Arsip untuk Mei 20th, 2007

20
Mei
07

Pak Camat

Pak Camat dan anak-anak wartawan Tribun Batam rekrut Jogja

(foto Pak Camat yang paling pinggir sebelah kanan pakai kacamata)

Yang namanya kalau orang sudah memberi julukan, kadang memang jadinya aneh-aneh. Bisa jadi julukannya yang terdengar unik. Atau, bisa juga efek julukan itu sendiri yang berakhir jadi cerita-cerita lucu yang muncul di luar dugaan.

Seperti cerita teman saya, Pak Camat. Namanya saja julukan, tentu saja panggilan itu bukan karena dia betulan seorang camat lho. Nama aslinya sih sebetulnya Agus. Nah, dia bisa dapat julukan Pak Camat gara-gara sebuah kejadian yang berlangsung sewaktu aku, dia, dan beberapa teman menjadi wartawan baru angkatan pertama tempat kami bekerja sekarang.

Maklum, sebagai karyawan baru tentunya peraturan untuk harus berpakaian rapih dan resmi sangat kami ikuti dengan taat. Suatu hari ketika kami sudah bekerja di koran tersebut untuk beberapa hari, Agus temanku ini pergi ke kantor dengan mengenakan kemeja berwarna krem. Kemejanya sih biasa. Hanya saja model kemejanya memiliki dua kantong di bagian dada kanan dan kiri.

Udah begitu kalau ingin tahu seperti apa orangnya, seperti ini nih penggambarannya. Tampang temanku yang bernama Agus itu punya wajah serius yang sering tampil dengan kacamata berbingkai agak tebal berwarna hitam. Belum lagi gaya bicaranya yang seperti petinggi desa yang sedang berpidato. Klop sudah ciri-ciri pejabat langsung melekat di benak kami yang melihatnya hari itu. Kok kayak Pak Camat ya?!

Jadilah sejak itu ia dipanggil dengan nama Pak Camat. Yang namanya belum biasa, awal-awalnya sih kalau dipanggil dengan nama Pak Camat dia agak salting, alias salah tingkah. Tapi lama-lama dianya jadi biasa juga. Bahkan hingga hampir tiga tahun kami sekantor dan ia mendapatkan predikat tersebut, tidak ada satu pun teman di kantor yang memanggilnya dengan nama asli.

Anak-anak baru yang bekerja di kantor pun awalnya juga merasa aneh waktu tahu sosok si Agus ini harus dipanggil dengan nama Pak Camat. Pertama-tamanya tentu mereka akan bertanya dulu, kenapa ya kok sampai dipanggil dengan nama Pak Camat. Tapi karena sudah makin banyaknya anak baru dengan berbagai generasi yang kini bekerja di koran tempatku bekerja sekarang, akhirnya yang ditanya pun akan menggeleng juga waktu ditanya alasannya kenapa. Kecuali kami yang orang lama lah yang baru bisa bercerita kenapa kok ia sampai dipanggil dengan nama Pak Camat.

Ya, Pak Camat memang sekarang sudah terlalu sangat biasa dengan predikat yang disandangnya. Bayangkan, kalau sms dengan nomor lain saja, ia akan membubuhkan embel-embel nama Camat di akhir smsnya sebagai tanda pengenalnya. Misalnya seperti ini nih satu dari sekian sms yang pernah aku terima ketika dia menggunakan nomor orang lain yang dipinjamnya. “Ka, besok kumpul dikantor jam 9 ya. Ttd, camat.” Walah, siapa yang nggak bengong kalau habis nerima sms seperti itu.

Kalau ditanya cerita lucu yang sering terjadi karena julukannya itu, wah, jangan ditanya. Macam-macam dan memang selalu ada-ada saja cerita unik yang bikin kita ketawa waktu tahu atau mendengarnya.

Misalnya waktu kami baksos di sebuah pulau, sedang enak-enaknya bersantai, kami tiba-tiba teringat agar jangan sampai berteriak memanggil si Agus ini dengan nama Pak Camat.

“Eh iya, dulu pernah ada cerita lho waktu di pelabuhan. Ada cewek kawanku manggil aku dari jauh. Pak camat! Kencang lagi manggilnya. Whoah, orang-orang langsung pada noleh kaget begitu. Dipikirnya paling begini kali ya, waduh hebatnya, kok masih muda sudah jadi Pak Camat,” cerita Pak Camat eh Agus sambil mengingatkan kami.

Nah, yang paling lucu itu waktu kami sama-sama sedang meliput pilkada tingkat provinsi Kepulauan Riau. Jadi ceritanya waktu itu temanku yang bernama Aco sedang nge-pos liputan di sebuah balai desa di daerah Bengkong di Batam. Karena merasa sendirian dan bosan nggak ada teman, ia pun kegirangan waktu melihat Agus datang ke balai desa tersebut.

“Pak Camat!” Aco spontan berteriak ke arah Agus. Kontan saja orang-orang yang sedang mencoblos di balai desa itu langsung berdiri dan bersikap hormat karena kedatangan kunjungan pengawasan pilkada dari Pak Camat. Tapi setelah saling menoleh ke sana dan ke sini, sosok yang namanya Pak Camat kok tidak kunjung kelihatan ya.

Alhasil Aco yang sudah dekat posisinya dengan Agus kemudian mendapat sorotan mata tajam dari oleh orang-orang yang merasa tertipu di balai desa tersebut. Aco sendiri yang awalnya sempat nggak sadar waktu tahu tatapan menuduh dari orang-orang di balai desa tersebut jadi bertingkah serba salah.

“Oh, eh, maaf… maaf… ini cuma teman saya saja kok yang datang,” Aco berusaha mengakhiri tatapan kesal orang-orang di sekelilingnya.

20
Mei
07

Serbu

serbu1

(gorengan, the best food of serbuan at tribun batam. selain murah, juga cukup mengganjal perut yang sedang kelaparan)

 

 

 

‘bos’ pun ikutan serbuan(Nggak peduli, ‘bos’ pun ikut serbuan. Yang penting dapat dan kenyang. Eit, kalau ngambil satu-satu dong…!!!)

Beruntungnya bisa bekerja di koran. Sudah kerjanya nyantai kalau urusan waktu dan baju, antar teman kerja pun serasa seperti keluarga saja. Di kantorku misalnya. nggak ada deh istilah jaim alias jaga image atau sok formal-formalan meskipun itu urusannya sama bos sekalipun. Yah ada sih sedikit unsur sungkannya. Tapi masih dalam koridor sedikit hormat dan bukan prilaku yang bikin kita kaku.

Dan yang paling seru kalau urusan kekeluargaan di kantorku itu adalah yang namanya serbuan. Maksud dari aktivitas yang satu itu seperti ini nih… Kalau ada seseorang datang dengan membawa entah itu sebungkus atau sekotak makanan, kemudian meneriakkan kata ‘serbu’, wah, alhasil orang satu ruang redaksi tempatku bekerja yang bisa berjumlah 20-an lebih itu bisa langsung berlari secara beringas! Itulah yang dimaksud aktivitas serbuan.

Kalau diingat-ingat awalnya sih kebiasaan ini ada karena kebiasaan teman-teman wartawan dari koran grup kami di Makassar yang di bulan ketiga kami bekerja, mereka datang untuk ikutan bergabung dengan kami. Kalau ada yang punya makanan entah sedikit atau banyak, langsung deh kata serbu itu mereka teriakkan. Kalau sudah begitu mereka akan langsung comot tanpa mempedulikan apakah kami sudah menawarkan makanan terlebih dahulu atau tidak. Pokoknya nggak peduli banget deh!

Gara-gara itulah kebiasaan tersebut jadi mewabah di kantorku sampai sekarang. Yang paling sering menjadi barang serbuan di kantor kami adalah aneka jajanan gorengan. Enaknya lagi kalau gorengannya dalam keadaan hangat dan dibawanya itu pas kami lagi sibuk-sibuknya bekerja dan kecapekan habis meliput.

Wah, pokoknya bisa langsung semangat ’45 deh lari dan ikutan keroyokan kalau sampai ada yang bawa gorengan ke kantor. Nggak peduli mau wartawan, anak layout, sampai redaktur yang sudah bapak-bapak ibu-ibu sekalipun bisa langsung berjibaku untuk merebut makanan serbuan. Pokoknya nggak kalah heboh deh dengan acara Gerebeg Suro yang ada di Jogjakarta!

Yang paling kasihan itu kalau acara serbuannya dilakukan pas sore hari, pas karyawan bagian bisnis atau yang lainnya masih bekerja di lantai bawah. Sudah orangnya berjumlah 20-an, kompak lari bareng lagi di lantai atas. Ya udah deh, rasanya kayak gempa saja suaranya di lantai bawah.

Jadi kalau sampai punya makanan dan jumlahnya cuma sedikit, jangan sampai ada istilah ketahuan sama orang-orang di kantroku. Meskipun itu bentuk bawaannya berupa roti tawar berlapis mentega yang tujuan awalnya buat makan malam, tapi kalau sampai ada yang teriak serbuan, walah, bisa alamat nggak jadi makan malam lah!

Pernah juga nih ada cerita, ada seorang teman yang pulang ke kantor dengan membawa aneka macam makanan oleh-oleh dari liputan luar kota. Dengan ganasnya, otomatis orang-orang pun langsung menyerbu tanpa berpikir panjang.

Nah, karena si teman ini sampai ke kantor bersama narasumber yang mengajaknya liputan ke luar kota, tentunya ia hanya sempat meletakkan kardus makanan oleh-olehnya dan menemani sang narasumber terlebih dahulu. Ketika sang narasumber pulang, si teman ini pun celingukan mencari kardus miliknya.

“Waduh, padahal aku juga belum makan sama sekali tuh makanannya,” ujarnya kecut.

Tapi coba tebak apa komentar teman-temanku yang lain? “Ya salah sendiri!” jawaban sadis itulah yang justru diterimanya.

Paling malu itu kalau ada kunjungan ke kantor dari pejabat atau pengusaha atau siapa saja deh narasumber yang tergolong orang penting. Masa iya, belum sempat orangnya turun tangga, anak-anak sudah pada gedebukan menyerbu kue-kue yang ada di ruang rapat. Udah gitu pakai acara pakai teriak-teriak serbu lagi. Ampun deh!

Pernah juga ada kejadian lucu pas aku dan teman-teman serbuan donat yang dibawa oleh seorang teman anak wartawan juga. Siapa sih yang nggak mau donat merek terkenal? Mana rasanya enak dan aneka ragam lagi model serta rasanya. Karena di saat yang tepat ketika orang-orang sedang kelaparan, walhasil tuh donat langsung diserbu tanpa ba bi bu.

Pas kejadian itu, serbuannya terjadi di area ruang sekretaris redaksi yang kalau malam lampunya selalu dimatikan. Ceritanya, waktu itu ada seorang temanku yang sedang ikutan serbuan, tiba-tiba berteriak kesakitan. Ternyata, tangan si Ucu nama temanku itu ditarik dengan kuat oleh seorang anak lain yang sedang ‘khusyuk’ ikutan serbuan.

Waktu masing-masing sudah memegang hasil buruannya, Anwar, temanku yang tahu kejadian tadi kemudian bertanya kepada Ucu. “Emangnya siapa tadi Cu yang narik tangan kamu?”

“Nggak tahu tuh, pas udah megang donat kok tahu-tahu ada yang pegang tanganku kencang banget dan ditarik gitu. Nggak tahu tuh siapa,” cerita Ucu kebingungan karena pastinya nggak ada satu pun orang yang akan ngaku sama prilaku memalukan yang udah dilakukannya.

Catatan tambahan, temanku yang bernama Ucu itu memiliki kulit yang maaf, memang hitam. Jadi ketika teman-teman lain yang tahu cerita itu pun langsung seketika tertawa terbahak-bahak. Ternyata pikiran masing-masing dari kami kompak isinya. “Hahahaha… pasti tadi tanganmu dikirain donat kali. Makanya sampai ditarik-tarik,” kataku sambil masih menertawakan kejadian tersebut.

“Iya, paling dikiranya tadi sama anak yang narik tangannya si Ucu tadi begini kali, wah ini ada donat model baru lagi nih,” timpal temanku yang lain.

Walah, untungnya tangannya si Ucu tadi belum digigit sekalian sama anak tersebut. Bisa-bisa, si Ucu nggak bisa ngetik berita dong habis itu…

Ika Maya Susanti-Batam

20
Mei
07

Rahasia Agar Cepat Kaya


Oleh: Ika Maya Susanti

 

            Ini adalah sebuah cerita yang terjadi di sebuah dunia lain yang tak satupun manusia bumi mengenalnya. Begini ceritanya… Ada sebuah peraturan tidak tertulis yang bahkan psst… ini jadi rahasia di kota Brokonich tempatku tinggal. Menurut ibuku, siapapun penyihir di kotaku pasti tidak akan bisa membuat seseorang bahkan dirinya sendiri untuk menjadi miskin atau kaya.

Barang siapa yang sudah menemukan rahasia tersebut, tentunya ia akan menjadi kaya. Dan kalau sudah kaya, siapapun akan tutup mulut untuk mengatakan rahasia di balik itu.

Apa rahasianya? Ibuku masih tidak kunjung mengatakan hal tersebut kepadaku. Yah, siapa sih yang mau jadi miskin karena melanggar peraturan tersebut?!

Sampai suatu ketika tanpa aku sengaja, aku berhasil menemukan sebuah sihir yang mampu menghasilkan begitu banyak lembaran uang. “Cling cling tung, tung tung cling,” begitu bunyi mantra hasil ciptaanku. Sekejap saja, berpuluh kotak uang berwarna emas, demikian bentuk uang di kotaku itu, bisa ada dalam kantong-kantong bajuku.

Tentu saja aku kegirangan waktu menemukan mantra tersebut. Uangnya pun asli lho! Tidak hanya itu, rasanya aku langsung merasa seperti menjadi penyihir hebat yang sangat sakti karena bisa menemukan rahasia bagaimana menghasilkan uang. Tapi sewaktu aku akan membelikan permen Peri Manis kesukaanku, tiba-tiba ibu sudah ada di depanku dan merampas uang-uang tersebut.

Wush… “Hentikan Trina!” teriak ibu mengejutkanku.

Tentu saja aku kesal. Tapi sepertinya ibu tahu kalau aku akan kembali menggunakan mantra tersebut sehingga ia kemudian berkata, “Kau tahu, mantra itu memang selalu akan ditemukan oleh anak penyihir manapun yang sedang berusia 10 tahun. Tapi sebelum kau mengalami malu, aku beritahu bahwsanya uang itu akan langsung hilang di genggaman si penjual ketika dipakai membayar apapun yang telah kau beli. Dan kau tahu bukan apa akibatnya?”

Mataku mengerjap-kerjap keheranan. “Benarkah apa yang ibu katakan?” aku masih tidak percaya.

“Pernahkah ibu berkata bohong kepadamu? Kalau tak percaya, coba saja kau langgar apa yang telah ibu peringatkan!” seru Ibu.

Aku pun kemudian terdiam. Ibu lalu merangkul tubuhku dan mengajakku duduk. “Hmm, kau pasti selalu penasaran pada rahasia apa yang bisa menyebabkan orang menjadi kaya bukan?” tanya ibuku yang merupakan ibu ratu sihir di kotaku.

Aku mengangguk.

“Yah, mungkin sudah saatnya kau mengetahui rahasia yang satu ini. Sebetulnya kejadian ini terjadi karena dahulu kala di kota kita banyak penyihir kaya yang pelit untuk membagi hartanya kepada penyihir miskin. Apakagi di kota kita sudah menjadi rahasia umum dan bahkan aturan tidak tertulis kalau tidak ada satupun penyihir yang bisa membuat dirinya kaya atau miskin. Kau tentunya sudah tahu bukan rahasia tersebut?”

Aku mengangguk lagi. “Lalu bagaimana rahasia menjadi kaya itu tercipta Bu?”

“Begini ceritanya. Dahulu, tiba-tiba pada suatu malam kakek moyangmu yang sedang memerintah kota kita bermimpi menemukan sebuah surat dan berisi ancaman bagi seluruh penduduk kota. Isinya, barangsiapa orang kaya dan masih terus menerus bersikap pelit maka keesokan harinya akan langsung jatuh miskin. Begitu pesan dari mimpi tersebut,” cerita Ibu.

“Lho, tapi bagaimana bisa hanya kakek yang mendapat mimpi tersebut?  Lagipula kenapa itu kemudian jadi rahasia?” aku makin penasaran dengan cerita Ibu.

“Dua hari kemudian setelah kakek mendapatkan mimpi tersebut, kota Brokonich memang telah berubah. Konon kata kakek, sebetulnya mimpi tersebut datang kepada setiap orang kaya yang tinggal di kota kita. Tapi, tidak semua orang kaya percaya peringatan tersebut. Sedangkan bagi mereka yang telah melakukan apa yang dianjurkan oleh mimpinya kemudian mengatakan kepada orang lain, ia justru ikut-ikutan jatuh miskin. Yah, mungkin artinya, kenapa sih perbuatan baik sampai harus diumumkan kepada orang lain. Makanya, mimpi itu kemudian jadi rahasia.”

Aku mengangguk-anggukan kepada sambil mengingat-ingat apa yang telah dipesankan ibu kepadaku. Tapi tiba-tiba aku terkejut begitu sadar akan sesuatu. “Oh tidak! Ibu sudah melanggar peraturan itu!” pekikku.

Di luar dugaan ibuku ternyata malah tersenyum dan lantas menggeleng. “Tidak akan Trina. Kau mau tahu jawabannya? Karena ibu mengatakan hal tersebut agar kau bisa belajar dari rahasia itu. Jika kita bersikap dermawan, ikhlas, dan percaya akan perbuatan baik yang kita lakukan, pasti kebaikan kita juga akan dibalas baik. Coba kau camkan itu baik-baik. Ibu tidak takut menjadi miskin. Ibu tahu, jika ibu mengatakan hal tersebut dengan tujuan agar anak ibu bisa menjadi anak yang baik, maka ibu tidak akan menjadi miskin,” ujar ibu.

Sejak itu aku mencoba menjalankan apa yang dikatakan ibu kepada ku. Dan ternyata betul apa yang ibu katakan. Hingga umurku sekarang yang sudah menginjak 17 tahun, aku menjadi penyihir yang tidak hanya kaya akan tetapi beruntung karena sering mendapat pertolongan dari penyihir lain. Hmm, mau ikut-ikutan mencoba rahasia kotaku yang satu itu?

20
Mei
07

Misteri Soal Miss Tery


 

            Nama guruku yang satu ini sebetulnya Miss Tery, dengan huruf E seperti pada kata nenek. Tapi jika kalian menyimak ceritaku setelah ini, kalian pasti akan sepakat kalau memanggil Miss Tery dengan huruf E seperti pada kata misteri.

Oh iya agar tidak bingung, aku jelaskan juga kenapa Miss Tery dipanggil dengan panggilan Miss. Karena aku bersekolah di sekolah internasional, maka para guru wanita di sekolahku dipanggil dengan sebutan Miss atau Mrs. Miss untuk sebutan para guru yang bekum menikah, dan Mrs bagi mereka yang sudah menikah.

Nah, mari aku lanjutkan ceritaku tentang Miss Tery. Guruku yang satu ini dipanggil dengan nama Miss Tery, sekali lagi dengan huruf E seperti pada kata misteri, karena bagi aku dan teman-teman, Miss Tery adalah sosok yang misterius.

Lihat saja penampilannya. Miss Tery selalu mengenakan seluruh busana hingga aksesoris dengan warna hitam. Pokoknya berkesan gothic. Selain itu, kacamatanya yang berbentuk seperti mata kucing makin memperkuat kesan kemisteriusannya.

Sewaktu pertama kali mengajar di kelasku, kelas 4 A, entah mengapa, hawa dingin langsung menyergap seluruh kelas kami. Teman-teman yang biasanya suka berisik ketika guru memasuki kelas, seakan tidak punya nyali begitu Miss Tery memasuki kelas. Mereka langsung terbius dengan penampilan misterius dari Miss Tery.

“Mulai saat ini, saya akan mengajar pelajaran sains di kelas empat, termasuk kelas kalian ini,” ujar Miss Tery dengan suara yang terdengar dalam.

Meskipun penampilan Miss Tery begitu menyeramkan, demikian kami menilai penampilannya yang serba gothic, tapi kalian pasti akan sepakat dengan kami bila pelajaran sains yang diajarkan Miss Tery tidaklah membosankan. Soalnya setiap kali pelajaran sains, Miss Tery justru seakan mengajak kami untuk bermain yang menyenangkan.

Misalnya saja sewaktu mempelajari materi tentang sifat-sifat air. Catatan, waktu itu merupakan awal kalinya Miss Tery mengajar di kelasku. Dan aku, adalah siswa pertama di kelasku yang disuruhnya maju ke depan kelas. Tentu saja, aku kaget setengah mati.

Setelah aku didudukkan di sebuah kursi di depan kelas, Miss Tery kemudian memperlihatkan kepada seluruh kelas dua buah benda yang ada di tangannya, sebuah balon berisi air, serta sebuah korek api gas. Kedua benda itu dipegangnya di atas kepalaku.

“Coba tebak, apakah balon ini nantinya akan meletus di atas kepala Randi?” tanya Miss Tery ke arah teman-temanku dengan senyum menyeringai.

Aku cuma bisa memejamkan mata tanda pasrah, juga merinding. Sementara itu teman-temanku terutama yang perempuan juga banyak yang menjerit kecil tanda ngeri. Yah, entah apa nanti jadinya jika aku harus pulang dengan seragam yang basah terkena air. Namun setelah beberapa saat lamanya api dipanaskan di bawah balon air, balon itu justru tidak meletus. Dugaanku serta beberapa teman di kelas ternyata meleset.

“Ini karena sifat air adalah menyerap panas. Itu juga kenapa orang yang beratraksi berjalan di atas api tidak terbakar kakinya,” jelas Miss Tery.

Kami pun koor mengeluarkan suara huruf O panjang. Kejutan dari Miss Tery belumlah selesai. Di saat pulang sekolah, Miss Tery selalu memberi kami PR yang juga berupa sebuah bentuk eksperimen. Miss Tery pun kemudian menyebut permainan tersebut dengan Misteri Soal Miss Tery.

Dalam permainan Misteri Soal Miss Tery ini, kami akan dipertunjukkan dengan sebuah eksperimen tertentu. Jawaban dari eksperimen inilah yang harus kami cari. Mau tidak mau, tentunya kamipun harus mengulangi eksperimen tersebut sendiri di rumah untuk tahu jawabannya.

Seperti pulang sekolah tadi, kami diberi pertunjukan tentang batu yang dimasukkan ke dalam air. Namun Miss Tery menantang kami dalam permainan Misteri Soal Miss Tery. Tantangannya, siapa yang bisa membuat batu ini dapat melayang dan tidak tenggelam di dalam air.

Nah, sekarang kalian sepakat kan untuk menjuluki guruku yang satu ini dengan Miss Tery, dengan huruf E seperti pada kata misteri?! Dan sekarang aku minta bantuan kalian nih, dengan cara apa ya aku bisa membuat batu ini melayang di dalam air dan tidak tenggelam? Ah memang, Miss Tery guruku yang satu itu penuh dengan misteri!

 

NB:

            Jawabannya adalah dengan menambahkan garam ke dalam larutan air

20
Mei
07

Yuli dan Kucing-kucing Peliharaannya


 

            “Sst.. lihat tuh… tuh…” tunjuk Sofi ke arah seorang wanita bernama Yuli yang sedang asik tertawa sendiri dengan kucing yang terus mengeong di sekelilingnya.

            “Grusuk… grusuk!” gerak tubuh Kiki membuat tumbuh-tumbuhan tempat mereka bersembunyi jadi terlihat bergerak-gerak.

            “Eh, jangan berisik dong,” Sofi mengingatkan. Sementara itu, wanita yang mereka amati seketika nampak menghentikan aktivitasnya. Sofi dan Kiki menghentikan nafas ketakutan. Namun karena tidak menemukan sumber suara yang mengganggu aktivitasnya, wanita itu pun kembali asik bermain dengan kucing-kucing yang sedang mengelilinginya.

            Kiki mengikuti pandangan searah dengan telunjuk Sofi. Di seberang jalan, dilihatnya Yuli sedang asik bermain dengan enam ekor kucing yang terus mengikuti langkah kaki Yuli. “Miow miow miow… hihihi…” kekeh Yuli sendirian.

            “Lihat deh, sebentar lagi salah satu dari kucing itu akan dimasak di atas kuali itu,” kata Sofi.

            Kiki bergidik ngeri. “Ah masa sih, Yuli makan kucing?!” mata Kiki membeliak ngeri.

            “Yee, dibilangin nggak percaya. Coba deh tanya Buyung kalau nggak percaya,” tantang Sofi tak mau kalah sembari menyebutkan salah satu teman sekelas yang juga tinggal di sekitar rumah mereka.

            Semua orang di sekitar tempat Sofi dan Kiki pasti mengatakan kalau Yuli itu adalah orang gila. Yuli tinggal di sebuah ruas trotoar yang ada di seberang sungai. Sebagai orang gila, tentunya kehidupan Yuli tidak teratur seperti orang normal pada umumnya, tak punya tempat tinggal, dan hanya sibuk bicara atau tertawa sendirian sepanjang hari.

            “Kata Buyung, kalau sore hari, Yuli memang selalu menyalakan api dan kelihatannya sedang memasak air. Terus, salah satu kucingnya itu akan ditangkap dan disembelihnya untuk dimakan. Hiiiiy…” Sofi masih terus meyakinkan Kiki.

            Tapi Kiki masih tidak percaya. Soalnya, selama ini Kiki justru tidak menganggap Yuli sebagai orang gila. “Kalau menilai orang jangan dari penampilannya, Ki,” itu nasehat yang Kiki dengar dari mamanya.

            Satu hal lagi yang membuat Kiki tidak percaya adalah karena sebenarnya, Kiki sering mendekati Yuli dan memberinya roti. Dan mana ada orang gila yang akan bilang terima kasih setelah diberi makanan, Kiki mengingat kejadian yang dialaminya beberapa waktu yang lalu.

            Tak hanya kata terima kasih yang membuat Kiki terkesan, Yuli pun dengan baik hatinya, menurut Kiki, kemudian membagi roti yang diperolehnya dengan kucing-kucing peliharaannya.

            “Nah, kalau gitu makin menunjukkan kalau cerita Buyung itu ada benarnya kan. Soalnya, pasti kucing-kucing itu sengaja dibuat gemuk terlebih dahulu. Dan nanti kalau sudah gemuk, kucing-kucing itu akan dimakannya!” Sofi mengangguk-angguk yakin akan ucapannya sendiri.

            “Aduh, gimana ya Sofi, aku tuh masih nggak percaya sama penilaian kalian tentang Yuli.” Kiki pun menceritakan kembali pengalaman yang pernah ia alami tentang sosok Yuli.

            Ternyata, Yuli itu pintar sekali bernyanyi seperti laiknya sinden. Dengan bahasa Sundanya, Kiki pernah terpesona saat Yuli sedang asik bernyanyi sendirian. Tapi nyanyian Yuli waktu itu terlihat pilu. Sembari bersenandung, wajah Yuli terlihat sedih dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.

“Mungkin ia ingat keluarganya di Jawa Barat sana. Tuh, kasihan kan,” ujar Kiki.

“Aaah kamu ini, dibilangin nggak percaya banget sih!” Sofi menggerutu kesal. “Sekarang tanya saja ke semua orang, pasti mereka akan bilang kalau Yuli itu orang gila!”

Belum sempat Kiki membantah, tiba-tiba dua gadis cilik yang masih duduk di kelas empat SD ini dikejutkan oleh kedatangan sebuah sedan berplat nomor D yang berhenti di dekat tempat Yuli yang sedang duduk di trotoar. Setelah mobil sedan itu dibuka, turunlah beberapa orang yang tidak dikenal oleh Kiki dan Sofi. Kecuali Pak Joko, ketua RW tempat Kiki dan Sofi tinggal. Sebuah tanda tanya memenuhi kepala Kiki dan Sofi yang membuat mereka justru tidak berani beranjak dari tempat pengintaian mereka.

“Benar ini wanita yang bapak dan ibu cari?” tanya Pak Joko kepada dua wanita dan seorang pria yang kini sudah ada di hadapan Yuli.

“Iya.. betul Pak. Ini memang ibu kami,” seru wanita itu gembira setelah beberapa saat lamanya mengamati wajah Yuli dengan seksama.

Kebalikannya, justru wajah Yuli yang nampak ketakutan. Sembari terisak-isak, Yuli justru menangis ketakutan dan mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.

“Tunggu Bu, jangan lari… kami janji tidak akan mengulangi sikap kami. Maafkan kami Bu…” seru salah seorang wanita tersebut sembari bersimpuh di kaki Yuli.

Yuli tak kuasa berlari dan kemudian ikut bersimpuh memeluk wanita yang memeluk kakinya.

“Hei kalian ini, kenapa bersembunyi di sini?” suara Pak Joko mengejutkan Kiki dan Sofi yang tidak menyadari kalau persembunyian mereka telah diketahui.

“A… e… kami…” Sofi dan Kiki tak bisa berkata-kata.

“Sudah ayo bangun, pulang. Biarkan keluarga yang lama tidak bertemu itu saling melepas rindu,” ujar Pak Joko.

“Jadi benar Pak, itu anak-anak Yuli?”

“Iya, mereka datang dari Bandung. Jadi ceritanya, Yuli itu dulu disia-sia oleh keluarganya sendiri. Makanya, ia pun kemudian melarikan diri sampai ke Bekasi. Kucing-kucing itulah yang kemudian menjadi teman Yuli setiap harinya, sebagai pengganti keluarganya. Kasihan ya? Yah, saya sendiri pun pernah berpikiran buruk tentang Yuli,” Pak Joko menundukkan wajah terlihat menyesal.

Sofi dan Kiki saling berpandang-pandangan. “Jadi benar kan Pak kalau Yuli itu tidak makan kucing,” Kiki berucap sembari ingin membuktikan kalau tuduhan orang-orang selama ini tidak benar.




Kalender

Mei 2007
S S R K J S M
« Jan   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 380,032 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan