Arsip untuk November, 2006

22
Nov
06

Maksimalkan Potensi untuk Eksis

Improve untuk Hadapi Masa Sulit

Yuliana, Sekretaris Presiden Direktur dan Staff Personalia PT Giken Precision Indonesia

Posisinya di perusahaan tempat ia bekerja mau tak mau membuatnya juga ikut memikirkan perusahaan yang menaunginya. Di tahun 2005 ini, Yuliana mengaku kenaikan BBM begitu mempengaruhi kondisi perusahaannya bahkan kehidupan ekonomi pribadinya.

“Secara umum, di tahun 2005 ini bom krisis akibat BBM yang melambung tinggi mau tidak mau merubah sikap dan pandangan hidup. Misalnya karena harga barang-barang yang naik, perusahaan tempat saya bekerja pun otomatis terpengaruh karena motor penggerak produksi menggunakan solar yang selama tahun 2005 ini telah naik sebanyak enam kali, khususnya harga industri,” ujar Yuli.

Melihat kondisi tersebut, ia dan rekan-rekannya di perusahaan mencoba berpikir cara untuk tetap eksis dan survive meski dalam kondisi tersebut. Ia bercerita, perusahaan tempat ia bekerja pun mencoba melakukan efisiensi produksi dalam hal kerja dan produksi baik dari segi efisiensi waktu ataupun penghematan pengeluaran. .

            Selain sebagai sekretaris, dalam perusahaan tersebut Yuli juga memiliki posisi sebagai staff personalia. Di tahun 2005 ini ia mengaku begitu banyak calon tenaga kerja yang harus berusaha lebih keras lagi dengan segala upaya untuk bisa mendapatkan pekerjaan.

            “Tapi tentunya tidak semua bisa kita tampung. Saya hanya berikan solusi atau nasihat kepada mereka untuk selalu ingat kepada Tuhan. Kadang, saya juga berikan solusi tawaran kepada mereka untuk menjadi tenaga harian apabila kebetulan ada lowongan untuk itu,” ujar ibu dari dua putra satu putri ini.

            Bila ditanya seperti apa rencananya di tahun 2006 mendatang, ia mengaku masih belum menemukan titik terang. “Saya hanya bersikap optimis hadapi masa datang. Berusaha banyak perbaiki kekurangan diri, dan “improve” untuk menghadapi masa sulit.

            Keoptimisannya juga membuatnya yakin, akan tetap ada peluang khusus untuk usaha dan karir. “Dengan begitu kita tetap bisa survive dalam keadaan begini. Selain itu memaksimalkan potensi juga diperlukan,” imbuh wanita asal Yogyakarta ini. (ika)

 

Ingin Bisa memberi Manfaat Lebih

Helda Indah Nontina, Staf Administrasi Biro Umum Otorita Batam

Shio ayam di tahun 2005 bisa diramalkan membawa bintang terang bagi mereka yang bernaung di bawah shio tersebut. Dan mungkin inilah yang dirasakan oleh Helda Indah Nontina, Staf Administrasi Biro Umum Otorita Batam di tahun ini.

“Saya pikir ketika saya datang ke Batam saya akan mendapat pekerjaan di sebuah PT atau jadi Sales lagi,” ujar wanita kelahiran 21 Maret 1981 ini seperti tak percaya, “Tetapi ternyata Tuhan memberi saya lebih dari yang saya kira.”

Anugerah lain pun ia terima. Di bulan Maret tepat di hari ulang tahunnya, ia memutuskan mengenakan jilbab hingga kini. Alasanya agar lebih mensyukuri nikmat dari Allah SWT.

Segala anugerah dan nikmat yang ia rasakan tidak membuatnya terlena begitu saja. Ia selalu mencoba untuk memperbaiki diri setiap harinya. Rencana di tahun 2006 pun sudah terbayang dibenaknya. “Di tahun depan saya ingin lebih bisa memberikan yang terbaik dan bermanfaat untuk orang lain, baik untuk di kantor, masyarakat dan juga keluarga,” akunya.

Untuk mewujudkan rencananya, ia bertekad akan lebih menjadwalkan apa yang akan dikerjakannya. Salah satu caranya, dengan mencoba melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya, bekerja dengan optimal dan selalu belajar untuk menambah pengetahuannya. Ia mengaku secara tidak langsung hal tersebut dapat mempengaruhi kinerjanya sehingga menjadi lebih teratur.

Selain itu ia pun berencana untuk menambah ilmu pendidikannya dengan menempuh kuliah lagi. “Dengan bertambahnya ilmu, saya ingin berbagi pengetahuan dengan yang lain sehingga menambah pengalaman dan bermanfaat untuk masa depan.”

Ada satu lagi yang membuat Helda selalu terpacu untuk jadi lebih lebih baik setiap harinya. Wanita asal Lampung ini memiliki motto “Jadikan hidupmu bermanfaat untuk orang lain setiap harinya dan membiasakan hal yang benar dan tidak membenarkan kebiasaan.” Nah, bisa ditiru kan? (ika)

 

Belajar dari Perkembangan

Hj Nenny Sailun, Pemilik Ukita Boutique House of Muslim

            Perasaan lega ketika mempunyai usaha sendiri terlontar dari Hj Nenny Sailun, Pemilik Ukita Boutique House of Muslim. Apalagi kini butik tersebut telah melewati masa satu tahun.

            “Ada kepuasan dari puany usaha sendiri,” ungkap Nenny yang juga bergerak di bidang usaha kontraktor. Namun, ia mengaku di usaha kontraktor tersebut ia tidak terjun secara langsung.

            Dari usaha butik itu ia juga mendapat hikmah. “Banyak teman, banyak saudara, banyak sahabat, banyak kenalan,” akunya.

            Rencana di tahun 2006 mendatang selain ingin menambah momongan, ibu dari dua putra ini ini juga ingin umroh. Sedangkan untuk butik, ia berencana ini lebih memvariankan isi koleksinya.

            “Saya ingin rubah image butik. Nggak malah, kualitas butik harga nggak. Saya juga ingin butik saya punya ciri khas tersendiri,” itu yang dipegangnya di tahun ini hingga tahun depan.

            Di tahun 2006 nanti, ia juga terus berikhtiar, berdoa, dan berusaha. Semua itu juga diimbangi dengan terus belajar dari segala sisi. “Saya belajar dari media dan perkembangan agar tidak ketinggalan tren. Ini bisa mempengaruhi rancangan saya sendiri di butik ini,” ujar Nenny. (ika)

22
Nov
06

S2 Lagi

Lebih Banyak Waktu untuk Anak

            Ketertarikan Hilda Widyastuti pada dunia penelitian membangkitkan semangatnya untuk melanjutkan S2. Apalagi ditambah dengan tuntutan profesinya yang menjadi dosen di Politeknik Batam, makin menguatkan tekadnya untuk kembali ke bangku kuliah.

            “Apalagikan ada peraturan dosen minimal S2. Selain itu saya juga ingin tambah ilmu terutama penelitian,” ujar wanita kelahiran Pati, 12 Mei 1977 ini yang kini menjadi dosen Tehnik Informatika, Politeknik Batam.

            Akhirnya setelah melewati diskusi dengan sang suami, ibu dari seorang putri yang masih berusia tiga tahun inipun dalam waktu dekat akan melanjutkan pendidikan S2nya di Institut Teknologi Bandung.

“Saya diskusi dengan suami dulu, jelaskan tujuannya apa. Untungnya dia bisa memahami sehingga mengizinkan. Nanti anak ikut saya ke sana,” ujarHilda yang mengaku justru malah akan memiliki waktu banyak bersama putrinya nanti.

Profesi Nurul yang selama ini memang sudah berkutat di dunia akademis membuatnya tidak terlalu banyak dituntut untuk melakukan persiapan khusus menjelang studi S2nya. “Paling-paling, jadi harus lebih mandiri. Ya dicoba saja,” imbuhnya.

Hilda mengungkapkan, keinginannya untuk menempuh S2 sebetulnya sudah ada sejak satu tahun yang lalu. Namun baru terlaksana sekarang karena ia smepat kebingungan untuk memilih universitas. Akhirnya pilihan Hilda jatuh untuk kembali ke ITB.

Karena membawa si kecil untuk turut serta ke Bandung, Hilda nantinya memerlukan seorang pengasuh untuk putrinya nanti. “Waktu saya justru lebih banyak dengan dia nani. Kalau S2 kan kuliahnya tidak seberapa waktunya. Kalau suami mungkin nanti kita saling mengunjungi saja,” ujar Hilda yang rencananya akan menempuh S2nya selama dua tahun. (ika)

22
Nov
06

Presentasi Tanpa Rasa Grogi

Persiapkan Pertanyaan yang Akan Muncul

            Bagi mereka yang tidak biasa berbicara di depan umum, presentasi bisa jadi menjadi momok yang amat menakutkan. Masalah-masalah seperti rasa grogi, tidak percaya diri, takut jika tidak bisa menjawab, sebetulnya bisa diatasi dengan beberapa cara.

            Cara yang paling umum atau awal menurut Agung B Siregar, Bidang Rekruitmen di PT Prambanan Karya Sukses (PKS) adalah menguasai materi terlebih dahulu. “Penguasaan materi itu yang harus diperhatikan. Apa yang akan dipresentasikan hendaknya harus dikuasai dahulu. Termasuk pertanyaan yang akan muncul,” ujar Agung.

            Jika penguasaan materi ini kurang, akibatnya penyaji dalam presentasi biasanya berkemungkinan mengalami rasa blank atau kosong saat berhadapan dengan para audiens. Menurut Agung yang juga psikolog di Duta Medical Centre, hal itu bisa disebabkan adanya penumpukan emosi yang tersumbat.

            “Jadi harus dilatih dahulu,” imbuhnya. Latihan sebelum tampil ini penting misalnya dengan berlatih tampil di depan kaca. Latihan juga perlu dilakukan dalam penguasaan alat bantu.

            Namun jika dalam presentasi tidak tersedia alat bantu, calon pemateri bisa membuat catatan-catatan kecil yang berisi ringkasan dari materi yang akan disajikan. “Bikin catatan-catatan kecil yang bisa dilihat,” ujar Agung.

Namun bagaimana jika di tengah-tengah penyampaian materi ada pertanyaan dari audiens yang tidak bisa dijawab? Memang bisa jadi, hal ini dikarenakan kurangnya peguasaan materi dari pemateri sendiri. Namun ada cara yang bisa dilakukan sehingga jalannya presentasi ini tidak tersendat-sendat.

“Tunda dulu untuk menjawab pertanyaan yang ada. Kita kumpulkan dulu baru berpikir untuk menjawab pertanyaan yang tadi. Atau, bisa juga lempar jawaban kepada peserta untuk menutupi kelemahan,” jelas Agung. (ika)

 

Ngobrol Santai Sebelum Presentasi

            Selain penguasaan materi, calon pemateri juga bisa mengalami rasa grogi karena canggung untuk berbicara di depan peserta. Lakukanlah pendekatan terlebih dahulu kepada peserta presentasi untuk menghilangkan rasa grogi.

            “Lima atau tiga menit sebelum presentasi, datang mereka dan ngobrol dengan santai. Apalagi kalau dianggap orang baru,” saran dari Agung.

            Ketika presentasi, untuk mereka yang kurang terbiasa berhadapan dengan orang banyak, jangan tatap mata para peserta audiensi satu persatu. Tataplah secara sepintas sehingga terkesan menatap tapi sebetulnya tidak. “Kalau satu-satu biasanya grogi,” imbuh Agung.

            Gerak tubuh pada saat presentasi usahakan untuk tidak kaku. Lakukan gerakan maju ke depan atau ke belakang audien. Selain gerak, gaya tutur pun bisa diatur hingga menjauhkan dari rasa grogi.

            “Selingi dengan kata-kata joke dan gunakan bahasa sehari-hari jangan bahasa baku. Nada ucapan juga jangan yang monoton,” saran Agung terutama dalam mengantisipasi audien agar tidak bosan selama presentasi berlangsung.

            Dan yang terakhir adalah pakaian. Dengan pakaian yang rapih, penampilan dan presentasi pun secara tidak langsung akan berpengaruh. (ika)

21
Nov
06

Karyawan Baru

Harus Lebih Aktif

            Sebagai karyawan baru di sebuah lingkungan kerja tertentu, tentunya ia harus mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tersebut. Adaptasi ini mau tidak mau harus dilakukan oleh karyawan baru tersebut, dan bukannya lingkungan baru yang menyesuaikan diri.

            “Lingkungan kerja baru ini membutuhkan skill khusus dari karyawan baru tersebut sesuai dengan tempat kerjanya,” ujar Sri Susilowati, Senior Executive HRD Batamindo.

            Ia menambahkan, beda perusahaan pastinya juga memiliki perbedaan lingkungan kerja. Meskipun, itu ada dalam bidang profesi yang sama. “Misalnya saya yang kerja di bidang HRD di Batamindo tentunya beda jika saya bekerja di AIT,” imbuhnya.

            Susi kemudian memberikan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh mereka yang ada dalam posisi karyawan baru. Yang pertama adalah beradaptasi dengan sistem. Penyesuaiannya dilihat pada ritme kerja dan peraturan yang ada di lingkungan baru tersebut.

            “Setiap tempat punya budaya sendiri baik itu tertulis maupun tidak tertulis. Terutama yang tidak tertulis ini yang perlu diperhatikan,” tambah wanita yang juga menjadi bendahara di Ikatan Praktisi Sumber Daya Manusia (IPSM).

            Sebagai orang baru, penyesuaian dengan rekan kerja baru juga harus lebih dilakukan. Maksudnya, karyawan baru perlu lebih pro aktif kepada para karyawan lainnya yang telah lebih dulu ada.

            “Kita harus lebih ramah, lebih dulu mengenalkan diri, serta aktif memulai pembicaraan. Ini karena orang baru ada dalam masa percobaan atau transisi. Biasanya kinerjanya sangat dilihat. Jadi orang baru harus bisa menunjukkan etos kerja yang bagus,” terang Susi.

            Etos kerja yang lebih baik ini diwujudkan dalam sikap kerja yang lebih baik, menyelesaikan tugas tepat waktu, atau bersikap disiplin. Dengan menunjukkan etos kerja yang lebih baik, perusahaan pun menjadi merasa tidak rugi karena telah merekrut kita.

            Mengapa sikap-sikap tersebut perlu dilakukan oleh karyawan baru, karena sebagai orang baru biasanya ia akan mudah menjadi bahan sorotan. “Kalau orang yang masih baru itu kan terhitung asing. Dia biasanya mudah menjadi bahan omongan karena gampang kelihatan. Lain dengan orang lama yang kita sudah terbiasa dengannya,” jelas Susi.

            Sikap pro aktif terhadap lingkungan baru terutama karyawan lama juga bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan momen-momen untuk bersosialisasi. Di sini karyawan baru harus memiliki trik-trik untuk memanfaatkan situasi sehingga bisa dekat dengan orang lama.

            “Misalnya, kita bisa memanfaatkan momen makan siang atau ikutan kumpul pas istirahat,” saran Susi. (ika)

 

Manfaatkan Masa Orientasi Perusahaan

            Cara bersosialisasi dengan lingkungan baru ini biasanya juga bisa diinisiatifi oleh pihak perusahaan sendiri. Di beberapa perusahaan, biasanya akan memberikan beberapa kegiatan awal yang bisa diikuti oleh karyawan baru.

            Pada masa awal sebelum karyawan baru bekerja, perusahaan akan memberikan masa orientasi atau yang biasa disebut company induction. “Company induction ini merupakan cara perusahaan agar orang baru bisa beradaptasi cepat. Jadi ketika karyawan baru tersebut masuk, dia sudah terbayang seperti apa dunia kerja yang akan dihadapinya,” jelas Susi.

            Selanjutnya ada pula masa on job training. Di masa ini, perusahaan akan membantu karyawan baru untuk menyesuaikan diri dengan bidang kerja yang lebih spesifik. Di sini, akan ada karyawan lama yang ditunjuk untuk membimbing karyawan baru untuk belajar sambil bekerja.

            “Biasanya yang mengemban tugas ini adalah atasan langsung yang ditunjuk untuk membimbing karyawan baru tersebut,” imbuh Susi.

            Di kedua masa ini bisa dimanfaatkan oleh karyawan baru untuk lebih mengenal dunia kerjanya yang baru. Jadi meski berstatus baru, karyawan baru ini nantinya tidak merasa kikuk dalam menjalankan tugas di tempat kerjanya yang baru. (ika)

 

Lakukan Pendekatan dengan Tepat

            Sebagai karyawan baru, kemungkinan untuk dicap sebagai pesaing oleh karyawan lama bisa saja terjadi. Ini bisa dikarenakan etos kerja karyawan baru yang masih tinggi sehingga tanpa disadari, justru membuat karyawan lama tersaingi.

            Namun hal tersebut bisa disiasati dan dihindari dengan mencoba bersikap supel dan ramah kepada para karyawan lama. “Kuncinya di sosialisasi. Kita bisa ramah dan supel tapi juga janganjadi sok akrab,” Susi memperingatkan.

            Sikap over acting juga bisa membuat karyawan baru menjadi tidak disukai di lingkungan barunya. Sikap kerja yang terlalu rajin memang bisa membuat orang karyawan lama menjadi tidak suka.

            Jadi kuncinya, lakukanlah pendekatan dengan cara yang tepat. Ketahuilah dahulu seperti apa kondisi orang yang ada di tempat kerja yang baru. Selain itu Susi juga mengingatkan, jangan terlalu jauh melangkahi batasan kerja dari karyawan lain.

            “Lihat dulu kondisi lingkungan seperti apa. Misalnya ketika melihat karakter si A yang tidak suka didahului, lakukan pendekatan yang tepat. Dengan pendekatan yang tepat serta sikap kita yang tidak over acting, masalah tersebut bisa dihindari,” jelas Susi.

            Dengan pendekatan yang tepat terlebih dahulu, masalah dengan karyawan yang lama jadi bisa dihindari. Karyawan baru pun tetap bisa menunjukkan etos kerjanya dan berusaha bekerja dengan lebih. (ika)

21
Nov
06

Kritik dalam Kerja

Bahan Baku Kembangkan Diri

            Kritik, siapa pun yang mendengarnya baik suka atau tidak, mungkin akan merasakan telinga menjadi merah kala mendengarnya. Lantas apa bedanya kritik dengan feed back atau masukan, sebetulnya kedua hal tersebut adalah sama.

            “Tergantung kitanya. Sebetulnya kalau netral, kritik itu sama dengan feedback. Tapi kemudian arti kritik itu menyempit menjadi negatif, terlihat mencela, dan memperlihatkan kalau kita tidak mampu. Maka itu diperlukan pijakan yang benar untuk menerima kritik,” ujar Sri Susilowati, Senior Executive HRD Batamindo.

            Kritik sendiri memang terbagi menjadi dua macam, kritik yang beralasan dan tidak jelas. Namun seperti apapun adanya kritik, menurut Susi, sebetulnya bisa menjadi bahan baku untuk mengembangkan diri. “Tapi menjadi terlihat beralasan atau tidak tergantung juga dari yang menerimanya,” imbuh Susi.

            Untuk itu yang harus dibangun dari kritik adalah hal yang positif. Kritik sendiri biasanya memang bersifat menilai. Namun harapannya dari adanya kritik ini orang yang menerimanya bisa berubah.

            “Ada tiga tahapan seseorang ketika menerima kritik. Pertama dia menaydari dengan tahu tujuan dari kritik yang diterimanya. Tempatkan mindset kalau kritik itu hal yang positif. Kalau kita menilainya secara negatif tentunya akan menolak,” jelas Susi.

            Tahapan kedua adalah menilai kebenaran dari kritik tersebut dan mengevaluasi apa yang ada dalam diri kita terkait dengan kritik tersebut. Tentunya dalam proses menilai ini ada standar dan alasan yang masuk akal. “Kalau ada orang yang tidak kenal dan tahun menilai kita, tentunya kritik itu perlu dipertanyakan.”

            Sedangkan tahap yang ketiga adalah bertindak. Dalam tahapan ini menurut Susi yang juga menjadi bendahara di Ikatan Praktisi Sumber Daya Manusia (IPSM), seseorang yang menerima kritik bisa berubah setelah sadar dan menilai kritik yang diterimanya. (ika)

 

Bangun Sistem Kebaikan Bersama

            Siapa yang tak kenal kejayaan perusahaan Matshusita. Pemilik dari perusahaan asal Jepang ini ternyata membudayakan kritik dalam perusahaannya sebagai bagian dari budaya kerja. Kritik ini pula yang menjadi penentu dari keberhasilan perusahaan tersebut.

            “Kritik di lingkungan kerja ini sebetulnya untukmembangun sistem bagi kebaikan bersama. Kritik ini perannya sebagai feedback. Namun tentunya kritik yang diberikan dalam lingkungan kerja harus beralasan dan ada data-data yang mendukung,” jelas Susi.

            Menurut Susi, bentuk kritik sebetulnya netral baik itu atasa ke bawahan atau sebaliknya. Namun diakuinya, bisa ada kemungkinan beberapa posisi perusahaan yang riskan bersentuhan dengan kritik.

            “Biasanya posisi supervisi lebih susah menerima kritik karena ia bertugas mengawasi, kemudian atasan yang menerima kritik dari bawahan, dan orang yang lebih tua mendapat kritik dari bawahannya,” ujar Susi.

Ditambahkannya, kebanyakan perempuan biasanya sulit memberikan kritik kepada orang lain. Menurut Susi, ini dikarenakan sifat perempuan yang kebanyakan takut tidak diterima atau dimusuhi setelah memberikan kritik.

Namun dalam lingkungan kerja, atasan tentunya harus siap menerima kritik. Caranya bagi bawahan adalah harus menyampaikannya dengan benar. Demikian pula kritik yang diberikan oleh atasan kepada bawahan.

“Kalau kurang tepat, bawahan bisa ngambek setelah menerima kritik dari atasan. Ini bisa berefek pada unit kerja, ketidakpuasan, dan memicu hubungan industrial. Selain itu karyawan yang menerima kritik pun bisa stres kalau kritik yang diterimanya disampaikan kurang tepat caranya,” jabar Susi. (ika)

 

Meniru Mpok Minah Bajai Bajuri

            Tahu tokoh Mpok Minah yang ada dalam film Bajaj Bajuri? Tokoh yang kerap mengucapkan kata maaf di awal ucapannya itu sebetulnya bisa ditiru gayanya untuk kita yang ingin menyampaikan kritik.

            “Angkat dulu posisi orang yang akan dikritik, seperti menyampaikan sisi positif yang dimiliki dahulu atau memujinya. Mengucapkan kata maaf terlebih dahulu ada baiknya sebelum kita memberikan kritik. Tapi tentunya bukan seperti Mpok Minah yang terlalu kebanyakan kata maaf, itu seperti orang yang kalah,” gurau Susi.

            Pemberi kritik juga harus tahu dahulu tipe penerima kritik seperti apa. Kalau ia bertipe sensitif, berikan kritik dengan cara yang halus atau dalam kondisi santai. Susun juga kalimat yang bijak dalam memberikan kritik dan jangan sampaikan dengan cara yang kasar atau emosional. “Jangan mengkritik dalam kondisi emosional,” tegas Susi.

            Dan yang terakhir, jangan sampaikan kritik di tempat umum. Biasanya, orang merasa terancam harga dirinya sehingga menjadi reaktif ketika menerima kritik. (ika)

 

Nikmatilah Kritik

            Lantas bagaimana sikap yang perlu dibangun oleh mereka yang menerima kritik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi mereka yang menerima kritik. Bangun dulu kerangka berpikir positif terlebih dahulu tentang apa itu kritik.

            “Biasakan juga bertanya kepada orang tentang apa yang memang menjadi kekurangan kita. Selanjutnya, nikmatilah dan syukurilah kritik itu sebagai pengembangan diri,” sambung Susi.

            Setelah kita menerima kritik, evaluasi apa yang telah diucapkan orang lain tentang diri kita terutama tentang kebenarannya. Jika benar, perbaiki diri kita. Satu lagi yang bisa dibiasakan pada diri kita adalah bergaul dengan orang-orang yang suka memberikan kritik.

            “Karena kritik itu adalah cermin. Kita tidak akan tahu seperti apa diri kita kalau tidak menerima kritik dari orang lain,” saran Susi. (ika)




Kalender

November 2006
S S R K J S M
« Okt   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 373,429 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan