25
Agu
09

Menjaga Budaya Bangsa Perantau

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Rasa nasionalisme bangsa Indonesia kembali bangkit lagi. Usai Reog, lagu Rasa Sayange, dan Batik, kini giliran tari Pendet asal Bali yang menjadi sasaran keusilan bangsa Malaysia terhadap Indonesia.

Kronologi kasus tari Pendet ini sendiri baru saya ketahui dengan jelas ketika semalam saya menyaksikan tayangan di TV One. Ternyata, tayangan tari Pendet tersebut digunakan oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) milik swasta di Malaysia dengan tujuan sebagai penayangan film dokumenter yang mengangkat tentang asal muasal batik di Malaysia yang kemudian ditayangkan oleh Discovery Channel.

Uniknya selama wawancara yang menghadirkan Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik, serta Noorman Abdul Halim pemilik PH asal Malaysia tersebut, tampak beberapa kelucuan yang terdengar dari hasil lontaran penjelasan pihak PH tersebut.

Misalnya dari keterangan pihak PH tersebut, saya jadi tahu bahwa tujuan dari pembuatan film dokumenter itu adalah untuk menerangkan tentang asal usul batik yang ada di Malaysia. Mulai dari adanya tari Bali, wayang, hingga batik sendiri yang kemudian membuat bangsa Malaysia jadi memiliki batik model sendiri.

Tentu saja, keterangan dari pihak PH ini membuat presenter dan Pak Jero sendiri jadi geleng-geleng kepala dan tertawa tidak mengerti. Pasalnya, mereka mengangkat deskripsi yang kebanyakan berasal dari budaya Indonesia tanpa mencantumkan nama Indonesia itu sendiri.

Adu pendapat pun tak terelakkan. Misalnya pernyataan dari pihak PH yang berdalih jika pemuatan tarian Pendet tersebut adalah ulah dari pihak Discovery Channel yang tidak mereka ketahui. Nyatanya ketika presenter TV One menanyakan dari mana Discovery Channel mendapatkan bahan dan dana pembuatan film tersebut, pihak PH mengakui jika itu semua berasal dari mereka.

Sampai akhirnya, penjelasan demi penjelasan dari pihak PH itu sendiri justru makin membuat mereka tersudut dan mencetuskan kata maaf jika memang ulah mereka telah menyinggung harga diri bangsa Indonesia.

Yang juga bisa dikatakan unik, keberadaan PH ini sendiri terungkap manakala adanya pernyataan dari pihak pemerintah Malaysia yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas masalah tersebut. Pasalnya, pembuatan film dokumenter itu sendiri dilakukan oleh pihak swasta, dan bukan inisiatif dari pihak pemerintah Malaysia.

Pihak PH yang diwawancarai oleh TV One pun membenarkan perkara inisiatif tersebut. Bahkan, mereka mengakui jika memang dana pembuatan film berasal dari mereka sendiri. Meski demikian, masa iya ulah sekelompok warga negara lantas dilepas begitu saja tanggung jawabnya oleh pemerintahnya sendiri?!

Memang, bangsa Indonesia begitu kaya akan budaya. Dan satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah, adanya budaya merantau yang juga dimiliki oleh bangsa kita. Belum lagi kenyataan bahwa tidak sendikit dari bangsa kita yang merantau ke negara lain itu lalu berbaur menjadi bagian dari bangsa tersebut.

Contohnya adalah keberadaan kampung Jawa yang ada di sebuah daerah di Malaysia. Saya mengetahui keberadaan kampung tersebut dari tayangan Backpacker di TV One pernah saya saksikan suatu ketika. Di tempat tersebut, masyarakat yang mendiami daerah itu memang kental bahasa Melayunya seperti laiknya kebanyakan rakyat Malaysia.

Namun untuk urusan budaya nenek moyang yang notebene adalah orang Jawa, mereka mengaku, budaya tersebut tetap mereka pegang. Bahkan setiap minggunya di hari-hari tertentu, masyarakat di kampung itu mengadakan latihan reog bersama.

Hingga kemudian, masyarakat yang kini telah berstatus warga negara Malaysia itu, diakui sebagai satu dari sekian suku atau bagian masyarakat di Malaysia, yang budayanya menambah kemajemukan budaya negara Malaysia. Tak pelak, ketika Malaysia ingin mempromosikan budaya bangsanya, budaya Reog milik kampung inipun masuk di dalamnya dan diberi ruang untuk menunjukkan diri sebagai bagian dari budaya Malaysia.

Sebetulnya, keberadaan budaya merantau dari masyarakat Indonesia ini bisa dikatakan mirip dengan keberadaan masyarakat Tionghoa yang kemudian tersebar di seluruh dunia. Mereka tak lagi menjadi bangsa Tionghoa yang ada di negara asalnya, berbaur dan melebur menjadi bangsa yang mereka tinggali sekarang, tapi tetap menjaga budaya yang mereka bawa dari tempat mereka berasal. Bahkan secara turun temurun.

Saat karnaval Agustus-an kemarin saja misalnya, di Lamongan tempat saya tinggal, atraksi barongsai bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagian dari kemajemukan budaya Indonesia oleh sebuah sekolah kejuruan berbasis Islam. Sampai-sampai, yang memainkannya pun bukan lagi anak-anak asli Tionghoa!

Cuma, memang ada pembeda antara fenomena budaya Tionghoa di berbagai negara atau daerah di dunia dengan fenomena budaya perantau asal Indonesia. Jika budaya Tionghoa yang dibawa oleh para perantaunya kemudian berasimilisi dengan budaya yang didatanginya, berbeda dengan kasus budaya perantau bangsa Indonesia di Malaysia yang lantas mereka akui sebagai budaya bangsa tersebut.

Malaysia jelas-jelas kerap menampilkan beberapa bentuk budaya para perantau asal Indonesia, yang kemudian menjadi warga negaranya dan mereka akui sebagai budayanya, namun dengan penampakan budaya yang masih sama dengan di tempat asalnya, yaitu Indonesia! Paling-paling, urusan nama atau istilah, hingga penampilan yang sedikit sekali saja diubah sehingga terkesan tidak milik Indonesia.

–Patenkan Budaya Suku Perantau–

Lepas dari kasus tersebut, sebetulnya ada hikmah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Satu dari sekian hikmah yang saat ini sedang digembar gemborkan adalah urusan pematenan budaya ke kancah internasional.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Pak Jero, beliau mengakui jika upaya tersebut sudah mereka lakukan. Hasilnya antara lain, keberadaan batik dan keris yang kini sudah dipatenkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia. Sedangkan urusan angklung atau Reog, sedang dalam tahap proses pematenan.

Sayangnya, upaya pematenan ini terkesan menuntut proaktif dari tiap-tiap daerah yang ingin mematenkan budayanya. Padahal, pemerintah sebetulnya harus lebih memerhatikan lagi keberadaan dan perkembangan budaya di berbagai daerah.

Bahkan menurut saya, budaya dari beberapa suku yang terkenal memiliki jiwa perantau inilah yang lebih perlu diperhatikan lagi. Di Indonesia, beberapa suku seperti Jawa, Madura, Minang, dan Bugis memang identik sebagai suku berbudaya merantau yang kental. Tentu saja, ini juga bisa berimbas kepada adanya budaya yang kemudian mereka bawa dan diwariskan ke anak cucu yang kemudian menetap tidak di tempat asal mereka lagi.

Selain Batik atau Wayang, Rendang saja misalnya, sempat diakui sebagai makanan khas asal Malaysia. Padahal siapapun di Indonesia tahu, jika makanan tersebut identik dengan suku Minang berikut budaya Rumah Makan Padang-nya.

Kekayaan budaya Indonesia memang bisa memungkinkan bangsa kita lengah untuk menginventarisir kekayaannya sendiri. Tapi dengan adanya kasus yang ditimbulkan oleh Malaysia, seharusnya pemerintah perlu makin giat untuk mematenkan budaya-budaya yang ada. Jangan hanya ketika sudah menjadi masalah saja usaha itu baru diupayakan!

Coba saja deh lihat kejadian beberapa tahun yang lalu. Jikalau tidak ada ulah Malaysia yang mengklaim batik sebagai budayanya, pemerintah Indonesia tidak terpikir bukan untuk membawa perkara ini ke tingkat UNESCO?

Bahkan saking bangga dan sombongnya akan kesohoran Bali berikut segala budayanya di seantero dunia, sampai-sampai, kekayaan budaya yang paling bisa dilihat dengan jelas sebagai milik Indonesia itu terlupa dipatenkan oleh pemerintah Indonesia.

Yah, kita semua memang bisa jadi tidak terpikirkan akan hal tersebut. Karena kita merasa dunia sudah mengetahui keberadaan Bali dan budayanya, hingga tak ada sedikitpun pikiran jika suatu saat budaya itu akan diakui oleh bangsa lain. Meskipun jika istilah dari pihak PH asal Malaysia, disebut dengan kata ‘dipinjam’!

Selain urusan pematenan budaya, sebetulnya ada satu hal menurut saya yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia utamanya. Yaitu bagaimana upaya dari pihak pemerintah Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para perantau yang kini bahkan sudah menjadi bagian dari warga negara asing.

Para perantau ini jika ditilik asal muasal perpindahannya, jika dirunut, selalu didasari pada alasan untuk memerbaiki kualitas kehidupan. Ketika tiba di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman pun membuat mereka mencoba saling berkumpul, membuat suatu komunitas, dan mencoba menebus rasa rindu mereka terhadap kampung halaman dengan cara melakukan kegiatan budaya seperti di tempat asal mereka.

Ketika kegiatan mereka mendapat apresiasi positif dan menyenangkan dari pihak pemerintah tempat mereka tinggal saat itu, siapapun akan merasa tersanjung. Hingga dengan senang hati, masyarakat inipun akan membalas apresiasi positif itu dengan cara yang juga positif.

Misalnya saja dengan mengikutsertakan diri dalam sebuah ajang unjuk budaya yang membuat mereka bisa menampilkan sebentuk budaya asal daerah mereka dulunya. Tentunya, siapapun akan bangga bukan bila bisa menunjukkan budaya asal mereka yang mendapat respon penerimaan menyenangkan dari tempat mereka tinggal sekarang?

Karena itulah, hal ini menjadi PR atau perhatian bagi pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk lebih memerhatikan nasib, kondisi, bahkan keberadaan para warga negara Indonesia yang ada di negara perantauan. Meskipun mereka merantau hingga memilih untuk melepas kewarganegaraan Indonesianya, yang jelas, mereka tidak bisa menafikan jika ada bagian dari diri mereka yang masih berwarna merah putih, kebanggaan diri akan Indonesia!

Cara ini misalnya bisa dilakukan dengan sedikit mencontoh sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta di Singapura. Dulu ketika saya berada di Batam, saya sangat menyukai acara di Channel 5 yang mengangkat cerita tentang orang-orang yang sekarang menjadi warga negara Singapura, namun masih tetap memiliki kerinduan terhadap daerah asalnya.

Suatu ketika dalam tayangan tersebut, saya menyaksikan kisah seorang wanita muda yang mencoba menelusuri keberadaan kerabatnya yang berada di daerah Malang. Dengan bangga dan euforianya, ia tidak hanya menebas rasa rindu pada sebuah tempat dan orang-orang yang bahkan sejak ia lahir hanya pernah ia dengar dari cerita orangtuanya. Akan tetapi, ia pun mencoba dengan ekspresi senang beberapa budaya yang ada di tempat tersebut, yaitu budaya yang ada di Malang.

Nah, mengapa kita tidak bisa membuat acara tayangan televisi yang mirip seperti itu? Saya sangat berharap suatu ketika, ada sebuah acara di televisi yang mengangkat tentang bagaimana cerita dari orang-orang yang kini berstatus bukan lagi warga negara Indonesia, namun masih tetap menjaga, memelihara, dan mewariskan tradisi budaya leluhurnya, yaitu yang berasal dari bangsa Indonesia.

Tayangan seperti itu bisa menjadi upaya menjalin komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang kini berada di perantauan atau bahkan bukan lagi menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Sekaligus dengan cara seperti itu, pihak media massa bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa lagi timbul seperti kasus Reog Ponorogo yang dicuatkan oleh masyarakat kampung Jawa yang ada di Malaysia.

Ah, saya pun jadi teringat cerita sahabat saya Tari yang sedang meliput di Singapura. Ketika bertemu dengan seorang pegawai di sebuah tempat hiburan di sana, sahabat saya itu disambut dengan ulah kegirangan dari pegawai tersebut hanya karena pegawai itu tahu jika Tari berasal dari Jawa!

Konon ternyata, si pegawai yang warga negara Singapura ini masih menyimpan cerita turun temurun di keluarganya jika keluarga mereka berasal dari tanah Jawa. Dan ia, bisa mengatakan dengan nada bangga jika leluhurnya adalah orang Indonesia!

–Yang Muda yang Melestarikan–

Saya selalu salut dengan anak muda asal Minang, dan Batak. Ke manapun mereka tinggal, mereka selalu tidak pernah meninggalkan kecintaan mereka terhadap budaya musik yang kental dengan bahasa daerahnya. Berikut juga kecintaan mereka akan makanan asal daerahnya.

Pak Condra dan Ici, misalnya yang dulu keduanya merupakan teman-teman saya ketika saya bekerja di Politeknik Batam. Jika sedang bekerja di hadapan komputer, mereka dengan asyiknya akan makin menikmati kerja mereka apabila mereka beraktivitas sambil mendengarkan musik asal Minang. Pak Condra dan Ogas, kawan saya yang lain di Tribun Batam, juga bangga dengan musik Saluang yang mereka jadikan dering panggilan untuk ponsel mereka.

Sedangkan jika kita menaiki angkot yang ada di Batam, para pengemudi Metro Trans, demikian istilah untuk angkot di Batam, yang berasal dari suku Batak, kerap memperdengarkan lagu daerah berbahasa Batak yang menjadi label dari suku mereka.

Sementara saya sendiri yang asal Jawa, justru antipati dengan musik gamelan Jawa. Bagi saya, suara gamelan kerap identik dengan kesan yang memungkinkan seseorang menjadi mengantuk saat mendengarkan!

Dan sepertinya, orang muda asal Jawa seperti saya pun agaknya juga cenderung bertingkah serupa. Buktinya selama saya di Batam, tidak ada tuh sopir asal Jawa yang memperdengarkan campur sari apalagi gamelan Jawa yang menjadi ciri khas suku Jawa?!

Namun dari fenomena beberapa teman saya asal Minang itu, lambat laun, ternyata sedikit banyak mampu mengubah sikap saya saat ini. Yah, paling tidak ketika saya kembali ke Lamongan, usai beberapa tahun tinggal di tanah Melayu, saya jadi tidak alergi dengan musik campursari-nya Waljinah. Uniknya, saya justru malah mulai menyukainya lho!

CD campur sari Jawa Tengah-an

CD campur sari Jawa Tengah-an

Bahkan jika diingat-ingat, pernah suatu ketika, saat saya berada di taksi ketika masih di Batam dan beberapa minggu kemudian akan meninggalkan tempat tersebut, saya kegirangan saat bisa mendengarkan lagu ‘Ngapotek’ yang terkenal berasal dari Madura.

Mungkin benar, jika kita berada di perantauan, barulah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dulu kita biasa lihat atau dengar di daerah asal kita, akan terasa istimewa kita tangkap ketika kita di perantauan.

Rasa itu persis seperti yang saya rasakan sebelumnya ketika saya berada di Batam. Atau, kerinduan saya hingga saat ini akan budaya Betawi tempat dulu saya lahir dan melewati masa kecil di Bekasi.

Namun dari melihat bagaimana sebuah budaya bisa bertahan dalam sebuah generasi, sepertinya, peran dari keluargalah paling tidak yang sangat berperan untuk membuat generasi berikutnya tidak alergi terhadap budaya nenek moyangnya.

Saya contohnya, meski dari kecil terkadang sering mendengarkan gending gamelan Jawa yang diputar sendiri oleh kedua orangtua saya, namun musik berirama pop atau berlirik Inggris yang justru menjadi kebanggaan.

Begitu juga kebanggaan yang coba ditanamkan kepada saya ketika saya diminta untuk memelajari tari Bali. Akibatnya bagi saya, gamelan Bali lebih terasa ramah di telinga saya dari pada bunyi-bunyian gamelan Jawa!

Saya baru sadar, jika sejak kecil, saya memang diajak terbiasa namun kurang diajak untuk mencintai budaya Jawa. Ehem, tapi sekali lagi, gara-gara pernah merasakan jadi anak rantau selama beberapa tahun, ternyata pengalaman itu yang justru membuat pikiran saya jadi terbuka sekarang ini.

–Ada Ujian Tari Bali Berikut Rapotnya–

Tari Pendet asal Bali saat ini memang jadi sorotan paling ramai di kalangan masyarakat Indonesia. Tari ini kemudian menjadi ikon yang identik dengan Bali karena tari tersebut menjadi simbol ucapan selamat datang atau sambutan bagi tamu di dalam budaya masyarakat Bali.

Di kalangan para penari Bali sendiri, tari Pendet kerap dijadikan sebagai tarian dasar untuk menguasai tari demi tari Bali selanjutnya. Ini tak lain karena seluruh dasar tari Bali sepertinya ada pada tari ini. Apalagi, ritmenya pelan dan tidak begitu membutuhkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh.

Dulu ketika saya masih berusia lima tahun saat pertama kali belajar tari Bali, gerak tubuh saya benar-benar dibentuk di tari Pendet oleh guru tari saya, Pak I Wayan Suarka. Ibu saya maupun ibu teman-teman saya lainnya bahkan, tidak ada satupun yang akan bisa menolong kami ketika kami diarahkan dengan tegas gerak tubuhnya.

“Pendaknya kurang!” demikian tegas Pak Wayan biasanya kepada kami jika posisi lutut kami saat berdiri kurang ditekuk sehingga tubuh kami masih terlihat berdiri lurus.

Atau, “Tangannya diangkat lagi!” perintah Pak Wayan sambil mengangkat dengan tegas siku kami sejajar lagi dengan dada.

Biasanya saat kami awal-awal latihan, Pak Wayan sampai-sampai akan dengan tegas membentuk tubuh kami mulai dari posisi telapak kaki yang berposisi miring, atau jari kaki yang harus ditekuk ke atas. Jika dalam posisi berdiri, kami diminta untuk menekuk lutut dan menahannya dalam beberapa hitungan. Pun dengan posisi badan yang harus terus tegak, tidak boleh membungkuk. Belum lagi urusan kedua tangan yang tidak boleh sedikitpun terlihat turun dari arah sejajar bidang bahu dan dada.

Latihan dasar lainnya adalah urusan daerah kepala. Mulai dari belajar melotot dan melirik ke kanan dan kiri, serta gerak patah kepala khas tari Bali. Dan jangan lupa, selalu tersenyum saat menari!

Posisi gerak tangan yang banyak diangkat sejajar dengan dada, dan posisi berdiri merendah dengan lutut kaki yang ditekuk memang menjadi syarat utama bagi kami untuk bisa menguasai tari Bali. Dan, semua itu menjadi terbiasa bagi kami jika kami menguasai tari Pendet terlebih dahulu yang memiliki unsur-unsur gerak utama tari Bali.

Meski saya sewaktu kecil belajar tari Bali, namun sayangnya, saya justru baru tahu bahwasanya tari ini dulunya adalah serangkaian gerakan yang digunakan sebagai bagian dari sembahyangnya umat Hindu di Bali. Bahkan, tari Pendet ini pun merupakan tergolong tari kreasi baru seperti laiknya tari Panembrama yang unsur membawa bokornya mirip dengan tari Pendet.

Uniknya, pengetahuan itu justru saya ketahui sekarang setelah kebanyakan orang di Indonesia meramaikan tayangan tari Pendet yang diakui berasal dari Malaysia. Jadi jika dipikir-pikir, ada hikmahnya juga ulah dari PH asal Malaysia tersebut.

Keberadaan tempat-tempat yang bersedia mengajarkan tari Bali itupun kini tidak lagi sebatas berada di Bali. Di Jakarta atau kota-kota besar di sekitarnya misalnya, tari Bali bisa dipelajari seperti laiknya kursus atau les. Bahkan ketika saya dulu mengikuti les tari ini di Bekasi, ada istilah ujian kelulusan di anjungan Bali yang ada Taman Mini Indonesia Indah.

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Bahkan, saya terima rapot yang berisi nilai juga lho! Penilaiannya didasari pada nilai wiraga, wirasa, dan wirama. Jika usai ujian dan kami dinyatakan lulus, kami bisa dinyatakan naik ke tingkat selanjutnya.

Rapot Tari bali

Rapot Tari bali

Sementara itu di beberapa kota lainnya, penguasaan tari Bali ini bisa dipelajari oleh siapa saja di pura. Di Batam misalnya, setiap hari Minggu, tidak hanya anak-anak beragama Hindu saja yang belajar tari ini. Anak-anak lain pun bisa ikut memelajarinya.

Sebetulnya, cara seperti ini bisa menjadi satu dari bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah tanpa memandang di Indonesia mana tempatnya. Hingga ketika kasus seperti ulah PH Malaysia yang saat ini ada mencuat, saya yang bukan orang Bali pun bisa mengetahui jika gerakan tari yang sedang ditarikan itu memang persis tari Pendet. Namun, bagian lilitan stagen saja menurut saya dari penari itu yang kurang mirip dengan di tempat asalnya, yaitu Bali.

Intinya, dengan cara saling mengenal dan mempelajari budaya sendiri bahkan daerah lain di Indonesia, membuat kita bisa merasa ikut memiliki dan bahkan mengenali identitas kepemilikan bangsa kita sendiri ini dengan jelas.

Tidak ada kata terlambat untuk anak muda Indonesia belajar mencintai dan menjaga budaya sendiri. Apalagi budaya dari daerah sendiri. Cukup sampai di Pendet saja deh perang budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Dan, cukup sampai di situ juga Indonesia kalah start urusan pengklaiman budaya dari negara lain!

24
Agu
09

Mengisi Energi Tubuh dengan Sabar

“Sesungguhnya Allah itu bersama dengan orang-orang yang sabar.” Kata-kata itu dulu jadi kerap saya dengar dari Etty, sahabat saya semasa berkuliah dan kos di Malang dalam bentuk ucapan bahasa Arabnya. Dalam ketidaksabarannya menghadapi sesuatu, kerap, Etty menahan rasa emosinya dengan mengucapkan kata-kata tersebut dan berupaya untuk tersenyum sembari menghela nafas.

Di kemudian hari, masih di Malang, saya yang awalnya hanya gemar membaca Al Quran tanpa tahu artinya, baru tahu jika kata-kata dalam bahasa Arab yang sering diucapkan Etty itu adalah bagian dari ayat Al Quran. Hehe… payah yah?!

Namun bagi saya sebelumnya, kata-kata tersebut hanya saya maknai sebagai arti bahwa Allah itu akan membantu orang-orang yang sedang berkondisi sabar. Paling tidak, kita melatihnya ketika melakukan shalat, puasa, atau ketika menghadapi orang yang sedang emosi. Pikir saya kala itu, jika kita sedang menghadapi suatu kesulitan, maka sebaiknya kita banyak melakukan shalat dan puasa. Maka, dari situlah Allah akan membantu kita.

Tapi itu pengertian yang saya pahami sebelum saya mendengar penjelasan dari Ustadz Abu Sangkan dalam acara Ensiklopedia Islam di Metro TV. Dalam acara yang selalu paling saya sukai setiap kali bulan Ramadan tiba, Ust Abu membuka pikiran saya dengan sebuah penjelasan nalar yang cukup membuat saya terpukau. Ia bisa menerangkan tentang sabar dalam sudut pandang energi dari ilmu tai chi milik Tionghoa.

Menurutnya, seseorang yang berada dalam kondisi sabar itu seperti laiknya seseorang yang sedang dalam kondisi kosong. Namun meski kosong yang terlihat, sesungguhnya kondisi sabar itu bisa membuat seseorang mengisi penuh energinya sehingga ia mampu memiliki kekuatan.

Misalnya saja ketika kita sedang menghadapi seseorang yang sedang emosi, sesungguhnya orang tersebut justru tidak sedang dalam kondisi berenergi. Yang ada, energi yang dimiliki oleh seseorang yang sedang emosi tersebut justru bisa terserap oleh orang di hadapannya yang sedang dalam kondisi diam, alias sabar.

Karena itulah seseorang yang usai menangis atau marah, pasti sesudahnya akan merasa lemas. Dalam Al Quran sendiri (yang maaf saya lupa surat dan ayatnya), disebutkan bahwasanya seseorang yang usai bersedih atau menangis, akan diberikan Allah rasa kantuk pada tubuhnya. Subhanallah, dari penjelasan Ust Abu, saya jadi paham makna dari surat tersebut!

Hubungan sabar dengan shalat juga hampir mirip dengan penalaran hubungan seseorang yang sabar ketika menghadapi seseorang yang sedang emosional. Seseorang yang sedang sabar dalam melakukan shalat, sesungguhnya ia sedang mengondisikan dirinya dalam keadaan yang nyaman. Baik itu dalam otak atau pikiran, maupun dalam gerak tubuhnya.

Kondisi otak dan tubuh yang seperti itu ternyata menurut Ust Abu, mampu membuat seseorang bahkan memiliki peningkatan antibodi dalam tubuhnya. Karena, otak akan dengan sendirinya memerintahkan pada tubuh untuk mengeluarkan zat kekebalan tubuh ketika seseorang berada dalam kondisi tersebut. Itu bahkan artinya, mampu membuat seseorang menyingkirkan sendiri penyakit-penyakit yang ada pada tubuhnya.

Penjelasan itulah yang membuat saya makin paham dan yakin akan khasiat shalat tahajud. Pernah saya dengar, jika kita memiliki penyakit kanker misalnya, bisa sembuh dengan sendiri melalui shalat tahajud yang dilakukan secara rutin.

Hilangnya penyakit itu memang tak lain dari izin Allah yang berasal dari doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya demi kesembuhan yang kita pinta. Namun jika melihat penjelasan akan efek shalat pada antibodi, sesungguhnya sistem kerja itulah yang sedang berproses pada diri kita.

Bagaimana cara shalat dengan sabar? Ust Abu pun memberikan tipsnya. Caranya, tak lain adalah dengan menikmati. Bahkan, Ust Abu pun justru tidak memberikan tips untuk berkonsentrasi lho ketika shalat!

Yang ada, Ust Abu justru menyarankan kita untuk sadar ketika shalat dan berpikir bahwasanya apa yang sedang kita ucapkan itu sesungguhnya memang ucapan yang sedang kita bicarakan kepada Allah yang berada di hadapan kita ketika kita sedang shalat. Cara sadar seperti itulah yang justru membuat kita bisa menikmati ritualitas shalat.

Nah, mumpung Ramadan, kita sama-sama belajar yuk untuk sabar. Semoga ketika kelak kita diberi rejeki usia oleh Allah bisa melewati masa Ramadan, ilmu sabar ini sudah bisa kita kuasai… J

24
Agu
09

Kalah Undian

Foto ini saya ambil sekitar seminggu yang lalu, saat acara jalan sehat di kelurahan tempat saya tinggal. Biasanya memang, untuk memeriahkan acara semacam ini, pihak penyelenggara kerap mengadakan acara undian bagi para pesertanya. Ehem, seperti yang ada dalam foto inilah yang kerap terjadi…

cerita ningsih dan septi

cerita ningsih dan septi

24
Agu
09

Jika Adik Menangis Lagi

Oleh: Ika Maya Susanti

Aku sedang bingung, pusing, sedih, dan kesal. Lho, kenapa bisa campur aduk seperti itu ya? Soalnya, adikku yang masih berusia tiga tahun, Shakila, sedang memiliki hobi baru yang mengasyikkan. Yah, itu mungkin kalau versi Shakila barangkali ya?!

Penasaran dengan hobi si adik kecilku ini? Hobi barunya itu adalah menangis! Yah benar, menangis! Aku sendiri sampai pusing. Soalnya, akhir-akhir ini Shakila begitu mudah sekali menangis. Bahkan sepertinya, aksi menangisnya itu jadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apapun yang diinginkan oleh Shakila.

“Huh, sedikit-sedikit nangis! Mau ini itu, nangis dulu!” gerutuku.

Misalnya saat sedang bermain denganku, Shakila pasti akan mengeluarkan jurus ampuhnya jika keinginannya tidak terpenuhi. Kalau aku sedang berbaik hati, biasanya sih akhirnya aku mencoba mengalah dan menuruti apa yang menjadi keinginan Shakila. Tapi kalau aku sedang tidak ingin menjadi anak yang baik, aku tetap tidak akan mau mengalah. Biarkan saja Shakila menangis sampai berguling-guling di lantai. Kan capek kalau harus mengalah terus!

Tapi kalau sudah begitu, biasanya Mama yang akhirnya turun tangan. Mama akan membawa Shakila pergi, atau ujung-ujungnya aku yang disuruh untuk mengalah.

“Mentang-mentang Shakila masih kecil, kok jadinya Naomi terus sih Ma, yang disuruh mengalah?!” protesku.

“Naomi sayang… apa iya lalu Mama meminta adik yang mengalah? Ini saja sudah menangis separah ini. Jadi mau tidak mau, Naomi yang mengalah ya, Nak. Naomi kan sudah lebih besar dan lebih mengerti,” Mama meminta pengertianku.

Kadang-kadang, aku memang kasihan juga melihat Mama. Mama sering terlihat capek karena mengurus rumah dan juga bekerja. Kalau aku sedang sadar seperti itu, akhirnya aku mencoba mengalah. Biar Mama tidak semakin kelelahan.

Entahlah, bagaimana asalnya Shakila sampai menjadi anak yang cengeng seperti sekarang. Karena kalau aku ingat-ingat sih, sebetulnya Shakila sebelumnya tidak secengeng seperti saat ini kok. Bulan lalu saja seingatku, Shakila masih menjadi adik manis yang tidak gampang menangis. Namun kenapa ya sejak minggu-minggu terakhir ini, Shakila kok hobi sekali menangis?

“Aha, Aku ingat sekarang! Ini sepertinya sejak Bik Nana pulang kampung deh!” aku tiba-tiba jadi teringat sejak kapan Shakila menjadi mudah menangis akhir-akhir ini.

Iya, sejak Bik Nana pembantuku itu pulang kampung, aku merasa adikku berubah menjadi anak cengeng. Soalnya kalau ada Bik Nana, apa-apa keinginan Shakila pasti dipenuhi. Sehari-hari, Bik Nana bisa bermain dengan Shakila. Apa iya ya, mungkin Shakila kehilangan orang yang sangat perhatian dengannya?

Uh, tapi jadinya sekarang orang satu rumah jadi kerepotan, deh karena ulah Shakila! Aku lihat, akhir-akhir ini Mama dan Papa jadi repot. Mama dan Papa harus bergantian mengurus rumah. Lalu, jadi repot lagi karena Shakila yang sering cengeng setiap harinya.

Aku juga jadinya ikut-ikutan terganggu nih. Kalau aku sedang sibuk belajar, Shakila sering sekali datang untuk mengajakku bermain. Ah, tapi bukan bermain menurutku. Aku pikir lebih tepatnya dia hobi sekali menggangguku! Dasar anak kecil. Sudah diberi tahu kalau aku sedang belajar, masih saja ia menggangguku. Menarik-narik bukuku, mengambil pulpen yang akan aku gunakan untuk menulis, atau ulah lainnya yang cukup mengganggu. Huah… capek!

“Mimi… atu mita inyi…” oceh Shakila tiba-tiba yang bicaranya masih susah untuk dimengerti. Ia mencoba menarik-narik HP milikku yang sedang diletakkan di atas meja belajarku. Benar-benar aku kaget. Soalnya, aku sedang asyik belajar. Eh, bukan kok. Yang benar sebetulnya aku sedang bingung melamun memikirkan Shakila.

“Ih Shakila, mau dibawa ke mana HP punya Kakak? Eh… duh… itu nanti rusak!” aku mencoba melarang Shakila. Tapi ternyata lagi-lagi Shakila tidak mau tahu dan terus mencoba merengek meminta HP milikku itu.

“Aduh… jangan ganggu Kakak, dong! Kakak kan sedang konsentrasi mengerjakan PR nih!” protesku sambil langsung menarik HP yang sudah berhasil dipegang oleh Shakila.

Shakila kaget. Ia lalu memandangku lama sambil tetap memegang kuat HP yang ada di tangannya. Dan… satu, dua, tiga! “Hiks… hiks… Hua… Mama… Mimi ahat…!!!” teriak Shakila mencari pembelaan dari Mama. Tuh kan, mulai lagi deh aksi menyebalkannya itu!

Aku jadi panik, takut Mama dan Papa akan datang menegurku karena sudah membuat Shakila menangis. Lalu sampai-sampai tanpa sengaja, aku menekan asal beberapa tombol yang ada di HP itu saat sedang mencoba merebutnya dari tangan Shakila. Tapi tanpa aku sadari, aku sedang merekam suara tangisan Shakila.

“Eh, aduh! Tuh, jadi nggak sengaja menekan tombol HP, nih! Sini!” aku langsung mengambil paksa HP di tangan Shakila dan mengecek tombol apa yang tadi sudah kutekan.

“Hah, perekam suara?” aku terkejut dan lalu mencoba menyetel ulang.

“Hua… hua… Mimi ahat! Hua… hua…” suara tangis Shakila yang ada di HP terdengar bersaing dengan suara tangis Shakila. Pertama-tama Shakila tampak bingung. Ia melihat HP yang ada di tanganku sambil terus menangis.

“Ciapa… ciapa…? Tu Adek, angis,” tunjuknya ke HP yang masih terus kusetel rekaman suara tangis Shakila.

“Iya, ini suara Shakila kalau lagi menangis. Tuh, dengar tuh… siapa tuh yang cengeng?” tanyaku sambil memperdengarkan rekaman tangis Shakila.

Eh ajaib! Ternyata tangis Shakila malah berhenti dan ia jadi tertawa-tawa. Saat suara rekaman habis, ia memintaku untuk menyetel ulang lagi.

“Agi… agi…” serunya yang mau tak mau akhirnya kuturuti. Yah tak apalah, asalkan Shakila tidak menangis lagi deh.

Nah sejak saat itu, aku jadi menemukan jurus ampuh bila Shakila sedang menangis. Biasanya, aku akan merekam suaranya dan lalu kuputar ulang. Kadang-kadang, aku foto wajah jeleknya yang sedang menangis dan kutunjukkan padanya.

Sejak saat itulah, hobi menangis adekku jadi berkurang. Tapi sebagai gantinya, sekarang aku jadi pusing sendiri. Soalnya, Shakila punya hobi baru. Ia suka sekali menyanyi keras-keras dengan suara cadelnya dan minta direkam olehku. Atau, ia akan bergaya sok cantik dan minta untuk kufoto. Aduh… pusing deh jadinya melihat hobi baru adikku itu!!!

17
Agu
09

Foto-foto Mbah Suhadi


Oleh: Ika Maya Susanti

“Mbah Su, inget ta karo foto iki?” Mbah Rohim menyodorkan selembar foto kepada Mbah Suhadi.

Sesaat Mbah Suhadi mengernyitkan kening sebelum kemudian tersentak kaget menghentakkan foto yang kini ada di genggaman tangannya. Di foto itu, ada Mbah Rohim dan Mbah Suhadi yang sedang duduk di anak tangga undakan depan rumah Mbah Rohim. Jika kini mereka berdua lekat dengan sarung dan kaos singlet, Mbah Rohim dan Mbah Suhadi saat itu masih bergaya bak pemuda era zaman itu yang lekat dengan celana kain cut bray dan kemeja lengan panjangnya. Kala itu meski mereka masing-masing sudah memiliki anak yang beranjak remaja, Mbah Suhadi menerbangkan ingatannya, penampilan tetaplah masih menjadi hal yang utama untuknya dan teman-temannya.

“Lho lho lho… ini kan foto awake dewe zaman muda dulu? Kalau nggak salah, zaman aku umur 25 tahun, seh?! Anakku masih dua rek, waktu itu! Nek awakmu, pas iku malah wis nduwe anak telu, iyo kan?” mata Mbah Suhadi meminta kata iya dari Mbah Rohim.

“Yo… bener iku, Mbah!” Mbah Rohim mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sedikit senyum kebanggaan. Kedua kakek-kakek yang kini sudah berusia di atas 60 tahun itu pun menatap masa muda mereka yang terlekat di selembar foto berukuran sebentuk buku tulis besar.

“Kok bisa awet? Kok iki fotone bisa kayak baru lagi? Iki kan foto wis lama se? Yok opo caramu nyimpen kok bisa awet?” Mbah Suhadi bertanya beruntun penasaran tak percaya. Meski ia yakin, foto yang ada di tangannya memanglah asli. Dalam memorinya, ia juga memiliki foto itu namun kondisinya sungguh memprihatinkan. Jangankan untuk bisa dilihat. Foto-foto lama koleksinya yang ada kebanyakan sulit untuk dipegang, dengan pinggir kertas yang menyerpih seperti dimakan rayap.

“Anakku seng mbawa ke tukang foto. Istilahe opo yo katanya waktu itu… Direpro nek nggak salah istilahe?! Kalau nggak salah seh, ngono jare anakku! Emboh Mbah Su, opo maksude aku nggak ngerti. Didaur ulang opo yo artine?” Mbah Rohim yang sedang memegang segelas kopi, sedikit mengedikkan bahunya tanda kurang mengerti. Setelah menyela menyeruput pekat hitam dari gelas tersebut, ia pun kembali berujar, “Ajaib yo? Aku dewe kemarin yo sampe heran nggak habis-habise kok! Coba, kok iso gitu lho ono foto lawas jadi u…anyar maneh!”

“Yo yo yo…” Mbah Suhadi manggut-manggut. “Berarti foto opo ae sing lawas, iso dadi baru yo?” digoyang-goyangkannya foto yang masih terjepit di sela ibu jari dan jari telunjuk Mbah Suhadi. “Sek, sek… Nek gitu, di mana, di mana tempate mbuat foto jadi baru koyok iki?” Mbah Suhadi makin tertarik penuh minat.

“Nyoba ae di Indah Foto. Depane kantor Pegadaian iku lho, Mbah!” jawab Mbah Rohim. “Anakku kemaren bilang dia habis bawa foto iki dari sana.”

Anggukan mantap dari Mbah Suhadi. “Hiyoh! Wis, suwun infone. Ntar ta’ buate baru juga foto-foto lawasku di rumah,” Mbah Suhadi mengingat-ingat foto apa yang dimilikinya dan ingin ia buat baru seperti foto milik Mbah Rohim. “Mugo-mugo fotoku ono sing selamet!” harap-harap Mbah Suhadi dalam gumamannya sendiri.

Ringan melayang kayuh langkah Mbah Suhadi membuat sepeda jengkinya melaju pelan namun pasti. Dalam hatinya, Mbah Suhadi begitu senang bagai orang tak punya hutang di kala sore itu. Acara cangkruknya di warung kopi langganannya kali waktu itu ternyata bisa memberinya sebuah ilmu baru. Sepeda jengki Mbah Suhadi pun melaju ke arah rumahnya dengan pengayuh yang penuh senandung di atas sadel sepeda. Ia masih mereka-reka, foto lama apa saja yang akan dibuatnya baru.

Sesampainya di rumah, Mbah Suhadi benar-benar langsung membongkar-bongkar lemari lapuknya. Azan Maghrib yang melantang seakan hening tak mengusik. Dibukanya lapisan-lapisan koran yang menjadi alas dari tumpukan baju-bajunya. Ia ingat, jika tak salah, ia pernah menyimpan beberapa foto lama miliknya di bawah alas koran tumpukan lipatan agak tak beraturan dari baju-bajunya.

“Lhah…” mata Pak Suhadi membeliak binar saat menemukan benda yang dicari. Di antara foto-foto temuannya, ia menjatuhkan pilihan hanya pada sebuah foto. Seperti kekhawatirannya, kebanyakan foto-fotonya tidak layak untuk dibawa beranjak ke studio foto karena rapuh.

Di sebuah foto pilihannya, ada gambar dirinya ketika ia masih terlihat muda, terlihat gagah, meski di usianya saat itu ia sudah duduk berpose sendiri di salah satu kursi pelaminan untuk pernikahan putrinya. Saat itu, Mah Suhadi menginjak usia 40 tahun di waktu pernikahan pertama untuk anak ke dua dari lima anak yang dipestakannya. Foto temuannya itu sebetulnya sudahlah tak seberapa jelas. Bercorak jamur menebar di sana-sini yang membentuk bingkai bagian tepi foto. Sedikit jamur juga menempel di foto bagian wajahnya. Tapi ia sangat yakin, foto itu bisa disulap di Indah Foto yang akan didatanginya usai shalat Maghrib nanti.

***

“He he he… Kalian mesti kaget lihat iki! Hem, lihaten ta, aku mbawa opo iki?” suara tawa canda anak dan cucunya yang sedang bercengkerama di ruang tamu dipecah oleh Mbah Suhadi. Ia yakin, semua orang yang ada saat itu pasti kaget dengan apa yang akan ditunjukkannya. Mbah Suhadi pun kemudian menyobek bungkusan koran yang melapisi sebuah benda bersiku segi empat.

“Lho Pak, ini kan foto sampean zaman nikahe aku se yo?” Suntin, anak keduanya terperanjat kala melihat sebuah foto besar bergambar bapaknya yang rapih berpigura kayu hitam. Dalam foto, Bapaknya saat itu terlihat sedang duduk dengan pose gagah. Kedua tangan Mbah Suhadi ditumpukan ke lutut kaki dengan posisi duduk yang ditegakkan. Mata Mbah Suhadi nampak teguh menatap ke arah kamera. Jas hitam dan setelan celana hitam yang dibelikan Suntin sebelum hari pernikahannya untuk sang bapak saat itu menambah kelengkapan kegagahan Mbah Suhadi.

“Lhe… iyo! Kok sampean masih nyimpen e, Mbah? Tapi… bukane foto iku gak wis mbulak ta? Kusem!” tanya istri Mbah Suhadi turut tak menyangka. Karena setahunya, tahun lalu ketika ia membersihkan lemari pakaian, foto itu tak berwujud bersih seperti yang dilihatnya sekarang.

“Iki ta maksudmu Mbah Ti? Hem… bandingno… Bedane jauh se?” Mbah Suhadi menunjukkan bentuk serupa dalam ukuran 4R yang merupakan foto aslinya kepada sang istri dan anak-anaknya.

Suntin yang masih belum mengalihkan kedua tangannya dari tepi pigura masih memandang lekat foto di dalamnya tak percaya. “Bapak apakno foto iki? Kok bisa jadi bagus, bersih, kayak baru ngene?” Suntin penasaran mencari jawaban.

“Wook… Bapakmu kok! Yo ngerti ae carane…!!! Canggih seh?” Mbah Suhadi mengangkatkan dagunya merasa pongah lebih pintar dari istri dan anak-anaknya.

“Mbok kiro nek Bapakmu cangkruk di warung kopi itu nggak bisa nambah ilmu ta?” Mbah Suhadi masih membanggakan foto gagah miliknya dan pengetahuan barunya tentang foto yang melebihi anak dan istrinya. Bahkan, keluarganya kini sedang terkagum-kagum. Dan tebakan Mbah Suhadi kala itu memang jitu. Semua orang yang melihat foto itu tampak antusias menunjukkan keterpesonaannya.

“Hem… iki Han, foto Mbahmu dulu zaman masih muda. Mbok… gagah se?” Mbah Suhadi mengarahkan foto berpigura dari tangan Suntin ke tangan Hani, cucunya dari anak nomor empat.

Hani menjawab dengan diam tersenyum simpul tertahan. Sedangkan di kepalanya, ada sesuatu yang berkilauan sengaja tak ingin ia katakan. Namun Hani bertekad, ia akan melaksanakannya kelak di kemudian hari nanti.

“Mbah Kung suka difoto!” Hani mengemas ide rencana di kepalanya.

***

Sejak hari kebanggaan Mah Suhadi akan foto dan pengetahuan fotografinya, Hani yang kuliah di semester empat dan sedang rajin menyerap ilmu fotografi dari unit kegiatan mahasiswa yang diikutinya di kampus, kerap mencuri momen secara diam-diam dalam setiap aktivitas mbahnya. Mbah Suhadi sedang melamun, Mbah Suhadi sedang bermain layangan dengan Buyung sepupunya, Mbah Suhadi sedang duduk merenung di kursi panjang yang berada di bawah pohon mangga, Mbah Suhadi sedang mengawali kayuhan bersepeda dengan sepeda jengki hitamnya, semuanya menjadi momen yang menarik di kepala, mata, dan tangan Hani. Sebuah kamera saku milik Hani yang kerap tak pernah jauh dari tangannya, selalu menjadi kawan setia Hani dalam menembak setiap waktu aktivitas Mbah Suhadi secara diam-diam. Hani memang sengaja tak mengomunikasikan hal itu kepada mbahnya. Ia ingin meraih pose-pose alami mbahnya senatural mungkin.

Namun di balik benak Hani, diam-diam, Mbah Suhadi justru mengetahui tentang apa yang sedang dilakukan oleh cucu pertamanya itu. Mbah Suhadi tahu betul, sebentuk benda yang berukuran seperti dompet tipis wanita berwarna abu-abu mengkilap yang sering dilihatnya melekat di tangan Hani adalah sebuah kamera. Itu karena Mbah Suhadi pernah mengamati Hani dan Buyung dari kejauhan yang sedang memfoto bunga di pekarangan. Ajaibnya, hasil jepretan itu bisa terlihat pada sebuah layar. Beda dengan jenis kamera yang dulu ia kenal dan tidak bisa menunjukkan seperti apa foto yang sudah diambil. Maka ketika Mbah Suhadi melihat ada sebentuk benda hitam mengkilat tersembul di balik tangan Hani, Mbah Suhadi pun selalu siap untuk bergaya tingkah, berharap ialah objek sesungguhnya dari jepretan diam-diam kamera cucunya.

Hari demi hari, Mbah Suhadi masih tahan untuk tidak bertanya tentang nasib foto-foto posenya hasil jepretan sang cucu. Ia segan bertanya, khawatir dugaannya meleset jika ternyata selama ini bisa jadi Hani tidaklah pernah diam-diam mengambil foto dirinya. Hani hanya mengambil objek di sekitarnya, bukan dirinya, itulah yang dikhawatirkan Mbah Suhadi. Namun ia memiliki secarik tekad, jika saja memang dugaannya yang terakhir justru yang jadi kenyataan, ia tidak akan segan meminta Hani untuk mencicipi difoto dengan kamera cucunya itu.

Tetapi aksi saling diam itu berakhir sebelum Mbah Suhadi menjalankan niatnya. Mbah Suhadi di suatu ketika dibuat terheran-heran saat Hani tiba-tiba mengajaknya pergi ke pameran yang sedang diadakan di alun-alun kota.

“Ayo ta Mbah… ke alun-alun lihat pameran. Mbah pasti seneng!” rengek Hani merayu sosok kakek yang kerap dipanggilnya dengan Mbah Kung.

“Tumben Han, awakmu ngajak Mbah? Ono opo seh?” Mbah Suhadi saat itu benar-benar tidak bisa menebak apa yang diinginkan cucunya.

“Pokoknya ikut aku ae ta Mbah. Ada kejutan buat Mbah!” Hani mengerdip-kerdipkan matanya.

Mbah Suhadi menatap dalam mata cucunya. Setelah lelah tak kunjung dijawab dan tak berhasil juga menebak apa yang disembunyikan sang cucu, Mbah Suhadi pun menyerah, “Yo, yo wis. Ayo ke alun-alun!”

Sebuah foto berukuran sangat besar menjadi jawaban untuk Mbah Suhadi. Foto itu jadi jawaban pemuas untuk semua aksi diam-diamnya saat berpose penuh harap, saat ulah Hani yang menurutnya diam-diam mengambil pose dirinya, serta untuk rasa penasarannya beberapa saat sebelumnya ketika Hani secara tiba-tiba mengajaknya ke Lamongan Expo.

“Yok opo Mbah, apik kan foto jepretanku?” Hani tersenyum sumringah merasa pasti jika Mbah Kungnya akan bangga dengan foto jepretannya. Apalagi foto itu memang jadi pusat perhatian banyak orang di pameran saat itu.

Dugaan Hani memang tak tergelincir dari pikirannya. Mbah Suhadi mengamati hasil jepretan sang cucu dengan senyum bibir tertarik-tarik ke samping. Kelopak mata bawah yang menyembung menjadi tanda binar hati Mbah Suhadi. Belum lagi ulah orang-orang di sekitarnya yang jadi bergantian mengalih tatap antara foto dan wajah Mbah Suhadi.

Foto yang lama dicermati oleh Mbah Suhadi dari jarak dekat itu membuatnya ingat, ada suatu ketika di mana ia sedang duduk separuh sila. Kaki kanan ia tekuk berdiri dengan kaki lain menjuntai ke bawah. Mbah Suhadi yang bersinglet dan bersarung kotak-kotak merah coklat itu terfoto dengan pose duduknya yang bersandar di sebuah kursi panjang, berada di bawah pohon mangga. Tangan Mbah Suhadi sendiri tampak sibuk menyentuh salah satu tombol putar radio usang yang sering dibawanya ke mana-mana. Keroncong atau langgam Jawa kala itu yang sedang dicarinya? Tak diingatnya dalam pikiran Mbah Suhadi ketika asyik menikmati foto dirinya sendiri yang berjarak hanya beberapa senti dari kepalanya yang merunduk maju.

Dalam foto, di samping pose duduknya itu, tersandar sepeda jengki hitam miliknya yang mulai terkikis karat. Hijau dedaunan daun pohon mangga yang menjuntai ke bawah, legam hijau daun besar pohon ketapang yang masih pendek di pinggir tambak penuh dengan eceng gondok, serta langit biru bergurat putih kapas, jadi latar yang tak begitu jelas terlihat namun adanya makin membuat menonjol sosok Mbah Suhadi, kursi, dan sepeda jengkinya.

“Iki dijual ta, Han?” celutuk Mbah Suhadi di akhir kekaguman kegagahan pose dirinya.

“Iyo Mbah. Ayo tebak, piro hargane?” Hani mengajukan tebakan taksiran harga.

Mbah Suhadi cuma menggelengkan kepala menjawab tidak tahu. Ia masih terbius pose dirinya sendiri yang nampak begitu wah terpotret dalam foto berpigura kayu hitam mengkilat.

“Dua belas juta, Mbah! Gede kan hargane?! Harga foto iki karena aku menang lomba Mbah. Aku cuma taruh ae di pameran sekarang.”

“He… dua belas juta?!” barulah Mbah Suhadi terhenyak terangkat dari alam kekaguman akan foto dirinya sendiri, beralih memelototi Hani. “Lha, mana bagiane Mbah nek gitu?”

“Tenang Mbah… Ntar Mbah minta apa, aku kasi la wis…” Hani menjanjikan sesuatu yang sebetulnya kalah indah di benak Mbah Suhadi sendiri.

Dalam pikiran Mbah Suhadi, ia menerka-nerka, jika foto yang diambil diam-diam saja bisa menghasilkan uang dua belas juta, pasti jika ia serius berfoto, uang lebih dari itu bisa mampu menilai foto-foto dirinya.

Mulai keesokan harinya, ada kesibukan baru buat Hani dari Mbah Kungnya. Jika Hani berkesempatan datang mengunjungi rumah mbahnya, pasti Mbah Suhadi akan menanyakan di mana keberadaan kamera milik Hani. Jika ia sudah melihatnya, maka Hani pun dituntut untuk menjadi fotografer dadakan khusus untuk mbahnya.

Tidak ingin hanya istilah repro yang telah lewat diketahuinya. Mbha Suhadi kini bisa sesumbar kepada Mbah Rohim sahabatnya tentang pengetahuan kamera digital yang tak akan habis filmnya untuk digunakan mengambil foto. Kecuali kapasitas baterai yang mengenal kata habis. Mbah Suhadi bahkan kini lebih tahu menilai, mana foto yang menurutnya sudah bagus pengambilannya dan mana yang belum.

“Ayo Han, awakmu pasti bisa se buat foto yang lebih bagus dari foto Mbah yang duduk di kursi di bawah pohon mangga dulu iku se? Mosok, foto sing mbok ambil diam-diam saja bisa dapat duit segitu, pasti nek awakku mbok atur, lebih bisa bagus lagi hasile!”

Usai sebuah jepretan sudah dilakukan Hani, pasti Mbah Suhadi akan langsung berkomentar mencoba melihat hasilnya melalui sekotak kecil layar LCD kamera. “Iki kayake aku kurang noleh ke kiri, Han. Iku kayake kok gelap Han, kurang terang cahayane.” Itu gaya Mbah Suhadi jika sedang tidak puas dengan hasil jepretan Hani.

Mbah Suhadi telah meneguhkan tekadnya, ia memilih belajar fotografi di masa senjanya.

Lamongan, 7 Juli 2009




Kalender

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 373,671 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan