yang terlanjur malu kemudian menyikut lengan Fafa.
“Iya, kita antar Lintang dulu yah,” Fafa meminta persetujuan Faya yang langsung mengangguk setuju. “Eh Lintang mau kemana? Tunggu…” Fafa mengejar Lintang yang sudah hampir sampai ke seberang jalan.
“Aduh, kan aku dah bilang kalau nggak papa. Yah… Udah deh, aku buru-buru nih, mau ke SMA 1 ngasih undangan pensi sekolah kita.”
“Lho, bukannya itu tugas Adrian yang rumahnya dekat sana? Lagian, elo mau naik apa ke sana? Kok jalan gini. Mau nyegat taksi? Sini deh, kita antar aja,” Fafa langsung menggandeng tangan Lintang yang akhirnya pasrah mengikuti langkah Fafa yang mengajaknya ke arah mobil.
“Fay, kita ke Sekupang dulu yuk nganter Lintang ke SMA 1. Daripada dia naik taksi. Nah elo sendiri tadi belum cerita, kenapa harus elo yang nganter dan bukannya si Adrian?” tanya Faya sambil melirik Lintang yang duduk di belakang.
“Kan targetnya besok semua undangan harus udah kesebar. Nah pas gue ngecek ke Santi bagian sekret, dia bilang kalau undangan buat SMA 1 belum dikasi. Mau minta anak lain, eh udah pada pulang semua. Ya udah deh sekalian biar aku aja yang ngasih. Lagian sekalian bantu ibu di sana.”
Faya yang sedari tadi diam karena kesal harus mengantar Lintang terlebih dulu akhirnya mulai kumat rasa penasarannya. “Ngebantu ibu? Emang ibu elo ngapain di sana?”
Lintang tersenyum geli. “Ya kerja lah. Ibu aku itu punya rumah makan di daerah Tiban. Yah, nggak besar sih. Tapi lumayan deh buat ngebantu ekonomi keluarga. Jangan dikira aku bisa sekolah di sekolah kita itu karena mampu. Kalau nggak karena beasiswa, mana bisa aku sekolah di sekolah kita itu. Jadi jalan satu-satunya ya aku harus bisa pintar biar dapat beasiswa di sekolah bagus. Lagian kalau di sekolah kita itu kan speaking english active, aku pengen banget bisa lancar cas cis cus ngomong bahasa Inggris,” Lintang bercerita dengan tersenyum ringan.
Faya dan Fafa langsung terdiam. Masing-masing berpikir, betapa beruntungnya mereka berdua yang bisa sekolah tanpa memikirkan biaya.
“Hehe, kalau begitu elo emang pintar banget dong ya Lin? Tapi sori nih, kenapa nggak ke SMA 1 aja yang terkenal juga sekolah favorit? Ko elo nggak minder?” tanya Faya yang kebingungan mencari bahan pembicaraan.
Fafa yang merasa bahwa ucapan dari Faya itu adalah pertanyaan bodoh langsung menyubit lengan Faya karena gemas. “Kira-kira kek kalau ngomong! Sori Lin, saudara kembar gue ini emang kadang-kadang kacau!” dengus Fafa.
“Hahaha, nggak papa… Ya awalnya iya lah Fay. Tapi kalau ngikutin minder mulu kapan aku bisa maju? Bapak aku tuh selalu bilang begini nih, jangan malu jadi orang meski kita nggak cantik dan meski kita nggak kaya. Tapi, kita tuh harusnya malu kalau kita nggak pintar dan nggak punya prestasi. Itu… kalau kata bapaknya Lintang.”
“Tuh, jangan kayak elo yang bisanya dandan melulu. Tahu nggak Lin, nih anak tuh katanya pengen jadi supergirl coba?!” ledek Fafa sambil mencibir saudara kembarnya yang cuma bisa melotot kesal.
“Eh, kan dikasi badan dan tubuh cantik itu harus dirawat. Kalau mau jadi supergirl kan harus cantik dulu. Lagian juga aku juga punya prestasi kok Lin. Mulai dari gelar Putri Matahari, Putri Kartini, Best Photogenik, terus…”
“Halah, prestasi gituan yang elo banggain!” Fafa menyetop ocehan Faya sambil mengarahkan tangan kirinya ke arah bibir saudara kembarnya.
“Aduh… kalian itu lucu-lucu banget sih!” Lintang tertawa terpingkal-pingkal. “Nggak papa kok Fa kalau prestasi Faya emang seperti itu. Aku ini juga sering kok ikutan lomba kayak begituan juga. Kan mumpung masih muda kita harus ngejar prestasi apapun. Wah, nanti aku boleh nggak belajar dari kamu Fay? Kan Faya udah kelasnya biasa jalan di catwalk di Jakarta.”
“Oh, boleh kok. Dengan senang hati… gue akan membagi ilmuku kok Lin,” kata Faya yang merasa tersanjung.
“Eit, stop. Aku turun sini deh. Ntar biar aku diantar sama adek aja ke SMA 1,” Lintang meminta Fafa meminggirkan mobilnya.
“Eh benar nih? Nggak papa?” ujar Fafa.
“Iya, makasih banget deh ya adek-adekku yang manis…” Lintang melambai dan kemudian berlalu meninggalkan Fafa dan Faya yang berada di dalam mobil.
“Ih, si Lintang anaknya asik juga ya. Salut dan terharu gue jadinya ngelihat perjuangannya,” gumam Faya.
“Benar-benar cewek idaman gue,” Fafa juga ikut-ikutan menggumam.
“Eh, elo nggak denger apa tadi dia manggil kita dengan sebutan adek? Jadi nggak mungkin deh kalau Lintang sampe ngelirik naksir ke elo!” ejek Faya.
“Eh bodo amat! Gua yakin kok bisa ngedeketin tuh anak!” ujar Fafa sengit.
“Iya, terus selama pacaran elo akan dipanggil dengan panggilan adek sebagai panggilan sayang, gitu? Hahaha…”
“Huh, elo tuh ya… Bilang aja kalau elonya udah ngerasa kalah dan ngerasa kalau Lintang itu lebih daripada elo, iya kan?”
“Eit, nggak dong. Buktinya dia…”
Dan seperti biasa, Faya dan Fafa pun sibuk bertengkar di dalam mobil hingga tak menyadari kehadiran seseorang yang melongo ke arah dalam mobil karena kebingungan. “Kok kalian masih di sini?”
Serentak Faya dan Fafa menoleh ke arah sumber suara, “Eh, Lintang…” ujar kedua anak kembar itu sambil meringis kaget.











0 Tanggapan ke “Super Girl”