
Anak-anak di TPA Qurrata A'yun Lamongan usai menggambar
Anak Dipantau Perkembangannya
Ketika orangtua harus bekerja, sedangkan anak masih dalam kondisi yang belum bisa mandiri, pertanyaannya pasti mengarah kepada, “Lantas, si kecil harus dengan siapa?”
Sementara itu, kesibukan orangtua untuk tetap harus memenuhi nafkah atau mengejar karir saat-saat ini begitu sulit untuk dikalahkan. Namun tentu saja, orangtua manapun tetap tidak ingin membiarkan si kecil begitu saja melewati masa-masa golden age-nya.
Pilihannya tentu saja tidak lain menitipkan si kecil pada pihak yang bisa menjaganya. Saat ini, masih banyak orangtua yang memercayakan anak-anaknya untuk dititipkan pada kerabat atau orang yang bisa dipercaya untuk mengasuh putra putrinya selama orangtua bekerja.
Sayangnya, sebetulnya tidak semua orang bahkan keluarga sendiri sekalipun menjadi tempat yang tepat untuk menitipkan si kecil. Karena sesungguhnya, anak tidak hanya perlu menghabiskan waktunya untuk bermain saja. Mereka pun perlu untuk melewatkan waktunya dengan kegiatan yang mampu mengasah kemampuannya. Belum lagi pengetahuan tentang psikologi anak yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.
Hingga kini, muncullah tren untuk menitipkan anak pada taman penitipan anak atau TPA. Di sana anak tidak hanya sekedar dititipkan saja. Melainkan, mereka juga diarahkan untuk mengisi waktunya dengan bermain yang edukatif.
Beberapa TPA pun kini makin melengkapi dirinya dengan agenda kegiatan demi kegiatan untuk anak yang berpatokan pada menu generik yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan. Dalam menu generik tersebut, anak per usianya memiliki target penguasaan kemampuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk aktivitas anak sehari-hari di TPA.
Selain pantauan perkembangan fisik dan penguasaan kemampuan akan beberapa hal, TPA juga memantau kesehatan anak. Bahkan jika anak dititipkan di TPA yang memberikan fasilitas makan pada anak, anak pun dapat terpenuhi kebutuhan gizinya secara ketat dan tepat.
Anak-anak juga akan belajar arti tanggung jawab dan hidup bersosial atau berbagi dengan teman-temannya. Di TPA tentu saja, semua adalah milik bersama. Permainan, fasilitas, semua membutuhkan istilah berbagi atau bergantian. Kecuali hal-hal yang dibawakan setiap orangtua untuk anak-anaknya.
Karena milik bersama, segala fasilitas pun harus digunakan dengan cara yang bertanggung jawab. Meskipun itu adalah anak kecil, mereka sebetulnya bisa lho untuk mulai ditanamkan arti kepemilikan bersama berikut kegiatan untuk menjaga bersama. Padahal, anak kecil memiliki masa-masa keakuan yang cukup tinggi. Namun ketika mereka sudah dibiasakan untuk berbagi, yakin deh, hal itu akan berpengaruh besar pada hidupnya kelak!
Selanjutnya adalah jiwa mandiri. Di TPA tempat saya, anak usia 6 bulan saja sudah ada yang bisa memegang dotnya sendiri. Bahkan itu berlangsung sebelum tidur hingga mereka benar-benar tertidur sendiri! Sedangkan jika sudah besar, mereka tentu saja bahkan kerap harus bisa memilih kegiatan yang akan mereka tekuni sendiri dan mereka sukai.
Sungguh berbeda bukan kondisinya jika anak dititipkan pada keluarga sendiri atau orang yang dipercayakan hanya merewat anak itu saja sendiri? Kebutuhan anak serba dilayani, apa-apa serba ditentukan, dan anakpun bahkan bisa jadi melewati waktunya dengan aktivitas yang kurang penting bagi perkembangannya.
Tak Tahan dengan Tangis Si Kecil
Sudah tiga bulan ini saya memegang tanggung jawab manajerial di sebuah TPA. Dan dari sekian waktu yang ada, kerap saya temui adanya beberapa orangtua yang tidak nyaman ketika anaknya telah diputuskan untuk dititipkan di TPA.
Yang pertama, mereka yang ‘terpaksa’ menitipkan anaknya di TPA karena suatu hal. Pembantu tidak bisa masuk, keluarga sedang tidak bisa menjaga anaknya, atau mendadak harus menuju suatu tempat dan tidak memungkinkan mengajak si kecil.
Untuk golongan yang pertama ini termasuk pihak yang saya sayangkan. Mereka kerap begitu teganya mengabaikan tangisan si kecil yang tidak dipersiapkan untuk dibawa ke TPA, dan berpikir jika pasti cukup hanya sekali itu saja mereka menitipkan anaknya di TPA!
Walhasil, saya dan para pengasuh lainnya lah yang kemudian kewalahan menghadapi fluktuatif emosi dari si kecil ini. Kegiatan bermain dan belajar dari anak-anak lainnya pun harus kacau karenanya. Kerap saya temui, anak-anak yang terbiasa dititipkan di TPA menjadi terganggu konsentrasi dan kondisi psikologinya hingga akhirnya kerap ikut-ikutan menjadi emosional.
Golongan kedua adalah orangtua yang tidak tega kala melihat dan mendengar anaknya menangis. Ketika sudah memutuskan untuk menitipkan anaknya di TPA, lalu mendengar si kecil menangis tidak terima, tidak sedikit orangtua yang kemudian mencabut kembali anaknya dengan alasan yang selalu karena “tidak tega!”
Malah, saya pernah menemukan alasan tersebut terlontar oleh seorang pendidik yang notebene juga seorang guru TK yang pada awalnya menitipkan anaknya di TPA tempat saya. Kala itu saya hanya geleng-geleng kepala dan berpikir, bagaimana bisa seorang pendidik anak usia dini tidak memahami bahwasanya anak memiliki tahapan proses adaptasi.
Sempat juga suatu ketika saya tercetus pada teman dari seorang orangtua yang khawatir akan anak temannya yang terus menangis ketika akan dititipkan di TPA. “Anak tidak akan mati karena menangis!” demikian seru saya kala itu karena saking gemasnya.
Mungkin, siapapun bisa beralasan jika saya mudah mengucapkan itu karena saya masihlah seorang lajang yang belum memiliki anak kandung sendiri. Namun yang saya tahu dan kerap saya temui, untuk mereka yang paham akan psikologi anak-anak dan memang sudah memiliki anak, mereka bisa paham jika anak memang akan berperilaku seperti itu sebagai wujud masa adaptasinya.
Yah, jangankan anak kecil, orang dewasa pun akan memiliki rasa was-was kala berada di tempat baru dengan orang-orang yang semuanya baru dikenalnya. Jadi pahamilah, berempatilah, dan kondisikanlah anak jika Anda akan memutuskan menitipkan si kecil di TPA.
Ajak Si Kecil Berkomunikasi
Datang pertama kali, dan harus ditinggal selama hampir 5 jam lebih! Bayangkan saja jika Anda yang sudah dewasa berada dalam kondisi seperti si kecil yang tiba-tiba dibawa dan diletakkan di tempat yang belum pernah dikunjungi berikut orang-orang baru yang tak pernah dikenalnya.
Begitulah gambaran saya tentang beberapa anak baru di TPA. Panik mereka pun tentu saja bukan main. Versinya bisa macam-macam. Ada yang menangis berteriak-teriak, sesenggukan menangis ditahan dengan sedikit suara, dan segala versi kegiatan menangis lainnya.
Berbeda tentunya dengan anak-anak yang dibawa ke sebuah sekolah baru, playgroup atau TK di mana itu menjadi awal bagi mereka mengenal bangku pendidikan. Kebanyakan dan yang selalu ada, anak-anak ini akan ditemani di masa-masa awal hingga bahkan waktu pulang sekolah.
Masa ketika akan diajak sekolah pun kerap digunakan para orangtua untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan si kecil. “Nak, besok kamu akan sekolah lho. Ketemu teman-teman baru. Bisa belajar sambil bermain!” Hm, terdengar menyenangkan bukan?!
Berbeda dengan anak-anak yang akan dititipkan di TPA untuk pertama kalinya. Yang sering ada dan sering saya ketahui, mereka seperti anak-anak yang dibawa ke sebuah tempat, tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu, dan ditinggalkan menangis dengan rasa tega atau dibuat tega oleh orangtuanya!
Sering saya berpikir, mengapa sih harus seperti itu? Mengapa mereka tidak mengomunikasikan terlebih dahulu dengan si kecil? TPA memang nantinya akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Ada teman yang banyak, permainan yang banyak, mengapa tidak itu juga yang dikomunikasikan kepada anak yang akan dititipkan di TPA?
Lantas yang kerap buat saya lebih geregetan lagi, ada dari orangtua yang kemudian akan memarahi si kecil bila ketahuan menangis terus selama di TPA pada hari itu. Duh duh duh… bisa empati nggak ya sama perasaan anak kecil? Kok ya tega tanpa berpikir jika mereka telah tega untuk merenggut waktu si kecil jauh dari mereka yang notebene orangtua kandungnya dan memilih untuk bekerja atau mengejar karir?
Jadi bila Anda membaca tulisan ini dan terbersit untuk menitipkan si kecil di TPA, baik dengan alasan tidak ada yang menemani si kecil maupun dengan alasan cerdas agar si kecil bisa beraktivitas dengan pintar, tolong, cobalah untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan si kecil.
Anak-anak, meskipun mereka kecil dan kita adalah orang dewasa, tetaplah sosok yang perlu dan bisa untuk diajak berkomunikasi. Jika orangtua kemudian datang ke TPA, mengenalkan guru-guru atau para pengasuh TPA kepada si kecil, lantas menunjukkan hal-hal apa saya yang bisa menyenangkan bagi si kecil, yakin deh, anak manapun akan berproses untuk mencoba mengerti dan menerimanya.
Selanjutnya, biarkan mereka untuk berproses beradaptasi. Memang, menangis adalah pilihan anak untuk beradaptasi pada hal-hal yang tidak atau sama sekali belum dikenalnya. Namun percayalah, lambat laun hal yang bagi mereka serba tidak mengenakkan itu akan berubah menjadi menyenangkan.
Hehehe, buktinya sekarang, sering sekali saya temui anak-anak saya di TPA tidak mau diajak pulang oleh orangtuanya dari TPA. Bahkan, ada yang sudah tidak dititipkan lagi di TPA tapi kemudian meminta sendiri ke orangtuanya untuk kembali ke TPA. Ketagihan asyiknya di TPA sih!
Komentar Terbaru