03
Okt
06

Nisannya Timbul Sendiri, Cerita dari Pulau Subang Mas

            “Putri Dahlia berkata kepada saya, mudah-mudahan kawasan ini akan maju,” demikian Senin, juru kunci makam Putri Dahlia menirukan ucapan sang putri yang pernah datang dalam mimpinya. Cerita tentang Putri Dahlia sendiri menjadi hal yang unik bagi masyarakat Pulau Subang Mas.

Bagaimana tidak, makam putri asal Daik Lingga ini bisa muncul sendiri dari atas tanah. Padahal, masyarakat di daerah tersebut sebelumnya tidak pernah melihat adanya area pekuburan. Cerita Senin pun diawali dari sebuah peristiwa pada tahun 1997.

“Jadi ceritanya ada seorang wanita bernama Beti yang tinggal di Penghujan, Pulau Bintan. Mamaknya keturunan Daik dan bapaknya orang Padang. Suatu ketika dia mimpi ada orang mengaku bernama Putri Dahlia yang minta kuburannya disalurkan kain kuning. Waktu itu dia cuma cerita ke mamaknya,” kata Senin.

Satu dua mimpinya itu kemudian tidak dianggapnya penting oleh Beti. Namun setelah mimpi yang ketiga dan Beti masih tetap tidak berusaha mencari makam tersebut, ia kehilangan suaranya.

“Dia kemudian diantar temannya ke sini dan ketemu dengan saya. Waktu itu sekitar dua hari sebelum puasa tanggal 29 November 1997. Saya tunjukkan sebuah tempat yang memang sebelumnya dianggap keramat oleh masyarakat sini. Tapi ternyata Beti menggeleng bukan,” lanjut Senin.

Perjalanan menyusuri tepi pantai untuk mencari makam Putri Dahlia pun berlanjut. Tiba-tiba dalam perjalanan pencarian, Beti menunjuk ke arah sebuah tempat dan keluarlah suaranya setelah sekian lama tidak bisa bersuara.

“Ini makamnya. Ini makam dayang pengasuh dan ini makam panglima,” Senin menirukan suara Beti. Ia dan masyarakat pun dibuat terkejut karena selama ini tidak pernah melihat adanya nisan di daerah tersebut.

Setelah diberi kain kuning seperti pinta Putri Dahlia dalam mimpi Beti, satu persatu nisan entah mengapa lambat laun muncul tiba-tiba hingga kini. Senin mengaku nisan tersebut biasanya ditemukan saat ia sedang membersihkan area makam. Ada yang nisannya terbuat dari batu berukir, adapula yang terbuat dari kayu.

“Kita juga sudah minta bantuan dari pemerintah. Saat itu pemerintah mau kasih bantuan untuk melindungi makam asal sejarahnya jelas. Setelah ditelusuri ke Lingga, memang benar pernah ada seorang putri entah dari selir yang mana yang bahteranya karam,” Senin berkisah.

Dalam mimpi Snin, Putri Dahlia juga mengatakan kalau ia dan seluruh awak bahtera yang dinaikinya setelah dari Pulau Penyengat, karam ketika akan pulang ke kerajaan di Daik. Tempat keramat yang awalnya dihormati oleh masyarakat Subang Mas ternyata tempat karamnya kapal.

Dalam gambaran mimpi Senin, ia bercerita kalau Putri Dahlia memiliki rambut panjang sepinggang dan berwajah cantik. Sedangkan panglima memiliki tubuh besar dengan selempang kuning menyilang di dada dan bahu, serta menggunakan tanjak yang mengikat rambut ikalnya. Dayang pengasuh sendiri sudah tampak tua, bertubuh pendek, dan rambutnya sudah beruban.

Kejadian-kejadian aneh pun sesekali terjadi. Misalnya ketika makam sudah ditemukan dan selama dua minggu, Senin tidak membersihkan makam, ia didera sakit. Begitu pula ketika tembok makam didirikan, seluruh masyarkat di Subang Mas diserang sakit tidak jelas. Namun Snin sendiri mengaku justru banyak dibantu oleh arwah Putri Dahlia. Dengan petunjuknya, ia kerap dibantu mengobati orang yang sakit.

Selain Putri Dahlia, adapula beberapa tempat yang menurut Senin memiliki kekuatan khusus. Misalnya singgasana Putri Dahlia yang terletak di tepi pantai. Bentuknya indah menyerupai kursi singgasana meski terbuat dari batu. Adapula batu cincin yang menurut Snin, tempat itu adalah persinggahan sepasang putri duyung. Ada juga batu berbentuk ketam yang berada di dua lokasi berbeda. Satu Pangeran Ketam Hitam dan satunya lagi Pangeran Ketam Putih.

Terlepas dari cerita mistik yang melingkari Pulau Subang Mas, pulau yang terletak tak jauh dari Pulau Rempang ini memang memiliki kecantikan tersendiri. Seperti Pantai Trikora yang berada di Pulau Bintan, Pulau Subang Mas juga memiliki batu-batu besar berwarna merah yang memiliki bentuk khas. Sementara itu di depan pulau ini terdapat Pulau Tunjuk yang nampak berkilau dengan pasir putihnya tepat di daerah yang menyerupai ujung jari telunjuk.

Sayangnya, kecantikan pulau ini kini terpendam. Beberapa tahun yang lalu memang sempat didirikan sebuah tempat wisata di sebuah sisi pulau. Namun tempat itu tidak berjalan lama. Keganasan laut terutama pada musim angin utara sempat menelan korban hingga pengunjung pun akhirnya jarang datang kembali ke pulau ini.

Transportasi untuk menuju pulau ini pun agak sulit. Jika dari Pelabuhan Punggur, siapaun yang ingin mengunjungi pulau ini harus mencarter dengan biaya sekitar Rp 100 ribu. Belum lagi perjalanan yang bisa menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk sampai ke pulau tersebut diiringi dengan gelombang lautan yang lumayan besar. Sedangkan dari daerah Rempang Cate yang memiliki posisi dekat dengan pulau Subang Mas, jarang ada penduduk yang mau mengantar hingga ke Pulau Subang Mas.

           

Berangkat Sekolah Harus Renang

            Masalah ombak yang mengitari Pulau Subang Mas juga menjadi kendala bagi anak-anak pulau tersebut untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Padahal, SMP ada di Pulau Air Raja yang terletak di bagian barat dari pulau tersebut. Hanya saja, kebanyakan masyarakat tinggal di bagian timur Pulau Subang Mas atau Pulau Tunjuk yang letaknya di sebelah timur Pulau Subang Mas.

            “Jaraknya sih cuma sekitar 200 meter. Tapi untuk ke sana anak-anak harus naik sampan dayung yang bisa makan waktu sekitar tiga jam. Belum lagi jalan ke sekolah yang butuh waktu setengah jam,” ujar Ustad Marzuki, dai pulau utusan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam dan guru bantu di SD 019 Subang Mas.

            Bisa juga anak-anak di pulau Subang Mas menempuh perjalanan darat dulu sekitar satu jam. Barulah mereka menyebrang dengan menggunakan pompong yang satu orang bisa menghabiskan Rp 10 ribu untuk pulang pergi setiap harinya.

            “Kadang karena banyak orangtua yang nggak tega, mereka dikoskan di sana. Biayanya juga lebih murah kos,” imbuh Marzuki.

            Bagi Muhamad dan Haripah, putri mereka, Elis, akhirnya disekolahkan di sebuah SMP di Rempang. “Di sana enak banyak kegiatannya,” ujar Haripah.

            Namun tak banyak yang seberuntung Elis. Riani misalnya. Gadis yang ingin menjadi guru SD ini harus pasrah untuk memutuskan pendidikannya hanya sampai SD karena tidak ada biaya.

            “Kos bisa seratus ribu lebih per bulan. Belum beli pakaiannya,” keluh Riani yang mengaku empat dari delapan murid di kelasnya yang tidak bisa meneruskan sekolah ke jenjang SMP seperti dirinya.

            Masyarakat di pulau tersebut memang begitu mengandalkan laut sebagai tempat mengais rejeki. Hanya satu dua saja yang mulai mengandalkan ladang untuk mata pencaharian.

            “Kalau semuanya mau kompak ngolah ladang mungkin enak. Kalau kaya kita sendiri kemarin ya hancur. Habis dimakan babi,” keluh Haripah.

            Sementara itu seperti umumnya nelayan mereka begitu tergantung pada kondisi cuaca. Apalagi saat musim angin utara, mereka bisa hanya memperoleh ikan untuk dimakan sendiri. Itupun dengan mengandalkan hasil dari tangkapan di kelong. (ika maya susanti, sri murni)


0 Tanggapan ke “Nisannya Timbul Sendiri, Cerita dari Pulau Subang Mas”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




Kalender

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,767 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan