Arsip untuk Oktober, 2006

31
Okt
06

Tertidur di Bawah Jembatan

.flickr-photo { border: solid 2px #000000; }
.flickr-yourcomment { }
.flickr-frame { text-align: left; padding: 3px; }
.flickr-caption { font-size: 0.8em; margin-top: 0px; }

Tertidur di Bawah Jembatan, originally uploaded by azs_teck.

31
Okt
06

Rokok dan Membaca

.flickr-photo { border: solid 2px #000000; }
.flickr-yourcomment { }
.flickr-frame { text-align: left; padding: 3px; }
.flickr-caption { font-size: 0.8em; margin-top: 0px; }

Rokok dan Membaca, originally uploaded by azs_teck.

 

29
Okt
06

Flickr

This is a test post from flickr, a fancy photo sharing thing.

15
Okt
06

Happy Valentine My Sista!

Dear Kak Enna…
Kak Enna, ini Enni adikmu. Masih ingat kan? Woah, kalau nggak inget kebangetan banget! Kan kita baru pisahan tiga minggu yang lalu. Ups lupa, tapi Kak Enna kan emang lagi…
By the way, namaku Enni, Kak. Dan nama kakak, Kak Enna. Meski kita hampir memiliki nama yang mirip, tapi kita bukan anak kembar lho. Ah jangankan kembar, hidup menjadi saudara saja kita ini dulu bagaikan air dan minyak. Nggak pernah akur!
Sekarang kita runut dulu dari masalah zodiak. Ehm, gini-gini aku agak sedikit bisa meramal lho kalau untuk urusan zodiak. Kak Enna aja suka banget dulu diramalin cocok nggaknya sama cowok yang lagi jadi gebetan Kak Enna.
Eh ngelantur! Oke, kembali ke cerita tentang kita. Bintang ku gemini. Kata orang, aku ini punya unsur udara. Seperti udara, karakterku itu selalu ingin bebas. Sedangkan kakak, punya zodiak pisces dengan unsur air. Sebetulnya udara dan air nggak separah api dan air yang saling memusnahkan gitu sih. Cuma gawatnya kata orang, gemini dan pisces itu susah akur. Yang gemini tingkahnya banyak, yang pisces wataknya cool. Gemini suka ngomong apa adanya, pisces suka gampang tersinggung. Nah lho, jadinya kita sering bentrok deh.
Kita cuma dua bersaudara. Otomatis, Kak Enna emang jadi anak sulung, sedangkan aku si bungsunya. Kak Enna itu orangnya tanggung jawab banget. Kebalikannya, karena aku ngerasa jadi anak bungsu, suka seenaknya.
Nggak tahu kenapa, perbedaan kita ini emang sering bikin kita berantem. Apalagi karena usia kita yang cuma selisih dua tahun. Misalnya kayak urusan dua bulan yang lalu. Ceritanya, Kak Enna kan habis beli sepatu keds baru dan baru juga kepake satu kali.
Nah pas kemarin itu, aku lagi butuh banget sepatu keds. Sialnya, sepatu kedsku nggak mau diajak kompromi dan tahu-tahu bikin aksi buka mulut alias mengelupas bagian ujungnya. Waaah, padahal kan udah mau berangkat sekolah tuh. Pas juga hari itu ada pelajaran olah raga. Gimana dong?
Lirik sana lirik sini, eh, kelihatan sepatunya Kak Enna. Ya udah, langsung samber aja buat dipake berangkat sekolah. Gawatnya, sepatu keds Kak Enna ini nginjak permen karet! Bisa ditebak deh berabenya pas pulang sekolah. Kak Enna marah besar euy waktu itu! Udah pinjam sepatu baru, pinjamnya nggak bilang-bilang, kena permen karet lagi.
Dan seperti biasanya kalau Kak Enna lagi pas marah, Kakak cuma bisa nekuk muka sampai berlapis-lapis. Dan kalau udah kayak gitu, alamat tiga hari Kakak nggak bakal mau diajak ngomong. Tapi emang waktu itu Enni yang salah sih, Kak.
Tapi, hiks, waktu itu Enni udah beliin sepatu baru lho buat kakak. Nggak ada bedanya lagi. Tapi kakak tetap nggak mau nerima. Kalau dipikir-pikir, sepatu yang Kakak beli itu emang ada sih historinya. Sepatu keds itu Kakak beli dari hasil jerih payah tabungan Kakak setelah berbulan-bulan. Tapi tahukah kakak, sepatu yang Enni beliin juga mengorbankan tabungan Enni berbulan-bulan lamanya lho. Kenapa ya kakak waktu itu nggak mau nerima?
Tapi Enni legaaa… banget waktu Kakak memakai sepatu itu juga pas pergi. Setidaknya, itu lah satu-satunya hal yang menghibur Enni waktu kita berpisah. Waktu kita bisa menatap dalam mata satu dengan yang lain yang penuh dengan air mata… Hiks!
Ah, sori ya Kak, kalau Enni malah cerita yang sedih dan nggak ngenakin. Kita cerita yang senang aja ya, Kak. Gini, biar kata orang kita ini saudara kandung yang nggak pernah akur, tapi kita bisa juga kok akur. Misalnya nih, kalau urusan dandan. Hehe, kita paling kompak deh.
Kalau pas mau ke pesta pensi, kita bisa saling bersimbiosis mutualisme untuk urusan make up. Hoa, kayak istilah Biologi aja! Tapi emang iya, Enni bisa pinjam blush on Kakak, Kak Enna pun bisa pinjam kuas blus on Enni. Klop kan! Hihi, padahal emang blush on Enni pas habis waktu itu dan belum bisa beli baru. Kak Enna juga gitu, kok bisa-bisanya ya beli blush on baru tapi lupa beli kuasnya.
Eit, waktu itu ceritanya kita lagi akur sedikit, nih. Tapi pas di urusan baju, kumat lagi deh penyakit kita. Kakak maunya pinjam gaun Enni yang warnanya pink. Padahal sori Kak, Enni kan waktu itu lagi pengen banget pakai gaun itu. Alhasil, Kakak jadinya cemberut melulu deh waktu jalan ke pesta. Tapi cuma sebentar aja kok. Karena setelah itu kita udah akur kembali.
Hehe, apalagi kalau bukan urusan makanan. Kak Enna itu paling jaim banget deh kalau bertemu sama yang namanya urusan panganan seperti cokelat, cake, gula-gula. Mmm, padahal kan itu makanan yang enak-enak banget. Karena pas pulang dibawain makanan-makanan model kayak gitu, kakak langsung deh tersenyum manis dengan menyerahkan semua makanan mamamia itu ke aku. Waaah, asli, nggak bakal nolak!
Dari dulu, kakak emang suka banget sama makanan yang… sori lho Kak, buatku itu justru nggak ngenakin. Misalnya nih, kayak minum teh hijau asli pakai daun yang rasanya… fuih! Atau, sayur-sayuran hijau yang kalau buat Kakak, syukur-syukur pahit sekalian. Alasan Kakak sih, buat jaga tubuh biar nggak melar.
Emang sih ya, tubuh Kakak itu lebih mirip Papa daripada Mama yang langsing. Dan tubuh langsing Mama lebih menurun padaku yang akhirnya lebih kelihatan kurus nggak bisa gemuk. Padahal aku tuh udah gila-gilaan makan. Tapi kenapa ya kok nggak bisa seperti Kakak. Kadang, kepingiiiin banget bisa gemuk sedikit saja. Eh iya, apakah Kakak sekarang masih gemuk gitu?
Kak, Enni kangen banget deh sama Kakak. Ini gara-gara mama dan papa kita cerai sih ya. Kejadiannya satu bulan yang lalu. Tahukah Kakak, saat melihat Kakak pergi bersama Papa, Enni merasa sebagian perasaan jiwa Enni hilang. Sedihnya nggak kepalang. Habisnya, kita kan biasa selama ini hidup bareng.
Apalagi kalau sama Kakak, Enni kan biasa berantem bareng Kakak. Sekarang ini karena Kakak nggak ada, Enni bingung mau berantem sama siapa lagi. Hihi, kesannya Enni suka cari masalah banget sih ya?!
Sebetulnya kalau waktu itu boleh memilih, Enni pingin banget nggak usah di antara kita ada yang pergi. Apalagi sampai berjauhan kayak begini. Mama pilih pulang ke Bekasi. Papa pun memilih pergi dari Bandung dan pindah ke Surabaya. Karena Kak Enna udah lulus SMA dan waktunya kuliah, akhirnya Kak Enna pilih ikut papa dan kuliah di Surabaya.
Ngomong-ngomong, di Surabaya enak nggak Kak? Katanya kalau di sana jarang ada sayur dan nggak sebanyak kalau kayak kita makan sayur di Bandung ya Kak? Enni pernah tuh punya teman pindahan dari Surabaya. Katanya, di Surabaya itu ikannya banyak dan murah. Enak dong, kalau banyak makan ikan kan jadi bisa mencerdaskan otak. Tapi ngomong-ngomong, Kakak doyan nggak?
Ah, ingat sayur jadi ingat makanan Enni yang ada di depan mata sekarang. Hehe, tahu nggak Kak, dari tadi Enni tuh lagi berkutat sama karedok yang ada di atas piring dan tepat di hadapan Enni. Mikir dari tadi, coba kalau ada Kak Enna, kan enak ada yang ngebantuin makan. Makanya ingat Kakak, Enni jadi nulis surat ini. Tapi…
Kak, maaf ya Enni belum sempat ketemu kakak di sana. Habisnya Enni lagi banyak tugas sekolah. Belum lagi tugas OSIS yang bejibun program kerjanya. Jadi pas Kak Enna kecelakaan kemarin, Enni sampai sekarang nggak bisa ke sana sama sekali. Akhirnya sekarang ini cuma bisa kirim surat ke Kakak lewat Mama. Ingat Kak Enna yang suka sayur, ingat kita yang dulu suka berantem, ingat hari valentine yang sebentar lagi tiba, ingat…
Hiks… hiks… tahu nggak Kak, Enni sekarang jadi makan sambil nangis lho. Udah di rumah sendirian, mama lagi beli ini itu buat Kak Enna di Surabaya ntar, eh, di depan ada sayur lagi. Lho, hubungannya apa ya? Nah kan, jadi cerita yang sedih-sedih lagi deh. Tahu nih Kak, Enni lagi mello. Lagi mau dapet kali ya?
Eh, jadi inget, Kak, sekarang ini kan mau valentine. Enni mau ngucapin HAPPY VALENTINE YA KAK… Semoga pas surat ini sampai di tangan Kakak, Mama benar-benar menyampaikannya pas Valentine. Eh, ingat nggak Kak, kita punya pengalaman valentine paling mengesankan lho. Tapi sejujurnya lebih buat Enni sih…
Ceritanya begini, waktu valentine tahun lalu, Kak Enna udah buat cake coklat untuk kita berdua ngerayain valentine. Tapi karena Enni udah terlanjur janji sama Dion, akhirnya Enni milih pergi kencan. Eh, kualat kali ya. Ternyata justru pas valentine itu, Enni malah diputus sama Dion. Meskipun dinnernya mewah banget, makanannya enak-enak, ya mending Enni milih pulang aja. Siapa juga yang mau diputus meski sogokannya yang enak-enak.
Untung Kak Enna waktu itu habis bikin cake coklat. Kata orang, coklat kan bisa membangkitkan rasa senang, alhasil Enni jadi melampiaskannya makan coklat sebanyak-banyaknya deh. Udah gitu kita pakai acara make a wish segala lagi kayak orang ulang tahun. Sayang make a wish kita nggak terkabul, doa agar orang tua nggak jadi cerai. Hiks, yah, Enni sedih lagi deh jadinya. Kakak sedih juga nggak?
Oh iya Kak, kemarin ceritanya gimana sih Kak kok bisa kecelakaan gitu? Enni cuma dengar ceritanya dari papa lewat telepon sih. Katanya Kak Enna lagi naik mobil sama papa pas mau berangkat sekolah, dan tertabrak mobil lainnya ya di jalan? Gimana kabar Papa? Katanya kalau Papa emang luka tapi nggak separah Kak Enna ya?
Kak, cepat sembuh ya. Enni harap surat ini bisa membawa kembali ingatan Kak Enna. Enni dengar dari mama yang dapat keterangan dari dokter, kita sebaiknya banyak-banyak menceritakan masa lalu Kak Enna agar Kak Enna kembali ingatannya.
Maaf ya Kak, kalau isi surat Enni kok malah banyak ngingetin yang nggak enak-enak. Tapi kalaupun Kakak sekarang punya ingatan baru, sampai membuat kita nggak lagi berantem, jujur, Enni lebih milih Kak Enna yang dulu. Yang dewasa dan bertanggung jawab sama adiknya, yang suka ngingetin Enni kalau Enni kelewatan tingkahnya, yang suka nyemberutin Enni kalau Enni pas suka berlaku seenaknya, pokoknya Kak Enna yang dulu deh. Apalagi tentang hobi Kak Enna yang suka makan sayur dan benci makanan yang bisa menggemukkan. Kalau Kak Enna sampai berubah dan menjadi yang sebaliknya, whoa, kita malah tambah sering berantem lagi dong karena berebut makanan!
Kak, valentine kali ini Enni mau make a wish bikin cake cokelat lagi ah. Kayak yang pernah kita lakukan dulu bersama. Mau make a wish agar kakak sembuh dan agar papa dan mama kita bisa berkumpul kembali. Meskipun itu Enni lakukan sendirian di rumah. Kalau bisa, Kakak lakukan juga ya.
Udah dulu deh Kak surat dari Enni. Sekali lagi, cepat sembuh ya Kak. Ini Enni sertakan juga foto terbaru Enni dan juga foto kita pas valentine tahun lalu. Biar Kakak bisa ingat lagi.
Dan sekarang, ough, Enni mau meneruskan berjuang makan sayur lagi nih. Kakak mau? Yah, sayang kita berjauhan. Minta beliin papa sama mama saja ya di sana, hehehe. I love you Sista… Mmuah!
From your younger sista
Enni

03
Okt
06

Saat Tarzan Pensiun

“Auo… O… O, uhuk, uhuk,” suara lantang Tarzan terputus-putus kala ia menggelantung di sulur-sulur pepohonan. Suara batuk akhirnya menyudahi teriakannya. Kemudian terdengar suara mengejutkan yang membuat Mongki si Monyet, sahabat karibnya terbangun.

“Gedebruk! Aow!” Tarzan meringis kesakitan. Mongki yang pada awalnya sedang tidur nyenyak seketika bangun dan meloncat meraih sulur pepohonan.

Dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya utuh, Mongki mencoba mencari sumber suara yang telah mengejutkannya hingga ia terbangun.

“Oaaah…, apaan sih yang sudah mengganggu tidurkku,” geram Mongki. Saat kedua matanya benar-benar awas, barulah ia menyadari apa yang telah membuatnya terbangun.

“Ya ampun, Tarzan! Sedang apa kamu di situ?” Mongki langsung turun dan menghampiri sahabatnya.

Mongki kemudian membantu Tarzan untuk berdiri sembari mengamati tubuh Tarzan yang tak lagi nampak muda. Rambut Tarzan tergerai sebahu dan hampir seluruhnya nampak memutih. Kulitnya sudah mulai mengeriput di sisa-sisa keperkasaannya. Mongki seketika tersadar, sudah waktunya Tarzan pensiun.

“Tar, sepertinya sudah saatnya deh engkau pensiun,” ujar Mongki akhirnya.

Tarzan terdiam. Dicobanya mengingat-ingat perjalanan hidupnya. Sejak kecil ia sudah kehilangan kedua orangtuanya. Hewan-hewan di hutanlah yang telah membesarkannya. Dikira-kira, sudah setengah abad mungkin usianya sekarang.

“Baiklah, besok malam kita ajak hewan-hewan lain berkumpul. Kita akan bicarakan siapa yang kiranya akan menjadi penguasa hutan berikutnya,” ujar Tarzan.

Keesokan harinya seluruh penghuni hutan berkumpul. Saat Tarzan mengutarakan keinginannya untuk pensiun, beberapa hewan berusaha maju mempromosikan dirinya masing-masing.

Beberapa satwa kemudian saling berbisik hingga terdengar suara pertama yang muncul untuk mencalonkan diri. “Saya Igel si elang yang bermata tajam. Saya bisa menerkam apa yang ada di darat dan di air. Itulah kelebihan saya,” ujar Igel yang mengajukan diri ke forum rapat pertama kalinya.

“Aaauuum. Tapi dari dulu sebutan raja hutan kan seharusnya milikku. Terus terang Tarzan, saya kecewa setelah teman-teman selama ini memilih kamu sebagai penguasa hutan. Bahkan manusia pun tahu nama raja hutan selalu identik dengan siapa,” tegur Lion si singa.

“Tapi engkau bisa memangsa satu di antara kami. Cucuku saja beberapa hari yang lalu telah diterkam kawananmu,” potong Dir, si rusa. Saat malam musyawarah itu berlangsung, kedua matanya masih nampak sembap usai menangis beberapa hari sebelumnya.

Semua satwa termangu. Namun ternyata Lion masih belum mau menerimanya. “Pokoknya kalau kalian tidak memilihku, awas!” ancam Lion.

“Hei Lion, jangan seenaknya kamu ya!” bentak Tarzan. “Sekarang ini akulah yang masih jadi penguasa. Setelah ini pun aku akan tetap membantu mengamankan hutan ini.”

“Puih, apa sih kekuatanmu sekarang. Bahkan aku saja bisa menerkammu,” wajah Lion menyeringai mengejek. “Tapi sayangnya, dagingmu sudah terlalu tua. Pasti tidak enak rasanya.”

“Hai sobat, bukan seperti itu cara untuk memang. Apakah dengan cara mengancam lantas engkau akan mendapatkan dukungan?!” tegur Mongki.

Semua hewan terkesiap. Ya, selama ini jumlah Lion hanya beberapa ekor. Kalah jauh jika dibandingkan jumlah hewan yang dapat dimangsanya.

“Baik, baik. Jadi sekarang, siapa yang sebaiknya dapat menggantikanku?” suara Tarzan menengahi.

Ternyata dari beberapa suara yang keluar dari pendapat para satwa, ada dua nama yang kerap disebut sebagai calon raja hutan. Mereka adalah Mongki dan Elepan, si gajah.

“Elepan kuat, suka menolong kalau kami tertimpa kesulitan,” alasan Rebit si kelinci.

“Mongki cerdas. Kalau dia tidak bicara seperti tadi, kami tidak akan sampai berpikir kalau kita tidak bisa seterusnya takut pada Lion,” sahut Dir sambil sesekali melirik takut ke arah Lion.

Namun Lion kini hanya diam tak berkutik. Ia sungguh takut apabila semua hewan di hutan memusuhinya. Biar bagaimanapun, rasanya tidak enak hidup tanpa kawan.

Ternyata suara saling dukung mendukung tidak ada hentinya. Elepan pun lantas angkat bicara. “Terimakasih untuk kalian yang telah mendukung saya. Tapi saya rasa, seorang pemimpin itu harus tetap memiliki kriteria pintar. Jadi lebih baik, Mongki saja yang jadi pemimpin. Toh selama ini ia cukup dekat dengan Tarzan. Pasti banyak ilmu yang telah diserapnya,” alasan Elepan.

Semua hewan mengangguk setuju. Namun Mongki seketika memiliki ide. “Bagaimana kalau diadakan pemungutan suara. Nanti suara terbanyaklah yang akan menjadi pemimpin.”

Pemungutan suara pun kemudian dilakukan. Ternyata setelah suara terkumpul, Mongki dinyatakan memiliki suara terbanyak daripada Elepan.

“Ah, saya juga tidak ingin memimpin sendirian. Berdasarkan pengalaman yang saya pelajari dari Tarzan, ia cukup kelelahan harus menjadi pemimpin sendirian tanpa ada teman yang mendampingi,” ujar Mongki.

Para penghuni hutan langsung saling bergumam dan berbisik. Apa maksudnya?

Mongki menangkap kebingungan teman-temannya. “Maksudnya begini, saya akan meminta bantuan beberapa dari kawan-kawan untuk membantu saya. Begitu juga halnya kawan-kawan nantinya juga bisa membantu kawan-kawan yang lain.”

Mongki lantas menatap ke arah Elepan. “Pan, aku ingin engkau menjadi wakilku karena suara teman-teman tadi juga cukup banyak yang mendukungmu. Lagipula, kekuatanmu akan sangat dapat membantuku nanti.”

Mongki ganti menatap ke arah Lion. Ada posisi penting yang menurutnya bisa untuk kawan satu ini. “Lion, bersediakan jika engkau jadi menteri pertahanan? Aku ingin minta tolong agar kamu membantuku dalam tugas mengamankan hutan dan kawan-kawan satwa lainnya,” tawar Mongki.

Lion terkesiap. Ia tidak menyangka Mongki justru memilihnya. Malah, ia sudah berpikiran bila Mongki begitu membencinya.

Seakan tahu apa yang ada di pikiran Lion, Mongki lantas berujar, ”Engkau memiliki kekuatan yang kurasa bisa menaklukan musuh. Aku pikir posisi ini pantas untukmu,” kata Mongki. Dalam hati Mongki berharap agar posisi ini nantinya dapat mengurangi keliaran Lion yang suka memangsa kawan-kawannya.

“Sedangkan Tarzan, akan aku jadikan penasehat,” ujar Mongki.”Aku juga berharap semoga kawan-kawan bersedia mengingatkanku bila aku membuat salah,” tutur Mongki yang membuat para satwa berdecak kagum.

“Kita tidak salah pilih pemimpin,” gumam Pigi si babi.

Karena hari beranjak malam, rapat pun disudahi untuk hari itu. Para satwa membutuhkan istirahat untuk kehidupan keesokan harinya. Dan pada malam berikutnya, mereka berencana untuk melanjutkan rapat yang belum selesai. Masing-masing dari mereka juga merasa lega, kini mereka telah memilih seoran pemimpin yang tepat.

Sementara itu usai rapat, Tarzan mendekati Mongki. “Wah, usulmu bagus juga Mong. Tidak salah bila selama ini aku banyak mendengar nasehatmu. Kamu memang bijak,” puji Tarzan.

“Ah, ide itu aku dapat dari bangsamu, manusia. Dengan berbagi tugas dan bergotong royong, kerja jadi terasa lebih ringan.,” jawab Mongki.

Tarzan dan Mongki akhirnya pulang dengan bergandengan tangan dan senyum bahagia. “Ah, akhirnya jadi juga aku pensiun,” gumam Tarzan senang dalam hati.

penulis sekarang tinggal Batam




Kalender

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Kelompok Tema

Komentar Terbaru

farafry di Mau Kirim Tulisan Ke Media…
Tjakra di Mengelola Event Organizer
dalilatiyani ajrinat… di Sepatu Karet
ogez di Cewek Nembak Cowok
thata di Membina Hubungan Pasangan Jara…

Terimakasih untuk...

  • 383,379 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan