
(foto Pak Camat yang paling pinggir sebelah kanan pakai kacamata)
Yang namanya kalau orang sudah memberi julukan, kadang memang jadinya aneh-aneh. Bisa jadi julukannya yang terdengar unik. Atau, bisa juga efek julukan itu sendiri yang berakhir jadi cerita-cerita lucu yang muncul di luar dugaan.
Seperti cerita teman saya, Pak Camat. Namanya saja julukan, tentu saja panggilan itu bukan karena dia betulan seorang camat lho. Nama aslinya sih sebetulnya Agus. Nah, dia bisa dapat julukan Pak Camat gara-gara sebuah kejadian yang berlangsung sewaktu aku, dia, dan beberapa teman menjadi wartawan baru angkatan pertama tempat kami bekerja sekarang.
Maklum, sebagai karyawan baru tentunya peraturan untuk harus berpakaian rapih dan resmi sangat kami ikuti dengan taat. Suatu hari ketika kami sudah bekerja di koran tersebut untuk beberapa hari, Agus temanku ini pergi ke kantor dengan mengenakan kemeja berwarna krem. Kemejanya sih biasa. Hanya saja model kemejanya memiliki dua kantong di bagian dada kanan dan kiri.
Udah begitu kalau ingin tahu seperti apa orangnya, seperti ini nih penggambarannya. Tampang temanku yang bernama Agus itu punya wajah serius yang sering tampil dengan kacamata berbingkai agak tebal berwarna hitam. Belum lagi gaya bicaranya yang seperti petinggi desa yang sedang berpidato. Klop sudah ciri-ciri pejabat langsung melekat di benak kami yang melihatnya hari itu. Kok kayak Pak Camat ya?!
Jadilah sejak itu ia dipanggil dengan nama Pak Camat. Yang namanya belum biasa, awal-awalnya sih kalau dipanggil dengan nama Pak Camat dia agak salting, alias salah tingkah. Tapi lama-lama dianya jadi biasa juga. Bahkan hingga hampir tiga tahun kami sekantor dan ia mendapatkan predikat tersebut, tidak ada satu pun teman di kantor yang memanggilnya dengan nama asli.
Anak-anak baru yang bekerja di kantor pun awalnya juga merasa aneh waktu tahu sosok si Agus ini harus dipanggil dengan nama Pak Camat. Pertama-tamanya tentu mereka akan bertanya dulu, kenapa ya kok sampai dipanggil dengan nama Pak Camat. Tapi karena sudah makin banyaknya anak baru dengan berbagai generasi yang kini bekerja di koran tempatku bekerja sekarang, akhirnya yang ditanya pun akan menggeleng juga waktu ditanya alasannya kenapa. Kecuali kami yang orang lama lah yang baru bisa bercerita kenapa kok ia sampai dipanggil dengan nama Pak Camat.
Ya, Pak Camat memang sekarang sudah terlalu sangat biasa dengan predikat yang disandangnya. Bayangkan, kalau sms dengan nomor lain saja, ia akan membubuhkan embel-embel nama Camat di akhir smsnya sebagai tanda pengenalnya. Misalnya seperti ini nih satu dari sekian sms yang pernah aku terima ketika dia menggunakan nomor orang lain yang dipinjamnya. “Ka, besok kumpul dikantor jam 9 ya. Ttd, camat.” Walah, siapa yang nggak bengong kalau habis nerima sms seperti itu.
Kalau ditanya cerita lucu yang sering terjadi karena julukannya itu, wah, jangan ditanya. Macam-macam dan memang selalu ada-ada saja cerita unik yang bikin kita ketawa waktu tahu atau mendengarnya.
Misalnya waktu kami baksos di sebuah pulau, sedang enak-enaknya bersantai, kami tiba-tiba teringat agar jangan sampai berteriak memanggil si Agus ini dengan nama Pak Camat.
“Eh iya, dulu pernah ada cerita lho waktu di pelabuhan. Ada cewek kawanku manggil aku dari jauh. Pak camat! Kencang lagi manggilnya. Whoah, orang-orang langsung pada noleh kaget begitu. Dipikirnya paling begini kali ya, waduh hebatnya, kok masih muda sudah jadi Pak Camat,” cerita Pak Camat eh Agus sambil mengingatkan kami.
Nah, yang paling lucu itu waktu kami sama-sama sedang meliput pilkada tingkat provinsi Kepulauan Riau. Jadi ceritanya waktu itu temanku yang bernama Aco sedang nge-pos liputan di sebuah balai desa di daerah Bengkong di Batam. Karena merasa sendirian dan bosan nggak ada teman, ia pun kegirangan waktu melihat Agus datang ke balai desa tersebut.
“Pak Camat!” Aco spontan berteriak ke arah Agus. Kontan saja orang-orang yang sedang mencoblos di balai desa itu langsung berdiri dan bersikap hormat karena kedatangan kunjungan pengawasan pilkada dari Pak Camat. Tapi setelah saling menoleh ke sana dan ke sini, sosok yang namanya Pak Camat kok tidak kunjung kelihatan ya.
Alhasil Aco yang sudah dekat posisinya dengan Agus kemudian mendapat sorotan mata tajam dari oleh orang-orang yang merasa tertipu di balai desa tersebut. Aco sendiri yang awalnya sempat nggak sadar waktu tahu tatapan menuduh dari orang-orang di balai desa tersebut jadi bertingkah serba salah.
“Oh, eh, maaf… maaf… ini cuma teman saya saja kok yang datang,” Aco berusaha mengakhiri tatapan kesal orang-orang di sekelilingnya.

(Nggak peduli, ‘bos’ pun ikut serbuan. Yang penting dapat dan kenyang. Eit, kalau ngambil satu-satu dong…!!!)










Komentar Terbaru