Latest Entries »

Kamera Ama

Oleh: Ika Maya Susanti

            “Pokoknya Rara mau kamera! Masa, Ama saja dibelikan kamera saku oleh Papa dan Mamanya, aku enggak?”

Aku berlalu meninggalkan Bunda yang justru terlihat tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Yah, bundaku selalu begitu. Bukannya malah menenangkanku, tapi malah tersenyum. Karena kesal, aku lalu keluar dari rumah dan berjalan dengan langkah malas ke arah lapangan basket yang ada di seberang rumahku.

Keluargaku, dan juga keluarganya Ama tinggal di sebuah lingkungan SMA berasrama. Karena usia kami hanya terpaut satu tahun, membuat kami jadi bersahabat dekat. Apalagi di lingkungan sekolah itu, hanya kami berdua saja yang usianya hampir sebaya. Banyak anak dari teman-teman bundaku yang mengajar di sekolah itu, usianya masih kecil.

Hari ini hari Minggu. Banyak siswa di sekolah tempatku tinggal yang sedang bermain basket atau bermain bola di lapangan bola yang letaknya tak jauh dari lapangan basket. Ah, mereka terlihat senang sekali. Sementara, aku justru sedang merasa tidak nyaman. Apalagi, kalau bukan karena permintaanku yang tidak dikabulkan oleh Bunda dan Ayahku. Mereka berdua masih saja tidak mau membelikanku kamera saku.

“Hai Rara, kamu dan keluargamu tidak keluar sekolah hari ini?” tanya Ama yang ternyata sudah ada di dekatku.

Aku cuma mengangkat bahu dengan tidak bersemangat. Sebetulnya tadi sempat kudengar siang ini Bunda dan Ayah akan mengajak aku dan adikku ke mall membeli kebutuhan bulanan seperti biasanya. Saat bisa keluar dari lingkungan sekolah adalah waktu yang selalu menyenangkan untukku. Tapi karena mereka tidak mau membelikanku kamera saku, ah, rasanya jadi malas jika harus ikut keluar.

“Cekrik. Cekrik.” Suara bidikan kamera Ama terdengar. Aku langsung menoleh dan melihat ke arah Ama yang sedang tersenyum senang.

“Hihihi… wajahmu jika sedang cemberut lucu juga ya!” seru Ama.

“Apaan sih?” aku membentak kesal. “Lain kali kalau mau foto orang itu jangan seenaknya begitu dong! Mentang-mentang punya kamera. Huh!” aku mendengus.

“Aduh, maaf… Sepertinya kamu sedang be-te ya hari ini? Tumben!”

“Suka-suka aku dong!” timpalku sengit.

“Ya sudah, kalau begitu aku ke tempat lain saja deh, cari objek foto yang lain,” Ama lalu melangkah pergi meninggalkanku di bangku pinggir lapangan basket.

“Ah, tanpa Ama rasanya lebih enak. Lebih baik aku sendirian di sini, melihat kakak-kakak itu bermain basket. Dari pada makin sakit hati melihat Ama yang asyik dengan kameranya!” batinku.

Tapi nyatanya, pandanganku tidak bisa lepas dari Ama dan kameranya. Dari kejauhan, aku melihat Ama yang begitu asyik membidik ke berbagai objek. Tak jarang, banyak dari kakak-kakak SMA yang meminta Ama untuk memotretnya.

“Ah, menyebalkan!” aku kembali memandang ke arah lapangan basket. Namun tak lama kemudian…

“Aah!” sebuah seruan dari beberapa anak terdengar dari arah lapangan sepak bola. Kontan, aku melihat ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari kerumunan tempat Ama dan beberapa kakak SMA yang ada di sana.

Karena ingin tahu, aku berlari mendekat.

“Ada apa, Kak?” tanyaku pada seorang kakak.

“Itu, kameranya Ama jatuh kena bola yang tak sengaja tertendang ke arah sini,” kata-kata itu entah kenapa tiba-tiba terdengar sebagai hal yang menyenangkan di telingaku.

“Lalu?” aku pura-pura perhatian dengan apa yang dialami Ama.

Ama kemudian menunjukkan kameranya yang ternyata memang rusak. LCD kameranya retak.

“Hehe, kameranya rusak deh!” Ama meringis, memaksakan senyumnya, lalu menghela nafas besar.

