Arsip untuk Januari, 2007



10
Jan
07

Tahap Anak Belajar Membaca

Belajar Membaca Ada Tahapannya

            Keinginan untuk memiliki anak yang bisa membaca dalam usia dini memang menjadi dambaan setiap orangtua saat ini. Jangankan menunggu anak duduk di usia SD terlebih dahulu, belum menginjak usia TK saja banyak orangtua yang sudah menginginkan anaknya memulai belajar membaca.

            Padahal, anak memiliki tahapan usia tersendiri untuk siap bisa menerima pelajaran. Namun jika sampai menunggu waktu di usia SD, kebanyakan anak menjadi susah untuk melalui proses belajar membaca jika dibandingkan mereka yang sudah menerimanya terlebih dahulu di waktu TK.

            “Ibu-ibu tahu kan kalau pelajaran itu sebetulnya tidak boleh diberikan waktu usia belum SD. Ini karena anak punya tingkat kemampuan membaca sehingga harus bertahap dan tidak boleh dijejelin. Ia harus belajar sesuai dengan pertumubhan atau fase dimana apa yang harus diberikan kepadanya,” jelas Josua Uktolseja, Pembimbing  Metode Fonem dari Jakarta.

            Dalam pertemuannya dengan para orangtua dari siswa yang mengikuti program Fonem di TK Kinderland Legenda Malaka, Sabtu (11/3) sore, ia menjelaskan dan memberikan pemahaman sederhana tentang bagaimana pola kembang anak dalam proses belajar membaca.

            “Metode yang selama ini diajarkan di sekolah sebetulnya lebih pada metode mengahfal dan langsung dikasih banyak. Misalnya baris pertama ba bi be bo bu. Terus baris kedua sama. Baris ketiga biasanya baru ba ba ba ba ba. Jadi anak dibiasakan untuk menghafal,” jelas pria yang akrab dipanggil dengan nama Jo ini.

            Lain halnya dengan metode Fonem yang ditemukannya. Menurut Jo, anak diajarkan cara membaca dengan imajinasi atau simbol. Misalnya huruf B, diartikan sebagai sumpit dan bakso yang harus dimakan sehingga bisa keluar suara B.

            Dalam tingkatan-tingkatan yang dimaksudkan Jo membuat anak memiliki target pencapaian penguasaan pengenalan huruf dalam beberapa pertemuan. Secara normal dalam delapan kali pertemuan, anak sudah bisa mengausai L B K H dan vokal A I U E O. Sedangkan huruf konsonan lainnya dapat dikuasai dalam tingkatan-tingkatan berikutnya.

            Ketika kurang dari delapan kali pertemuan, anak tetap melalui proses membaca. Namun ketika ia harus membaca dengan huruf yang belum diajarkan kepadanya, ia akan ditunjukkan dengan gambar bukan huruf. Misalnya kalimat “Bili beli apel”, kata apel bukan ditulis namun dibaca dengan gambar apel.

            Selain itu dalam metode Fonem, para guru yang mendampingi murid telah dibekali dengan pengetahuan psikologi anak terlebih dahulu. Jadi, anak tetap belajar namun tidak mengabaikan ketika muncul keinginannya untuk bermain. (ika)

 

Tetap Bekerja dengan Kanan dan Kiri

            Betapa Yuni telah kehabisan akal untuk mengajari putranya, Juan, menulis dengan tangan kanan. Meski diajari bahkan dilarang untuk menulis dengan tangan kanan oleh guru dan orangtuanya di rumah, Juan tetap merasa canggung ketika menggoreskan pensil dengan tangan kanannya.

            Josua Uktolseja, Pembimbing  Metode Fonem dari Jakarta pun kemudian mengecek kekuatan fisik Jua. Ketika diminta menuliskan nama Juan di atas kertas, tangan kiri Juan lebih kuat mengguankan tangan kiri ketika memegang pensil dibandingkan dengan tangan kanan.            Demikian pula ketika kedua tangan Juan diminta untuk mendorong tangan Jo, tangan kirinya memiliki kekuatan lebih jika dibandingkan dengan tangan kanan.

            Menurut Jo, jika ada anak seperti Juan yang mulai menunjukkan gejala seperti itu, biarkan mereka tetap bekerja dengan dua kekuatan tangan. “Jangan hapus kebiasaan mereka untuk bekerja dengan tangan kiri. Terus ajarkan anak bekerja dengan tangan kanan dan tetap biarkan ia juga punya kebiasaan untuk berekja dengan tangan kiri,” demikian anjuran Jo.

            Malah menurut Jo, anak seperti Juan ini kelak dapat berpotensi sebagai olahragawan yang baik. Misalnya ketika ia bermain bulutangkis atau bola, ia dapat mengandalkan kekuatan tubuh bagian kiri sama halnya dengan ketika menggunakan tubuh bagian kanan. “Komunikasikan juga hal ini kepada guru,” imbuh Jo. (ika)

09
Jan
07

Si Bungsu yang Akhirnya jadi Kakak

Dek, Senang Lho Jadi Kakak

            Setelah sekian lama putra atau putri kita menjadi anak tunggal atau anak bungsu, tiba-tiba ia harus menyadari statusnya yang sebentar lagi berubah. Bukan hal yang mudah bagi dirinya untuk menerima hal tersebut. Apalagi untuk anak yang selama ini tidak memiliki ‘saingan’ untuk berbagi apapun, baik barang ataupun perhatian dari orangtua.

            Sebagai orangtua, ada yang perlu dipersiapkan bagi putra atau putri Anda yang sebentar lagi berubah status menjadi kakak. Seperti yang dialami oleh Linda Hartati. Ibu dari tiga putri dan satu putri ini akhirnya memilki seorang putra empat tahun yang lalu ketika putri ketiganya telah menjadi anak bungsu selama sekitar 10 tahun lamanya.

            “Wah, dia bilang awalnya shock berat. Tapi shocknya katanya agak sedikit terobati karena yang lahir kok cowok. Kalau cewek, wah, katanya lebih shock lagi,” gurau Linda menceritakan ulah Viola, putri ketiganya.

Sikap protes dari Viola mulai nampak ketika si adik masih di dalam kandungan. Linda pun mulai membaca apa yang akan terjadi pada Viola jika adik barunya nanti hadir di tengah-tengah mereka.

Untuk mengantisipasi agar sikap cemburu Viola di kemudian hari, maka istri dari Hasanuddin ini pun kemudian mensiasatinya dengan mengajak Viola berkomunikasi ketika akan tidur. “Dia punya kebiasaan dikeloni kalau mau tidur. Di situlah saya beri pengertian,” imbuh Linda.

Misalnya dengan menjelaskan apa yang nantinya akan dialami Viola yang memang tidak lagi bisa sama seperti saat sebelumnya. Termasuk, sikap apa yang harus dilakukan Viola kelak. Intinya, membesar-besarkan hati putrinya yang sebentar lagi akan memiliki adik.

“Saya kasi penjelasan kalau nanti tentunya dia tidak bisa lagi tidur dikeloni. Memang pertamanya dia protes. Tapi saya juga beri support ke dia kalau dia nanti bisa naik pangkat, berbahagia punya adik dan jadi kakak. Saya jelaskan juga kalau nanti enaknya dia bisa membantu saya menyuapi atau memandikan sang adek,” terang Linda membagi pengalamannya. (ika)

 

Harus Tetap Adil

            Sebagai si kecil, Pedro memang terkadang mendapatkan perlakuan lebih dari orangtua ataupun kakak-kakaknya. Misalnya ketika sang mama memiliki kue, Pedro akan mendapatkan jatah yang paling banyak jika dibandingkan ketiga kakak-kakaknya.

            “Saya sering misalnya nih punya lima kue. Jadi baginya, yang tiga kakaknya saya beri satu sedangkan Pedro dapat dua. Kadang memang Viola masih ingin mendapatkan dua. Namun saya ingatkan, kalau si kecil harus dapat jatah kue lebih agar ia bisa cepat besar,” jelas Linda.

            Tapi bukan berarti segala sesuatunya akan diberikan lebih oleh Linda maupun Hasanuddin kepada Pedro daripada kakak-kakaknya. Ketika si kecil nakal, Linda pun akan tetap bersikap adil.

            Lambat laun, sikap Viola pun mulai bisa menerima kehadiran Pedro. Misalnya ketika akan tidur, jika biasanya Viola berebut tempat tidur dengan Pedro, kini ia mulai bisa saling berbagi.

            “Kadang dia bilang, Pedro tidur bareng sama Cece ya. Nanti Cece ceritain deh,” tiru Linda tentang ulah Viola dan Pedro. (ika)

 

Tips mengajak anak berkomunikasi ketika akan ada adik baru:

-Ajak anak untuk berkomunikasi dengan calon adiknya sejak usia kandungan sekitar empat bulan. Misalnya dengan mengajaknya mengobrol dengan adiknya yang ada dalam kandungan, atau menagjak anak untuk mengelus-elus kandungan

-Ia pun bisa juga diajak turut serta untuk melihat ‘sang adik’ saat di USG

-Tetap luangkan perhatian untuknya meski si bungsu telah ada seperti mengajaknya bercerita tentang pengalamannya selama seharian

-Usahakan jangan sesekali membentak ketika ia meminta perhatian sebagai wujud protes. Ini justru akan makin membuatnya merasa tersingkir

-Ajak dia berbagi tugas seperti ketika memandikan si kecil atau menyuapinya. Jika tugasyna berhasil dilakukan dengan baik, beri reward dalam bentuk pujian atau hadiah (ika)

09
Jan
07

Anak dan Ponsel

Sebaiknya Berikan Saat Anak SMP

            Telepon seluler atau ponsel, handphone atau Hp, telepon genggam, atau apapun namanya, saat ini memang bisa dibilang hampir bukan menjadi barang mahal lagi. Juga, bukan lagi menjadi barang yang hanya bisa dipakai oleh orang dewasa. Anak seusia sekolah TK atau SD kelas satu pun kini begitu lihai memencet tuts-tuts ponsel bahkan ada pula anak seusia itu yang sudah memilikinya.

            Untuk para orangtua yang belum atau akan memberikan ponsel bagi buah hatinya, mungkin saat ini sedang mempertimbangkan, baikkan ponsel diberikan pada anak dan kalaupun mungkin, pada usia berepa mereka bisa mulai memakainya.

            “Memang susah untuk melarang-larang anak memiliki ponsel. Ponsel itu kan bagian dari informasi dan teknologi, tidak dapat pula dipisahkan pula dari insan yang senantiasa belajar. Terlebih lagi di Batam, dimana handphone bukan lagi menjadi kebutuhan mewah,” ujar Imelda Yetti, pemerhati anak yang juga menjadi guru di sekolah Charitas.

            Maka ketika orangtua sedang mempertimbangkan untuk memberikan ponsel kepada anak, patut diketahui bahwasanya tiap pribadi anak tidaklah sama. Mungkin ada anak yang belum pantas menerima handphone. Namun adapula yang memang sudah pantas dan membutuhkannya.

            Sebagai bahan pertimbangan, Imelda pun memberikan keterangan tentang kondisi anak yang terbagi dalam tahap awal usia 2 sampai 6 tahun dan tahap akhir yaitu usia 6 sampai 13 tahun.

            Untuk tahap awal ini emosi anak sangat dominan atau kuat, ingin mencoba atau memiliki rasa ingin tahu besar, belum dapat membedakan yang baik dan buruk, dan tidak bisa diam. Sedangkan anak usia 3 sampai 4 tahun biasanya mengalami masa suka mengobrol.

            “Makanya anak kadang kalau diberi ponsel bisa sebentar-sebentar telepon temannya karena memang dia suka berkomunikasi dengan teman-temannya,” imbuh Imelda.

            Pada anak usia enam tahun, ia memiliki pola prilaku yang berempati dan memiliki simpati serta dukungan sosial yang tinggi. Karena itu di usia ini ketika ada anak yang memiliki ponsel, anak yang lain bisa timbul keinginan untuk memiliki. Begitu pula ketika ada anak yang memiliki ponsel, rasa penghargaan akan muncul pada anak yang lain.

            Di akhir masa anak-anak yaitu akhir SD, ia mulai memiliki sikap kritis, kreatifitas, dan penyesuaian diri. “Minat terhadap aktivitas teman-temannya mulai tumbuh, ada keinginan untuk diterima sebagai anggota kelompok semakin kuat, sampai timbulnya gank-gank anak. Anak juga mulai tumbuh minatnya terhadap hiburan mulai dari bacaan, film, televisi, permainan, sampai olahraga,” jelas Imelda.

Maka tak heran ketika hampir semuanya itu bisa didapatkan melalui ponsel, anak pun menjadi begitu menyukai kehadiran benda tersebut apalagi untuk dimiliki. Karena itu Imelda menyarankan agar ponsel ada baiknya bisa mulai dimiliki anak usia SMP.

“Idealnya SMP dan saya kurang sarankan pada anak usia SD. Itu pun dengan pulsa yang prabayar dan uang saku yang dikontrol, serta mengontrol juga situs-situs yang ada pada ponsel anak,” tegas Imelda. (ika)

 

Ajarkan Anak Mengenal Telepon

            Kehadiran ponsel pada awalnya memang untuk memudahkan komunikasi. Itu pula yang menjadi alasan beberapa orangtua untuk memberikan ponsel kepada anak. Apalagi ketika orangtua bekerja dan butuh mengontrol aktivitas anak di luar rumah atau ketika jauh dari orangtua.

            “Memang ada cerita seorang anak SMP yang hanya tinggal dengan pembantunya saja. Orangtuanya kebetulan dinas di sebuah pulau dan sang ibu pun harus menemani bapaknya. Karena itu pula si anak ini mengaku kalau memiliki ponsel itu penting. Saya pikir, ya memang kalau seperti itu kondisinya penting juga dan memang bermanfaat,” ujar Imelda.

            Namun jika hubungan anak dan orangtua tidak begitu jauh, ada baiknya menurut Imelda untuk tetap mengutamakan tidak memberikan ponsel pada anak. Apalagi memang kebanyakan yang menjadi daya tarik anak atas ponsel adalah keberadaan fitur games atau permainan.

            Meski demikian, anak tetap juga perlu diperkenalkan kepada teknologi khususnya ponsel yaitu dengan tetap mengajarkan cara penggunaan telepon dan bukan ponsel. “Seperti di sekolah ini anak diajarkan untuk mengenal telepon atau caranya menerima telepon,” imbuh Imelda.

            Karena adanya pola dimana anak suka mengikuti atau menginginkan apa yang ada pada teman sebayanya, maka di beberapa sekolah banyak yang melarang bagi siswa siswinya membawa ponsel ke sekolah. (ika)

 

Jelaskan Gambar Orang Dewasa

            Berbeda dengan kebanyakan orangtua yang melarang anaknya untuk memiliki ponsel, Andriyani justru memilih hal yang sebaliknya. Ia memutuskan untuk memberikan ponsel kepada Benni putranya yang masih duduk di usia SD kelas satu.

            “Alasannya agar bisa berkomunikasi dengan saya. Makanya itu saya berikan ia ponsel N-gage karena banyak fitur game-gamenya,” jelas wanita yang akrab dipanggil dengan nama Yani ini.

            Tapi menurut Yani, ia juga menyertai Benni dengan penjelasan apa yang boleh dan tidak pada ponsel buah hatinya tersebut. Misalnya untuk gambar-gambar atau permainan mobil sports, gambar hewan, dan motor cross, Yani akan memperbolehkan Benni untuk memilikinya dalam ponsel.

            “Kalau untuk gambar cewek dewasa, saya jelaskan itu nggak boleh karena Benni masih kecil dan belum boleh ada gambar itu dalam ponselnya. Yang boleh dan pantas untuk anak seumur Benni dan laki-laki adalah motor misalnya,” terang Yani.

            Namun untuk lagu, Yani tidak bisa membatasi Benni. Meskipun Yani tahu kalau lagu yang disukai Benni kebanyakan adalah lagu dewasa, namun Yani memberi kebebasan pada Benni untuk mendownloadnya.

            “Misalnya kalau saya ajak ke tempat download, saya beri kebebasan untuk lagu. Ya memang kata-katanya untuk orang dewasa tapi paling-paling dia tidak tahu artinya dan hanya suka karena lagunya enak didengar,” timpal Yani. (ika)

09
Jan
07

Toilet Training

Ajarkan Toilet Training Sejak Bayi

            Tidak sedikit orang tua yang pusing dengan kebiasaan ngompol anaknya. Mungkinkah masalah ini juga menimpa Anda? Nah, untuk mengatasi anak yang suka mengompol atau pipis sembarangan, sebetulnya ini memerlukan peran Anda sebagai orang tua. Bahkan membiasakan mereka untuk tidak pipis sembarangan atau ngompol perlu dilakukan sejak anak masih bayi.

            “Biasakan sejak mereka masih bayi. Terutama ketika anak usia enam bulan. Terus kalau sudah bisa jalan, arahkan mereka untuk disiplin pada kebutuhan akan toilet,” saran Mardien Suprapti, psikolog dari Batam Medical Centre (BMC).

            Membiasakan anak untuk mengerti akan kebutuhan toilet atau yang disebut toilet training ini bisa dilakukan dengan cara verbal terlebih dahulu. Misalnya dengan mengingatkan mereka tentang perilaku yang mesti mereka lakukan jika ingin buang air kecil. Bisa juga dengan cara langsung membawa anak ketika ia mengutarakan ingin buang air kecil.

            “Langsung bawa dia ke kamar mandi. Ini agar anak bisa menyerap apa yang harus dia lakukan,” imbuh Mardien.

            Lantas bisa pendidikan toilet training ini tidak menunjukkan hasil meski anak sudah melewatinya sekitar satu sampai tiga minggu, ada peran yang perlu dilakukan orang tua yaitu memberi ‘hukuman’.

            “Lihat tenggang waktu yang sudah ditentukan. Kalau sejauh mana toilet training ini kurang berhasil, bisa anak diberi hukuman dengan cara dicubit kecil atau ditegur dengan nada bicara yang sedikit keras tapi tidak marah betulan,” terang Mardien.

            Sedangkan jika anak berhasil melakukannya, beri ia pujian dengan sanjungan misalnya. Cara-cara tersebut bisa diterapkan untuk membiasakan anak terbiasa tidak pipis sembarangan lagi. (ika)

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

Jangan Pasang Pampers Saat Orang Tua Ada

            Bagi kebanyakan orang tua, pampers memang cara solusi yang cepat dan tepat untuk mengatasi anak yang sering ngompol. Buah hati pun jadi tidak memusingkan dan menyusahkan kita manakala ceceran buang air mereka tidak lagi ada dimana-mana.

            Benarkah demikian? Ternyata kurang tepat juga. “Memang pampers cepat dan tidak ribet. Tapi dibiasakan jika orang tua ada di rumah, jangan pakaikan anak pampers,” saran Mardien.

            Jika orang tua dan anak sedang berada di rumah, ajak dan didik anak untuk mengerti arti pentingnya toilet. Dan jangan biasakan anak untuk tergantung pada pampers.

            Mengapa, karena hal ini untuk menyeimbangkan anak agar mereka mengerti tentang toilet training. Sementara dengan pampers, anak justru jadi terbiasa dan sulit untuk sembuh dari kebiasaan pipis sembarangan. (ika)

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

Bisa Karena Anak Introvert

            Anak anda tak kunjung sembuh dari kebiasaan pipis sembarangan, sepertinya hal yang satu ini perlu juga disimak. Apalagi jika usia anak sudah bukan lagi balita dan malahan menginjak akhir bangku SD.

            Kebiasaan pipis sembarangan terutama bagi anak yang sudah menginjak usia 10 tahun ini bisa dikarenakan adanya faktor psikologis dari anak. Seperti anak yang memiliki watak penakut, introvert, stress atau tertekan.

            “Anak yang stres dan tidak bisa merespon dari luar dengan baik ini bisa berefek negatif. Ada yang larinya bisa ke kebiasaan ngompol.  Karena sudah di atas ambang batas, anak mengalami ketegangan-ketegangan tertentu,” ujar Mardien.

            Wanita yang menjadi psikolog di Sekolah Kartini ini pernah juga menemui kasus seorang anak yang duduk di bangku SD dan suka pipis sembarangan. Tidak peduli dimanapun, ia bisa melakukannya bahkan di depan tamu sekalipun.

            Ketika dibawa ke dokter, anak ini ternyata tidak mengalami gangguan apapun. Namun ketika dibawa ke psikolog, barulah diketahui kalau ia memendam sebuah masalah yang diakibatkan tekanan dari lingkungan sekitarnya.

            Adapula kebiasaan ngompol dari anak yang disebabkan keinginannya untuk menarik perhatian. “Anak cari perhatian dan kemudian melakukan itu agar diperhatikan,” imbuh Mardien.

            Anak yang memiliki ketidakpuasan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya pun bisa menimbulkan kebiasaan ngompol. Mardien memisalkan seorang anak yang terbiasa untuk ditekankan tidak buang air kecil di sembarang toilet. Akibatnya ketika ia ingin buang air kecil, ia akan menahannya dan baru inginke toilet apabila sudah berada di rumah. (ika)

09
Jan
07

Music Therapy

Ajarkan Anak Bertepuk Tangan

            Sudah sejak lama orang mengenal musik. Tidak hanya sekedar hiburan, musik pun mampu menjadi sarana penyembuhan bagi mereka yang menderita sakit atau ingin memperoleh peningkatan kualitas dan kemampuan diri.

            Di Merrys College sendiri, musik dihadirkan tidak hanya sebagai peningkatan kemampuan anak dalam hal bermain musik. Selain itu, musik pun digunakan sebagai sarana terapi bagi anak yang mengalami gangguan.

            “Terapi musik ini dapat digunakan oleh anak-anak yang mengalami gangguan seperti gangguan motorik, konsentrasi, atau bahasa. Prosesnya ada pada fungsi yang dinamakan FMRI atau Functional Magnetic Resonance Imaging dan terdapat di sel otak,” ujar Agung B Siregar, pengajar yang ada di Merry College.

            Aktivitas sel otak ini dapat terdeteksi melalui adanya perubahan tekanan dalam darah atau emotion really. Caranya, anak yang mengalami gangguan diberikan rangsangan berupa satu bunyi tak beraturan, dua suara, dan nada harmonis.

            Sementara itu dalam sistem kecerdasan otak, bagian belahan otak kiri adalah bagian yang mengatur beberapa bidang seperti kreatifitas dan abstraksi musik. Dengan adanya terapi musik ini akan mampu mengembangkan otak kiri hingga otak bagian kanan yang terdapat hipotalamus yaitu sebagai pusat respon emosi.

            “Perubahan seorang anak sebagai respon dari terapi musik ini bisa diketahui dari perubahan detak irama jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh,” imbuh Agung.

            Dalam terapi musik itu sendiri, anak-anak dikenalkan dengan Snow Silence Methode yang terdiri dari kegiatan mendengar, mengikuti tempo atau beat musik yang disesuaikan dengan gerak irama tubuh, analog detak jantung yang kegiatannya berupa tepuk tangan, gerak kepala, dan anggota badan bagian atas.

            Lantas sejak kapan anak yang mengalami gangguan tersebut dikenalkan dengan terapi musik, “Kalau bisa sedini mungkin,” sahut Agung.  Yaitu, saat anak terdeteksi mengalami gangguan, mulai kenalkan ia dengan terapi musik tersebut. (ika)

 

Menurunkan Kadar Hiper Anak

            Tepuk tangan bisa berarti kegembiraan. Tepuk tangan pun ternyata menjadi satu diantara jalan yang ditempuh anak-anak yang mengalami terapi. Misalnya yang diajarkan Agung pada Ami dan Syafiq.

            Tidak hanya sekedar bertepuk tangan sebetulnya. Dalam terapi, Ami atau Syafiq yang sekitar dua bulan lalu diikutsertakan oleh orangtuanya untuk mengikuti terapi musik di Merrys College, diminta untuk bertepuk tangan mengikuti irama dan ketukan musik.

            Misalnya jika Ami dibimbing oleh Agung untuk menekan-nekankan tuts demi tuts piano, Syafiq akan diminta oleh Agung untuk mengikuti ketukan dentingan musik tersebut dengan iringan tepuk tangan atau menepuk tambur.

            “Program terapi ini sendiri sebetulnya bisa mulai kelihatan hasilnya sekitar empat sampai lima bulan kemudian, itu yang bagus. Tapi kalau yang hiper, biasanya sekitar tiga sampai empat bulan sudah bisa kelihatan ada penurunan,” jelas Agung.

            Di Merrys College sendiri, terapi musik ini sebetulnya dilakukan satu minggu sekali. Selebihnya, anak akan diminta untuk melakukan terapi di rumah dengan cara yang tidak jauh berbeda. Seperti yang diajarkan pada Ami dan Syafiq ketika di Merrys College yaitu menempuh terapi dengan alat musik piano atau tambur, orangtua bisa membiasakan dengan cara yang sama di rumah namun dengan tepuk tangan. (ika)

 

Tambah Komunikasi dan Redam Emosi

            Mata Syafiq untuk beberapa saat menatap tamu yang memasuki ruangan terapinya. Aktivitasnya bermain musik pun akhirnya terhenti. Ketika Agung meminta lagi meneruskan aktivitasnya, Syafiq tampak ragu dan malu.

            Menurut sang ibu, Winda, Syafiq mengalami gangguan perhatian dan itu diketahuinya ketika usia dua setengah tahun. “Waktu itu kalau dipanggil dan diminta melakukan sesuatu, dia kurang memperhatikan dan ogah-ogahan,” ungkap Winda.

            Maka dibawalah Syafiq ke seorang psikolog dan dinyatakan mengalami gangguan tersebut. Sebelum umur empat tahun, Syafiq kemudian dibawa oleh Winda untuk terapi okupasi di sebuah pusat terapi khusus di Anggrek Mas. Dari situlah kelemahan yang dialami Syafiq berangsur-angsur berkurang. Selama terapi, Syafiq diterapi pada masalah konsentrasi. Ia pun diajarkan masalah kepatuhan,  kemandirian, akademisi, motorik, dan keseimbangan.

            “Kemudian saya disarankan teman untuk mengikutsertakan Syafiq di Merrys. Ini untuk menambah kemampuannya berkomunikasi,” ujar Winda yang mengaku, Syafiq memiliki emosi yang sensitif namun senang pada dunia musik dan aktivitas menyanyi. Jika di rumah menurut Winda, Syafiq menyukai aktivitas menyaksikan film untuk anak atau yang berisi pengetahuan di televisi.

            Sementara itu pada Ami, kebiasaan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya sudah nampak ketika sekitar usia satu tahun sebelas bulan. “Dia itu kalau bangun malam-malam misalnya, bisa tertawa sendiri,” ujar Cheppy, ibu dari Ami. Maka dibawalah Ami kepada seorang psikolog dan kemudian dinyatakan mengalami superaktif.

Pada usia tiga tahun, Cheppy makin penasaran pada kebiasaan Ami yang tidak seperti anak kebanyakan. Ami menurutnya sulit dia saat berada dalam playgroup. Selain itu ia juga gemar sekali mengganggu teman-temannya.

Kembali akhirnya Cheppy membawa Ami mengunjungi psikolog pada saat ia usia empat tahun yang kemudian menyatakan kalau Ami mengalami kecenderungan ke arah autis. Seperti Syafiq, Ami kemudian diikutsertakan dalam sebuah program terapi di Anggrek Mas.

“Ia diajarkan masalah kontak mata, akademis, dan kedisiplinan,” tutur Cheppy. Akhirnya Cheppy lalu merasakan adanya kemajuan pada Ami hingga ia pun kini bisa diajak berkomunikasi.

Atas anjuran Winda, Cheppy kemudian juga mengikutsertakan Ami pada terapi musik di Merrys College. “Dari dulu ia memang suka musik,” ungkap Cheppy yang juga mengaku ternyata Ami justru kini lebih tertarik pada biola daripada piano. “Kalau lihat, dia bisa ngerti juga mana biola mana gitar kecil.”

Setelah sekitar dua minggu mengikuti terapi musik, Cheppy merasakan adanya perubahan yang terjadi pada Ami. Gadis cilik yang juga menyukai corat coret menggambar ini kini lebih lembut dan tidak begitu meledak-ledak ketika marah atau emosi. (ika)




Kalender

Januari 2007
S S R K J S M
« Nov   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,762 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan