Sebalnya hari ini. Kadang kalau dipikir ganjil banget. Masa iya seharian aku bertemu dengan orang-orang yang nggak ikhlas? Ih kok bisa-bisanya aku nge-klaim kayak gitu. Tapi habis mau gimana lagi. Apa iya ada orang ngasih bantuan tapi minta dipublikasikan. Kalau ada kayak gitu namanya apa dong coba?
Pagi tadi saat baru masuk ke kantor, kehebohan dimulai. “Ih tengok lah ini! Masa nama dan jumlah yang disumbangkan sama dengan yang kemarin. Koran ini ngaco ah,” gerutu Sisi, Sekretaris Redaksi.
Sementara itu di hadapannya berdiri Mbak Gege dan Mas Feri yang mengamati koran lainnya. “Wah, lumayan nih koran kita. Jumlah penyumbang yang dilewatkan kita dengan koran yang ini lebih banyak kita,” nada bangganya Mbak Gege.
“Itu mbuktiin kalau koran kita lebih dipilih,” Mas Feri nambahin.
Aku diam sambil nyengir sendiri. Bisa juga ya orang-orang ini tahu jumlah peminat dan pembaca koran dari banyaknya mereka yang menyumbang ke korannya.
Satu hal terlewatkan hari tadi. Tingkat penyumbang ternyata bisa dikorelasikan dengan jumlah pembaca. Nggak berheti di situ, ada kejadian siang tadi. Tahu-tahu manajer sebuah hotel meneleponku. “Mbak Fina, siang ini bisa nggak makan siang di sini?” undang Mbak Weni, manajer hotel tersebut.
Aku bengong. Hah, makan siang, siapa yang nggak mau. He he he dasar rakus. Tapi aku langsung ingat, “Ngomong-ngomong ada acara apa ya Mbak?” untung otak warasku kembali normal.
“Pokoknya datang aja deh. Ini juga sudah ada Mbak Rini. Aku mau kasih berita nih,” jawabnya.
Rini? Dia kan wartawan hiburan juga. Ya aku pikir waktu itu Mbak Weni mau kasih berita hiburan. Paling produk baru untuk rubrik Leisure. Aduh begini ini deh asyiknya jadi wartawan hiburan. Udah dapat berita, makan gratis pula.
Langsung aku melesat setelah pamit ke redakturku. “Gitu ya kalau ngeliput. Nanti makanannya dibungkus aja,” ujar Mami, demikian aku memanggil redakturku tersayang yang sudah warning-warning.
Ih, malu-maluin aja bawa makanan dibungkus. Becanda kali nih orang. Masa iya tawaran undangan makan siang aku jawab dengan, “Bisa nggak Mbak makanannya dibungkus?” Wah, bisa diketawain.
Sampai di sana Mbak Weni dan Rini memang sudah menunggu. “Ayo Fina, kamu mau makan apa nih?” tawarnya.
Aku senyum. “Aduh mbak, aku udah makan nih,” bohong pastinya. Walaupun sudah makan masa iya langsung he-eh.
“Lho kan tadi sudah aku bilangin undanan makan siang. Ya sudah, kalau Mbak Rini pesan sop buntut. Apa kamu pesan sama juga?” Mbak Weni ternyata belum nyerah juga.
“Ya sudah deh mbak, sama. Tapi jangan pakai nasi ya.” Ho ho ho, sop buntut gratis nih, sejenak aku tersenyum layaknya Joker yang menang.
“Ada berita apa mbak?” aku udah nggak sabar.
“Begini Fin, ya bukannya kita ada ingin dipublikasikan, tapi bisa deh kalian tulis kalau kita sudah ngirim bantuan untuk Aceh juga.” Nah lho, kalau diomongin kayak begini namanya apa coba? Aku bengong.
“Terus mbak?” Sementara dalam hati aku sudah menjerit, Ya Allah, aku udah mau pulang aja deh kalau begini tahu buntutnya. Sementara itu Sop Buntut pesananku sudah terhidang di atas meja.
“Ya, hari ini kita sudah transfer lewat bank senilai Rp 50 juta untuk korban tsunami di Aceh. Untuk itu kami karyawan di hotel ini mau menyisihkan gajinya sekian persen dalam sumbangan tersebut,” papar Mbak Weni.
Ampun deh. “Berapa persen ya mbak, gaji karyawan hotel sini yang disisihkan,” aku masih coba tarik sisi yang ada human interestnya. Mungkin biarpun isi beritanya tentang hotel ini yang telah menyisihkan gajinya untuk disumbangkan, tapi ada cerita yang itu menarik pembaca untuk membacanya.
“Yah, tulis aja deh kayak yang tadi aku bilang.” Ih, keukeuh banget deh si embak. Aku udah nggak yakin nih redakturku mau nerima berita kayak begini.
“Oke, Fin. Kalau gitu sekarang sop buntutnya di makan dulu, deh. Jangan lupa, kalau bisa ditulis…” Mbak Weni berpikir sebentar, “Yah, pokoknya tulis aja deh ada nama Harmoninya sama tulisan ngasih bantuan untuk Aceh di judulnya. Bisa kan,” senyum manis Mbak Weni mengembang. Nyoba ngerayu nih, Mbak?
“Tapi sori lho, Mbak. Soalnya kebijakan ada di redaktur, bukan kita.”
“Yah, please deh Fin. Masa nggak bisa sih kamu usahain?” Yee, kok jadi maksa ya, Mbak Weni.
Untungnya Rini menambahkan, “Iya mbak, kalau kita tugasnya cuma nulis berita. Tapi kalau kebijakan menaikkan berita itu ada pada redaktur,” ternyata nasibnya sama juga dengan aku.
“Tapi nanti deh aku usahain mungkin masuk di kuping halaman. Biasanya kita mencampur berita-berita seperti itu menjadi satu dan diletakkan di sebelah tepi halaman.” Oh Rini, mengapa engkau tidak senasib denganku ternyata.
“Nah, kayak begitu Fin. Bisa kan. Masa susah sih,” Mbak Weni masih terus mendesak.
Ya sudah, dengan mulut sedikit terbuka dan senyum terpaksa akhirnya terucap tiga buah kata, “Akan saya usahakan.”
Dan betul, sampai kantor, setelah berita itu aku ketik, redakturku berkata seperti ini, “Beritanya nggak naik, Fin. Soalnya sisi human interestnya nggak ada. Lagi pula kalau dia kirim bantuannya lewat kita, baru deh kita muat,” katanya setelah keluar dari ruang rapat redaksi.
Aku senyum puas. Tapi juga seketika nggak enak. Waduh, bagaimana sop buntut yang sudah masuk di perut ini? Apa nanti Mbak Weni nggak marah kalau tahu berita ini ternyata nggak naik?
Lagi bingung mikirin yang itu, eh, datang keributan baru di ruang redaksi. “Ambil kamera, ambil kamera,” ujar Mas Heri, Redaktur desk Kota.
“Ada apa?” aku bingung.
“Ada orang mau kasih bantuan.” Lho, terus apa hubungannya.
Baru aku tahu setelah sampai bawah. Ternyata di balik dua orang yang datang ingin menyerahkan bantuan, ada bertumpuk-tumpuk bahan bantuan yang dapat menjadi obyek foto bagus, itu menurut orang-orang kantor.
Ya, itulah kejadian kedua tentang ketidakikhlasan alias pamrih demi para korban Aceh dan Nias. Ih, tragis kan. Naasnya nasibku hari itu masih ditambah dari sebuah telepon yang aku terima.
“Mbak, bisa nggak ada wartawan yang dikirim ke mari untuk ngeliput,” pinta sebuah suara pria di seberang.
“Ehm, ada apa ya Pak?”
“Begini, kita dari pengurus takmir masjid sedang mengadakan kegiatan pengumpulan bahan-bahan bantuan untuk korban Aceh. Sekarang ini sedang ramai orang yang memilih-milih baju layak pakai untuk dikirim ke sana.”
Waduh, ini apalagi ya. “Mm, begini deh Pak. Saya blang ke redaktur dulu tentang hal ini. Nanti kepastiannya seperti apa kita beri tahu. Nama, nomor telepon, dan alamat bapak di mana ya?” Udah deh dicatat aja, pikirku. Hitung-hitung biar dia nggak kecewa banget.
“Mi, kalau kasih bantuan yang bisa dimuat itu yang kayak gimana sih?” dengan nada putus asa aku ngadu aja ke Sekretaris Redaksi.
Dia jawab, “Kalau ngasih bantuannya lewat kita bisa diliput. Tapi kalau enggak gitu, ya nggak bisa,” jawaban yang mengecewakan orang termasuk manajer hotel yang udah ngasih sop buntut tadi dong.
Dengan langkah putus asa, aku mencoba menghibur diri masuk ke ruang dokumentasi. Sampai sana si Wawan sedang asyik dengan komputernya.
“Lagi ngapain, Wan?” sebuah pertanyaan yang jelas banget basa basinya.
“Ini nih, lagi ngelihat berita di basket news,” jawab Wawan yang ternyata sedang serius tidak seperti yang aku duga. Biasanya dia akan menjawab, “Ya lagi ngadep komputer,” sebuah jawaban yang tepat atas sikap basa basiku. Tapi kali ini…
Aku langsung melongo mencoba ikut ingin tahu apa yang sedng dibacnya. “Mobil yang dinaikin Manda kecebur ke jurang,” Nah lho, terus nasib si Manda gimana dong? Apa dia bisa sampai Aceh tuh?
“Gimana ceritanya sih sampai bisa kayak gitu? Manda sama Heri selamet nggak?” aku kok langsung nggak enak mikirin nasib dua kawanku yang jadi banpur alias bantuan tempur untuk koran di sana yang masih ada hubungan dengan koran tempatku kerja.
“Ada dua mobil yang ngangkut rombongan wartawan dari Medan yang mau ke Aceh. Si Manda sama Heri naik mobil terpisah. Nah yang masuk jurang ini mobil yang dinaikin sama rombongannya Heri.”
“Ada yang luka?”
“Nggak, cuma ada satu orang fotografer yang kameranya rusak sama bahan bantuan yang rusak.”
“Hah!”
“Iya, nih lihat berita yang ini,” Wawan lalu menunjuk ke arah sebaris tulisan. Di dalam berita itu memang tertulis sebagian dari bahan bantuan yang sedianya mau dibawa ke Aceh rusak sebagian. Jadi, hanya sebagian yang bisa diselamatkan dan bisa dibawa ke Aceh.
Aku tertegun. Kok bisa? Tapi kalau mengikuti ceritaku seharian ini masa iya karena itu?
Dan di malam ini, dalam keremangan kamar sembari menatap bintang di langit, ups didramatisir, aku merenungi kejadian seharian yang menimpaku. Masa iya sih karena mereka-mereka yang nggak iklas ngasih bantuan sampai ada kejadian kayak begitu. Mobil tergelincir, separuh bahan bantuan rusak. Ya Allah…
Tapi aku juga nggak habis pikir sama mereka yang sudah berbuat begitu. Masa iya sih di atas penderitaan orang yang sudah pasti menderita mereka mau cari harumnya nama sendiri?
“Tit tit, tit tit!” suara ponselku menandakan menerima pesan pendek atau sms. “Gimana Fin besok, beritanya bisa dimuat kan?” Nah lho!











0 Tanggapan ke “Satu Hari yang Berjudul Pamrih”