Sambil berjalan pulang, Ama berujar, “Aku tahu, Papa dan Mamaku mungkin tak akan marah. Mereka tahu, aku ingin sekali belajar fotografi sehingga mereka membelikan kamera saku ini. Tapi aku sedih, karena mereka kan sudah memercayakan aku untuk memiliki kamera ini. Ah, rasanya tak enak kalau aku harus meminta kamera baru lagi,” ujar Ama sambil menimang-nimang kameranya.

Mendengar alasan Ama memiliki kamera itu, hatiku yang awalnya senang jadi agak merasa berubah.

“Memangnya kamu sungguh-sungguh ya ingin belajar fotografi? Maaf, awalnya aku kira kamu cuma ikut-ikutan saja,” ujarku.

“Fotografi itu hal yang menyenangkan, Ra. Aku jadi bisa menyimpan banyak hal indah yang aku lihat dalam jepretan kamera. Awalnya aku cuma tahu dari sepupuku yang hobi fotografi. Aku lalu ingin belajar juga. Waktu aku minta dibelikan kamera ke Papa dan Mamaku, mereka juga sempat tanya, apa aku ini cuma ikut-ikutan saja atau memang benar-benar ingin belajar. Aku lalu janji jika kamera itu benar-benar aku pakai untuk belajar fotografi. Papa dan Mamaku juga berujar, kalau kamera itu tidak aku pakai belajar, maka kameranya akan diambil oleh mereka. Tapi… ah, kamera ini sekarang rusak!” keluh Ama sedih.

Aku jadi malu sendiri dengan diriku. Karena awalnya, tujuanku ingin dibelikan kamera justru karena aku ingin terlihat keren seperti yang kulihat dari Ama.

“Terus, sekarang jadi gimana dong?”

“Yah, sepertinya aku harus menabung dulu untuk bisa punya kamera lagi. Enggak enak ah kalau minta dibelikan kamera lagi,” kata Ama yang lagi-lagi memaksa dirinya untuk berujar sambil tersenyum.

Aku memandang Ama dengan rasa kasihan sekaligus kagum. “Ah Ama, semoga dirimu bisa punya kamera lagi ya!” doaku dari dalam hati.

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls tanggal 23 Mei 2012)

“Kalau sampai ayah ibu kenapa-kenapa, terus kamu nggak dibolehin sama suamimu keluar rumah, jangan keluar!”

Kata-kata keras dari Ayah itu berarti dalam untuk saya, membuat saya memaknainya dengan pilahan sisi yang tak cukup satu dua.

Saya tahu dan sadar, seorang istri adalah makmum dari suaminya. Yah tentu saja, itu berikut kesadaran bahwa sang suami memang seorang imam yang membawa keluarga ke arah kebaikan di jalan Allah.

Lalu ketika saya mengetahui ayah saya juga sadar akan hal itu, saya cukup bahagia. Suatu saat nanti jika memang saya ada dalam posisi patuh terhadap kata-kata suami, sementara banyak orang justru mencoba membuat saya sangsi, hati saya bisa tenang karena ayah dan ibu saya ada dalam posisi turut mendukung keputusan suami.

Di sisi lain, kata-kata ayah saya tersebut, yang sejalan dengan keyakinan saya, juga membuat saya menjadi orang pemilih hingga kini. Malam ini saat menelepon ibu, kembali ibu saya bertanya, sudahkah saya memiliki calon suami?

Untuk kesekian kalinya saya kembali tersenyum. Dengan tenang dan meyakinkan, saya coba tenangkan ibu saya tentang mengapa saya tak begitu mudah memilih seseorang untuk hadir dalam kehidupan saya.

Saat menikah kelak, bukan lagi kedua orangtua saya yang harus saya patuhi. Sebagai wanita, suamilah yang menjadi imam saya. Jika suami saya tidak peduli dengan keluarga saya, kurang memiliki rasa empati terhadap orang-orang yang menjadi darah daging saya, saya sungguh tidak mau menjadi orang yang harus terputus atau merenggang hubungan silaturahmi terutama dengan kedua orangtua saya.

Ditambah lagi watak keras yang saya miliki. Saya sungguh tidak mau di suatu waktu nanti menjadi istri pembangkang atas apa yang suami saya telah putuskan. Karena yang saya sadari sejak kini, saya akan patuh pada keputusan siapapun yang menjadi pemimpin saya asalkan apa yang telah diputuskan adalah sesuatu yang baik dan memang seharusnya. Saya sangat percaya, Tuhan akan memberikan seorang imam untuk saya yang mampu mengendalikan watak keras saya dengan keputusan-keputusan bijaknya.

Telahkah saya terlalu menjadi sosok pemilih? Biarkan saja siapapun berkata demikian. Saya seorang hamba yang masih terus berusaha, dan saya hanya percaya Tuhan dengan segala macam caraNya yang penuh kejutan. :)

“Untuk apa air mata itu kau jatuhkan ke laut? Kerajaan air ini tak membutuhkan tambahan segelintir tetesan air yang asinnya tak sebanding dengan miliknya!”

Mata gadis ber-eye shadow tebal itu menatapku. Tak tajam, namun warna hitam luntur di lingkaran matanya menghujam belati ke arah mataku di balik keredupan sinar matanya.

“Siapa engkau?” gadis itu justru bertanya.

“Aku? Hanya orang yang kebetulan juga sepertimu, sedan g duduk di tepi lautan ini. Dan aku merasa terganggu dengan pemandangan suram yang kau hadirkan di sini.”

Sebuah tarikan di sudut bibir kanannya ia berikan demi mengganti tatapan matanya yang ia lempar jauh ke batas imajiner tempat matahari beberapa saat lagi menenggalamkan diri.

“Ia tak pernah menolakku untuk ada di sini. Apakah aku sedang bahagia, ataukah aku sedang merana, ia selalu menerimaku. Toh, kau bukan seseorang yang mengatur kadar asin air laut. Atau, pengatur aba-aba bagi tenggelamnya matahari,” cetus gadis dengan rambut terurai setengah kusut akibat permainan angin.

Jujur, aku jengah dengan kehadirannya. Banyak senyum manusia mengurai di sekitarku. Namun sosok gadis di hadapanku ini telah menguarkan aura kelabu dalam keriangan sapuan emas matahari yang sedang berjalan turun.

“Sudahlah! Kita tidak saling kenal. Jadi, pergilah dan carilah orang lain yang bisa kau ganggu!” hardiknya memintaku enyah.

Aku menatap sekali lagi ke arah sosok di hadapanku. Benarkah aku tak mengenalnya? Oh, tidak. Aku sedikit ingat siapa ia sebelum kemudian ia menumpahkan buliran-buliran air mata itu ke lautan. Bukankah ia gadis yang selalu menebar tawa meski orang lain tahu bagaimana ia telah menderita?

“Tidak, aku mengenalmu!” sahutku seusai rentetan bisu.

“Hahaha…” gadis itu tergelak, dan di sinilah aku yakin bahwa aku memang mengenalnya. Ya, aku kenal betul dengan pecahan tawa membahana itu!

“Baiklah, sekarang semua orang mengaku mengenalku. Sekarang aku tanya, apa yang kau kenal dariku?” todongnya memberi tanya.

“Kau gadis yang tak pernah mengenal duka. Namamu adalah Bahagia!”

Di sisa-sisa tawanya yang menyurut, ia mengayun-ayunkan kepala, tubuh, dan kedua kakinya. Aku menajamkan telinga. Tak ada musik yang kudengar. Tapi ada alunan tak nyata yang telah membuatnya berayun santai. Aku mulai ingat siapa gadis ini sesungguhnya.

“Engkau adalah sosok yang selalu memberi cinta meski kepada orang lain yang mungkin akan memberimu dinding batu yang sangat dingin,” lanjutku setelah sukses menggali memori.

Kini di pada tawanya yang mulai sulit aku kais, bening kristal kembali bergulir dari pelupuk matanya.

“Tapi kau tak pernah mengenalku yang selalu mencoba sekuat tenaga membangun sebuah taman penuh dengan bunga beraneka rupa dan aroma. Kau tak pernah tahu betapa aku kerap harus membereskan taman yang kerap porak poranda. Kau tak pernah tahu seperti engkau yang tak pernah peduli akan semua usahaku itu.”

Ombak air dari mata air yang memerah menelusup ke arah mataku. “Dan kau serta semua orang tak pernah tahu saat aku kemudian harus hadir menjadi hantu yang sungguh tak kuinginkan sebagai rupaku dalam kebahagiaan tanpaku yang telah aku ikhlaskan. Aku dan kesendirianku yang tak ingin aku harapkan kerap menjadi sesuatu yang membuat banyak orang murka. Aku sudah berjalan sendiri tanpa mengusik kebahagiaan yang telah meninggalkanku. Tapi mengapa aku masih harus disalahkan atas sebuah ketidakbahagiaan yang tercipta bukan karena salahku?”

Kini, aku kembali lupa siapa gadis di hadapanku. Seperti saat sebelumnya, saat air mata itu menetesi lautan, aku kembali amnesia akan siapa ia sesungguhnya.

“Siapa engkau?” tanyaku.

“Ah, kau memang tidak mengenalku. Jadi percuma aku harus bercerita siapa aku pada orang yang tak mengetahuiku. Yakinlah, lara ini bukan sebuah sajian yang menyenangkan untuk disukai,” ujarnya pada akhirnya lalu beranjak pergi.

“Hei, siapa engkau?” aku menahannya sekuat suara tanyaku. Gadis itu berhenti seketika namun tak kunjung menjawab. Ia hanya menatap air laut yang ada di hadapanku. Kuikuti arah tatapan itu. Dan aku melihat bayanganku adalah wajah gadis itu.

Hendri Lamiri di tengah-tengah grup musik Debu

“Ini Hendri Lamiri, atau bukan ya?” gumam saya berkali-kali.

Pasalnya, wajah violis yang siang tadi (11/3) tampil di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin itu saya lihat tampak lebih muda, cerah, dan segar. Sampai akhirnya saya membatin, “Ah, apa mungkin yang sedang saya lihat ini adiknya ya?”

Tapi, gaya khasnya saat memainkan biola, serta topi yang saya tidak tahu sebutannya itu sekali lagi mengusik saya.

“Orang yang sedang tampil bersama grup musik Debu ini… rasanya memang Hendri Lamiri!” bisik batin saya sekali lagi.

Dan benar saja. Tak lama kemudian, pembawa acara pun menyebut nama Hendri Lamiri sebagai sosok yang memang tampil bersama Debu siang itu. Saya pun langsung tersenyum senang. Apalagi saat Hendri akhirnya menunjukkan kepiawaiannya memainkan biola di pembuka sebuah lagu yang akan dimainkan oleh Debu. Kedua mata saya pun langsung berbinar senang saat gesekan biola Hendri menari di kedua telinga saya.

Puas dari menyaksikan aksi panggung grup musik Debu yang dihadirkan dalam rangka ulang tahun surat kabar harian Media Kalimantan, saya pun melenggang pulang meninggalkan gedung. Namun pihak Bu Hasnuryani dari Yayasan Hasnur menahan langkah saya dan teman-teman.

“Makan dulu,” ajaknya ramah. Sebuah ajakan yang membuat saya dan teman-teman pada akhirnya mendapat sebuah kejutan di luar dugaan di ruang makan.

Kejutan itu adalah makan bersama grup musik Debu dan juga Hendri Lamiri! Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang langsung dimanfaatkan oleh teman-teman saya untuk berfoto bersama pada personel grup musik Debu.

Kekaguman saya terhadap sosok Hendri Lamiri sendiri hanya terobati ketika saya bisa sedikit berbincang dengannya di sela-sela acara foto bersama beberapa teman saya.

“Bang, apa nih resepnya awet muda?” celutuk saya.

“Ikhlas,” jawabnya singkat.

Sambil mengatur pose dan tetap tersenyum menghadapi bidikan kamera di ajang foto bersama itu, ia pun lalu menambahkan, “Kalau ada masalah, direduksi. Jangan ditumpuk,” imbuhnya ramah.

Jujur, inilah jawaban di luar dugaan saya yang entah mengapa seakan-akan seperti dikirim Tuhan untuk menasehati saya dan teman-teman saya. Atas apa yang sedang saya dan teman-teman alami saat ini, rasanya kata-kata seorang Hendri Lamiri seperti sebuah sentilan yang menyentuh kami.

Mama Perias

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Nis, tolong ambilkan kantong plastik hitam di belakang ya!” seru Mama dari arah ruang salonnya.

Aku keluar dari kamarku dengan langkah malas, lalu mengambilkan apa yang Mama minta. Saat aku masuk ke salon, tampak ruang salon telah sepi dari pengunjung. Aneh, padahal biasanya setiap sore, salon Mama pasti masih ramai pengunjungnya.

Kantong plastik yang ada di tanganku lalu kuberikan pada Mama. Mama meraih kantong plastik sambil memandangku dengan heran. “Nisa kenapa? Kok tidak seperti biasanya?”

Mama masih terus menatapku. Namun karena aku tetap tak menjawab, akhirnya Mama menyerah dan kembali menyapu sisa rambut yang berserakan.

“Enggak ada apa-apa.” Aku berlalu meninggalkan Mama. Aku takut Mama bisa menebak yang sebenarnya. Tapi belum sempat langkahku menjauh, Mama kembali memanggilku.

“Nis, habis maghrib, kamu mau enggak kalau Mama ajak keluar?” panggil Mama lagi.

“Iya.” aku hanya menjawab pendek tanpa bertanya ke mana dan untuk apa.

Malamnya, Mama mengajakku ke jalan-jalan mall. Malam yang aneh bagiku. Karena sepertinya, Mama sedang benar-benar ingin menghibur diriku. Mulai dari menawari beberapa baju baru, mengajakku makan makanan yang aku suka, juga mengajakku membeli buku-buku cerita kesukaanku. Rasanya, aku seperti menemukan mamaku yang dulu.

“Kamu senang, kan malam ini?” tiba-tiba saat pulang dari mall, Mama bertanya padaku.

“Uhm, Nisa senang sih, Ma. Tapi, memangnya ada apa sih, Ma?” aku jadi bingung sendiri.

Mama tersenyum. “Nisa pikir Mama tidak tahu? Nisa sedang sedih gara-gara Mama sampai akhirnya menangis tadi sore, kan?” tebakan Mama yang benar membuat aku mengangguk.

“Nis, Mama minta maaf ya! Selama ini, Mama selalu sibuk di salon. Karena salon itu baru berdiri, tentu saja banyak yang harus Mama kerjakan. Sampai-sampai jika malam hari, Mama jadi tidak punya waktu lagi untuk menemanimu belajar. Atau, mengajakmu jalan-jalan seperti dulu.”

Aku terdiam menunduk dan mulai merasa bersalah.

“Tapi, semua Mama lakukan untuk menolong ekonomi keluarga kita. Sejak Papa tidak ada, Mama susah payah mengatur keuangan keluarga. Dan akhirnya ketika tabungan peninggalan Papa tinggal sedikit, Mama pikir, sudah saatnya Mama harus bekerja! Tidak mungkin kan kita terus mengandalkan uang tabungan Papa? Kebutuhan sekolahmu saja makin hari makin besar.”

“Tapi, kenapa Mama harus bekerja setiap hari? Setiap hari libur, Mama juga sibuk di salon. Jujur Ma, Nisa sedih karena Mama jadi kurang memerhatikan Nisa,” protesku.

“Yah mau bagaimana lagi, Nis. Apalagi sekarang sedang musim banyak orang menikah. Banyak orang yang membutuhkan jasa Mama. Tentu saja, mendandani orang menikah di hari Minggu kan tidak setiap tahun. Tapi mulai sekarang Mama janji kok, Mama akan selalu menyisihkan waktu setiap hari untuk kamu. Oh iya, besok, mulai ada orang baru lho di salon! Dia akan membantu kerja Mama. Jadi, Mama enggak akan sesibuk seperti dulu lagi. Tapi, Mama juga minta pengertian dari Nisa ya tentang kesibukan Mama. Karena sekarang, mamanya Nisa bukan lagi ibu rumah tangga, lho!” ujar Mama sambil tersenyum menenangkanku.

Aku tersenyum dan memeluk Mama. “Maafkan Nisa, Ma. Nisa sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Mama. Nisa pikir, Mama sekarang sudah tidak sayang dan peduli lagi sama Nisa.”

Mama lantas membalas pelukanku dengan erat. Ah, kini aku tahu. Mamaku ini memang mama perias yang tidak hanya bisa membuat orang lain senang karena telah dibuat menjadi cantik. Tapi, ia juga bisa membuat anaknya menjadi anak paling bahagia di dunia.

Sejak saat itu, aku mencoba jadi mulai memahami dan mengerti pekerjaan Mama. Malah terkadang, aku kini lebih banyak mencoba untuk membantu Mama. Paling tidak, membantu membereskan perlengkapan atau membersihkan lantai salon. Terkadang aku juga sering duduk-duduk di salon Mama sambil memerhatikan bagaimana kerja Mama dan Tante Rini, orang yang kini membantu Mama. Siapa tahu nanti aku bisa membantu Mama untuk memotong rambut, mendandani, atau melakukan perawatan rambut untuk orang lain.

Yah, Mama kan sudah mencoba berjuang untuk aku. Jadi, kenapa aku harus marah padanya atau malah tidak mau tahu sama sekali tentang pekerjaannya sekarang? Ah, aku jadi malu dengan ulahku beberapa waktu yang lalu.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers