Latest Entries »

Teman yang Menyenangkan

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Mutia, ke sini dong!” panggil Anis tiba-tiba dari arah depan pintu kelas ke arah Mutia.

Mutia yang sedang asyik bercanda dengan Diana dan Kiki, teman dari kelas sebelah, jadi merasa kesal. “Ah, selalu saja ia melarangku untuk bermain dengan teman-teman yang lain!” gerutu Mutia dalam hati.

Selama beberapa saat, Mutia tidak mau mendengar panggilan Anis. Ia masih saja asyik bercanda dengan kedua temannya tersebut. Namun sekali lagi, terdengar suara Anis yang memanggil Mutia untuk mengajaknya menghampiri Anis.

“Mutia, ke sini dulu dong!” pinta Anis namun kini lebih keras suara panggilannya.

Dengan terpaksa, akhirnya Mutia pun meminta maaf kepada Diana dan Kiki. Sambil berjalan malas, Mutia lalu mendekati Anis yang masih menunggunya di depan pintu kelas.

“Ada apa sih, Nis?” tanya Mutia kesal meski ia sudah tahu apa yang akan dijawab oleh sahabat dekatnya itu.

“Kamu itu di sini saja sama aku! Aku kan jadi sendirian jadinya dan tidak punya teman karena kamu malah bermain ke kelas sebelah,” keluh Anis seperti yang sudah Mutia duga sebelumnya.

“Heah!” Mutia menghela nafas tanda kesal. “Kamu, bisa nggak sih untuk tidak  melarang-larang aku berteman atau bermain dengan siapa saja?” tegur Mutia benar-benar kesal pada Anis.

“Ih, aku nggak mau tahu! Pokoknya kalau jam istirahat, kamu harus di sini saja dong temani aku!” sahut Anis tidak peduli.

Mutia kesal mendengar ucapan Anis. “Huh, egois sekali sih si Anis ini! Masa aku harus bermain dengan dia saja?” gerutu Mutia dalam hati.

Akhirnya karena kecewa dengan sikap Anis, Mutia melangkah memasuki kelas meninggalkan Anis yang masih terus berdiri di depan pintu kelas. Ia lalu duduk di bangkunya dan mencoba mau mendengar apapun yang Anis katakan. Hingga esok harinya, Mutia tetap mendiamkan Anis. Bahkan, ia memilih untuk pindah tempat duduk dan menjauhi Anis.

“Mutia, kamu masih kesal ya sama aku gara-gara kemarin? Aku minta maaf deh kalau begitu. Pindah tempat duduk dekat aku lagi ya?” pinta Anis pada Mutia yang masih belum mau mengajaknya bicara. Mendengar ucapan Anis, Mutia malah beranjak pergi meninggalkan Anis tanpa mengucapkan kata apapun.

Apa yang dilakukan oleh Mutia akhirnya sungguh membuat Anis sedih. Sampai-sampai keesokan harinya, Anis tidak masuk sekolah karena sakit akibat sedih memikirkan Mutia yang tak kunjung mau bicara dengannya. Saat tahu tentang itu, Mutia akhirnya jadi ikut sedih dan menyesal.

“Duh, aku sudah membuat Anis sakit gara-gara aku mendiamkannya. Ah, Anis memang sering menyebalkan sih karena telah melarang-larang aku bermain dengan siapa saja. Tapi, dia teman yang baik sebetulnya. Anis selalu perhatian dan mau mendengar cerita-ceritaku. Ia juga baik dan sering menolong aku. Huh, tapi kalau berteman dengan Anis melulu, aku jadi tidak punya teman banyak dong? Duh, bagaimana ini?” gumam Mutia dalam hati.

Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. “Ah, jika aku mengajak beberapa teman yang lain untuk menjenguk Anis, mungkin itu bisa cukup menghibur Anis dan mengobati sakitnya,” gumam Mutia dalam hati.

Akhirnya di sore harinya, Mutia mengajak Kiki, Diana, dan beberapa teman lainnya untuk menjenguk Anis di rumahnya. Anis yang saat itu masih sakit dan sedih karena memikirkan Mutia masih belum menyapanya, jadi terkejut dan merasa terhibur dengan kehadiran Mutia dan kawan-kawannya.

“Wah, terima kasih ya kalian semua mau menengokku. Huh, Mutia, aku pikir kamu benar-benar marah padaku! Tapi aku senang kok, kamu akhirnya mau datang ke sini,” ujar Anis yang awalnya menggerutu namun akhirnya merasa senang karena Mutia mau datang ke rumahnya untuk menjenguknya.

“Yah, pada awalnya aku memang benar-benar marah sama kamu, Nis. Habisnya, aku kesal karena kamu selalu melarang-larang aku untuk bermain dengan teman-teman yang lain. Padahal, temanku kan tidak hanya kamu saja,” terang Mutia dengan jujur.

“Tapi, aku kan jadinya sendirian kalau kamu tidak bermain dengan aku, Mutia?! Kalau tidak ada kamu, aku harus bermain dengan siapa dong?” sahut Anis sedih.

“Hahaha, kamu itu memang lucu, Nis! Kami-kami ini, juga mau kok jadi temanmu. Cuma terkadang, kamunya sih yang hanya mau berteman dengan Mutia saja. Kalau Mutia mengajak kamu untuk ikut berkumpul dengan kami, kamu tidak pernah mau ikut bermain dengan kami. Sampai terkadang, kami kesal juga lho karena kamu selalu memanggil Mutia kalau ia sedang berkumpul dengan kami. Jadinya, kami pun malas deh untuk mendekati dan berteman denganmu,” sahut Kiki.

“Tuh kan, setiap orang sebetulnya mau kok berteman dengan kamu, Nis! Buktinya sekarang, meski mereka tidak akrab dengan kamu, mereka mau kok ikut aku menjenguk kamu yang sedang sakit. Iya kan?” ujar Mutia.

Anis tersenyum menyadari kebenaran apa yang dikatakan oleh Mutia. “Iya ya, aku jadi malu nih!” ujar Anis tersipu.

“Jadi mulai besok, kamu harus ingat Nis, bahwa temanmu itu tidak hanya Mutia saja. Ada aku, Kiki, juga teman-teman yang lain yang mau berteman dengan kamu,” imbuh Diana.

Anis menganggukkan kepalanya. Sejak itu Anis sadar, bahwa teman yang menyenangkan ternyata tidak hanya Mutia saja. Sedangkan Mutia sendiri berjanji dalam hati untuk membantu Anis agar bisa mengenal banyak teman.

*Pernah dimuat di Majalah GIRLS nomor 3/th.VII yang terbit 14 September 2011

Berteman Lagi

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Eh, ada Dista tuh!” seru Rani pada Amel.

“Ah, aku sedang malas mengobrol dengan dia!” sahut Amel.

“Sama!” jawab Rani.

“Kita pergi saja, yuk!” ajak Amel.

Rani mengganggukkan kepala. Sebelum Dista sampai di tempat Amel dan Rani berdiri, kedua anak itu pun sudah beranjak pergi menuju tempat lain.

“Aneh, kenapa ya mereka sepertinya menjauhiku?” batin Dista keheranan.

Sementara itu, Rani dan Amel kembali membicarakan Dista di tempat lain.

“Aku kurang suka dengan Dista yang sekarang! Soalnya jika sedang bersama kita, pasti yang ia bicarakan hanyalah tentang dirinya melulu!” keluh Amel.

“Iya! Mentang-mentang ia baru menang kontes menyanyi, sekarang sepertinya cuma dia saja selalu yang punya cerita! Kita enggak pernah lagi punya kesempatan untuk berbagi cerita,” imbuh Rani.

“Aku pernah waktu itu cerita tentang kakekku yang sedang sakit. Uh, rasanya sedih sekali! Eh, bukannya perhatian, Dista malah punya cerita tandingan sendiri tentang kakeknya. Dia bilang, kalau dia sih bersyukur kakeknya masih hidup. Terus dia malah cerita tentang kakeknya yang paling hobi mendukung dia saat ikut lomba ke mana-mana,” gerutu Amel.

“Iya, aku juga kesal dengan Dista. Kemarin aku cerita kalau aku ingin ikut lomba menyanyi antar kelas di sekolah. Maksudku sih ingin minta dukungan dari dia atau minta tips-tipsnya begitu. Eh, dia dengan sombongnya lalu bilang kalau ia sedih karena sekarang tidak bisa ikut lomba seperti itu lagi. Karena pastinya, semua peserta akan kalah dan dia akan jadi pemenangnya!” Rani mengeluh tak kalah kesalnya.

“Huh, memangnya cuma dia saja yang mau didengarkan ceritanya?” sungut Amel.

“Iya, dia selalu punya cerita sendiri kalau kita sedang bercerita ke dia. Sepertinya cerita dia saja yang harus didengar!” imbuh Rani.

Akhirnya sudah seminggu ini Amel, Rani, dan Dista tidak lagi jalan bersama. Amel dan Rani selalu memilih untuk menghindari Dista. Karena Dista sadar ada yang tidak beres dengan dua sahabatnya, suatu ketika Dista berencana untuk mencegat Amel dan Rani saat pulang dari sekolah.

“Dista tuh!” bisik Amel lirih.

“Ah, kali ini kita di sini saja. Sudah waktunya Dista tahu jika kita tidak suka dengan sikapnya selama ini,” jawab Rani yang lalu merasa sudah saatnya Dista tahu apa masalah yang sebenarnya.

“Rani, Amel! Heah, untung kali ini kalian tidak menjauhi aku lagi. Sebetulnya, kalian ini kenapa sih? Kok akhir-akhir ini sepertinya sedang menjauhi aku, ya?” tanya Dista dengan sikap tidak terima.

Sesaat Rani dan Amel hanya diam dan saling pandang untuk sesaat.

“Uhm, sebetulnya kamu merasa enggak kalau kita sedang mendiamkanmu karena ulahmu sendiri?” tanya Rani pada akhirnya.

“Oh, jadi aku punya salah ya pada kalian? Ada masalah apa?” tanya Dista bingung.

Sesaat Amel menghela nafas.

“Begini Dis, kami itu sebetulnya sedang kesal dengan kamu gara-gara kamu selalu saja hanya mau menceritakan dirimu sendiri,” terang Rani.

“Iya! Dan bahkan, ketika kita cerita tentang masalah kita, kamu tidak mau mendengar dan malah menceritakan dirimu sendiri,” imbuh Amel.

Dista diam sejenak dan lalu berucap, “Jadi itu salahku?”

Amel dan Rani mengangguk.

Dista mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Ya, Amel dan Rani memang benar! Ia ingat, saat Amel dan Rani bercerita tentang masalahnya, ia justru malah menceritakan dirinya sendiri dan tidak mau mendengar cerita-cerita Amel dan Rani. Kini Dista jadi tahu apa yang sedang dipermasalahkan oleh Rani dan Amel tentang dirinya.

“Yah, kami minta maaf lho Dis kalau mungkin perkataan kami ini menyinggung perasaan kamu,” ujar Rani karena merasa tak enak melihat Dista yang justru langsung diam dan tidak berbicara apa-apa setelah Rani dan Amel memprotes tentang sikapnya.

Dista menggelengkan kepala lalu tersenyum. “Ah, enggak kok! Aku tahu, kalian ingin aku menjadi sahabat yang baik. Tapi kalau kalian tetap mendiamkan aku, aku kan jadi tidak tahu di mana salahku.”

“Kamu tidak tersinggung dengan ucapan kami tadi?” Amel jadi merasa khawatir dengan perasaan Dista.

“Yah, orang kan memang harus siap dikritik jika salah. Aku sadar, aku memang sudah salah karena telah egois. Aku kemarin hanya mau bercerita tentang diriku sendiri saja dan kurang mau mendengarkan cerita-cerita kalian. Kalau aku jadi kalian, tentu aku juga tidak mau punya teman seperti itu,” ujar Dista.

Amel dan Rani lalu menggenggam tangan Dista. “Jadi, sekarang kita berteman lagi yah!”

“Iya dong!” sambut Dista dan lalu ketiga sahabat itu pun tertawa dengan riang.

(Cerpen ini pernah dimuat di majalah Girls No.26/Th.VI, terbit 3 Agustus 2011)

Si Tukang Contek


Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Pagi, Ning!” sapa Nayla.

“Hai,” jawab Alina sambil tetap asyik membaca buku.

“Aduh, serius sekali! Kamu kan anak pintar. Semester kemarin saja juara umum di kelas lima. Masa mau ulangan Mathematic masih belajar dulu di sekolah? Pelajaran Mathematic kan mudah!” ledek Nayla yang duduk di sebelah Alina.

“Ya, enggak mungkin dong aku dapat nilai bagus tapi tidak belajar dulu?” jawab Alina tersenyum.

“Hm, kalau begitu nanti aku dikasih contekan, yah!”

“Hehehe, maaf Yu! Kamu tahu kan aku tidak bisa. Apalagi ini pelajarannya Bu Desy. Bisa langsung dapat nol nanti jika kita ketahuan!” tolak Alina.

Nayla langsung mencibir. “Huh, pelit!” seru Nayla kesal.

“Yu, aku minta maaf! Kalau pas ulangan, aku tidak berani. Tapi kalau ada PR, kamu kan selalu kuberi contekannya?”

“Iya! ” jawab Nayla dengan nada kesal.

Alina kembali menekuni bukunya. Diam-diam, Alina lalu melirik Nayla. Ia khawatir, jika Nayla masih marah. Tapi, Alina justru kebingungan. Ia melihat Nayla sedang menulis di atas meja dengan tulisan yang sangat kecil.

“Apa itu?” tanya Alina penasaran.

“Sudah, kamu belajar saja. Enggak usah sok ingin tahu!” suara Nayla terdengar ketus.

Alina jadi tidak enak hati. Tapi Alina mulai mengerti apa yang sedang dilakukan  sahabatnya itu.

“Kamu membuat contekan di atas meja, ya?” tebak Alina.

“Aduh, cerewet banget!” bentak Nayla.

“Tapi kalau ketahuan bagaimana?” Alina mengingatkan Nayla.

“Kalau kamu enggak bilang, Bu Desy juga enggak akan tahu. Lagi pula, kamu saja enggak mau menolong aku!” omel Nayla.

Akhirnya karena Nayla sulit diberitahu, Alina pun menyerah. Tapi tetap saja, Alina takut jika nanti Bu Desy tahu apa yang dilakukan Nayla.

Saat ulangan, perasaan Alina terus merasa khawatir. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan baik saat menjawab soal. Sementara Nayla, justru terlihat asyik dan santai. Nayla tinggal mencari jawaban pada tulisan kecilnya yang sudah dibuatnya.

Saat waktu ulangan hampir separuh waktu, Bu Desy berjalan berkeliling ke meja para murid. Melihat itu, pikiran Alina makin panik. Sesekali ia melirik ke arah Nayla dan juga Bu Desy. Saat langkah Bu Desy makin mendekati mejanya dan meja Nayla, Alina makin tidak tenang. Tubuhnya berkeringat deras. Karena ketakutan, Alina jadi kesulitan menjawab soal yang ada. Apalagi Bu Desy kemudian berdiri lama di sebelah meja Nayla yang berada di tengah-tengah kelas.

Namun tiba-tiba…

“Apa ini?” Bu Desy mengamati meja Nayla.

Karena tulisan Nayla terlalu kecil, Bu Desy lalu mendekatkan wajahnya ke arah meja untuk melihat lebih dekat.

“Kamu membuat contekan di sini, ya?”

Nayla ketakutan dan tidak berani bicara.

“Baik, sekarang Ibu anggap kamu tidak ikut ulangan kali ini!” Bu Desy lalu mengambil kertas ulangan yang belum selesai dijawab oleh Nayla.

Detak jantung Alina berdegup kencang. Sisa waktu ulangan yang ada pun tidak bisa dimanfaatkan Alina dengan baik.

**

            “Ning, kamu dipanggil Bu Desy ke ruang guru sekarang!” ujar Prita, teman sekelas Alina.

“Ada apa?” tanya Alina.

“Wah, aku kurang tahu.”

Alina lalu teringat dengan ulangan Mathematic beberapa hari yang lalu. “Aduh, kalau nanti aku ditanya-tanya Bu Desy, aku jawab apa?”

Saat sudah bertemu Bu Desy, Alina memang mendapat beberapa pertanyaan. Bu Desy bertanya ke Alina tentang sikap Nayla selama ini.

“Nayla itu memang sering mencontek tugas-tugas rumahmu ya? Ibu curiga karena nilai-nilai tugasnya selalu bagus, tapi nilai ulangannya sering jelek,” ujar Bu Desy.

“I-iya, Bu. Saya minta maaf,” Alina akhirnya mengaku.

“Kamu kan sudah susah payah mengerjakannya. Kenapa kamu berikan begitu saja? Ibu tidak suka dengan sikapmu itu. Lalu, nilai ulanganmu kemarin hanya mendapat nilai 65! Padahal sebelumnya kamu mendapat nilai 90 bahkan 95. Kok bisa menurun?”

“Saya kemarin ketakutan, Bu. Nayla sebetulnya sudah saya ingatkan sejak sebelum ulangan. Tapi dia tidak peduli. Akhirnya selama ulangan, saya jadi khawatir. Apalagi sewaktu Ibu mengambil kertas ulangan Nayla. Saya jadi gugup dan tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik,” jawab Alina.

“Ning, Ibu tahu kamu anak yang pintar. Tapi, kamu juga mesti tegas kalau ada temanmu yang meminta jawaban tugas atau ulangan. Walaupun dia teman dekat kamu, kamu tidak bisa bersikap seperti itu. Itu sama saja merugikan dirimu sendiri,” nasehat Bu Desy.

“Iya Bu, saya minta maaf,” ujar Alina.

“Kalau itu adalah tugas rumah, kamu boleh mengajari mereka. Tapi tetap tidak boleh memberi tahu jawabannya begitu saja!” tegur Bu Desy.

“Tapi Bu, saya takut mereka membenci saya.”

“Teman yang baik itu justru akan senang kalau kamu mengajarinya. Dan kalau kamu memberikan jawaban begitu saja ke temanmu, berarti kamu juga merugikan temanmu itu. Apa kamu mau punya teman yang tidak bisa pintar karena terus menerus menerima jawaban dengan mudah dari orang lain?” terang Bu Desy.

Alina menggeleng. Setelah dari ruangan Bu Desy, Alina mencoba memahami kata-kata Bu Desy. Dalam pikirannya, Alina memang khawatir jika Nayla kemudian menjauhinya. Tapi saat ia kembali ingat kata-kata Bu Desy, Alina merasa sudah saatnya ia menjadi teman baik  sesungguhnya untuk Nayla.

Cerita Di Taman Dian


Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Selamat pagi teman-teman!” sapa matahari yang baru keluar dari langit bagian timur.

Sekuntum Mawar yang sudah mekar semalam lalu menggeliat. Akibatnya, embun yang sedang bergelantung di kelopaknya jatuh mengenai sehelai rumput yang ada di bawahnya. Helai rumput menjadi jadi menggigil.

“Hi… dingin! Benar sudah pagi ya? Hoam…” seru rumput yang masih mengantuk namun jadi terbangun karena embun kini sedang menggelinding di atas tubuhnya.

“Hai, pagi juga, matahari. Terima kasih ya karena engkau masih dikirim oleh Tuhan untuk menyinari bumi setiap hari,” jawab kuntum Mawar berwarna merah yang semalam baru saja merekah.

Tubuh Mawar lalu sedikit berguncang karena terkena angin. Aroma wangi langsung beredar ke segala penjuru taman.

“Hm, wanginya… Engkau cantik sekali pagi ini, wahai Mawar!” puji Adenium berwarna putih dengan tepian kelopaknya yang berwarna merah.

“Terima kasih. Dan, kita juga perlu berterima kasih terhadap Dian lho, teman-teman,” ujar Mawar.

Bunga Adenium dalam pot yang bertubuh cantik karena selalu dirawat oleh Dian, tumbuhan Melati yang batangnya menjalar teratur di pagar, dan rerimbunan Bougenville berwana ungu yang tertata rapih, semuanya lalu mengangguk serempak.

“Ya, tak dapat kubayangkan bagaimana nasib kita jika tidak ada Dian. Mungkin, aku akan tumbuh liar ke mana-mana sehingga tidak sedap dipandang oleh siapapun. Meskipun, sesungguhnya aku memiliki kuntum yang semerbak mewangi, apa gunanya jika tumbuh liar?” ujar Melati.

Semua tumbuhan yang ada di taman rumah itu memang sangat bersyukur sejak Dian pindah dan menetap di rumah tersebut. Sebelumnya, rumah itu telah lama kosong tak berpenghuni. Akibatnya, tanaman yang hidup di taman rumah itu tumbuh liar, saling tindih, dan tumbuh tak beraturan.

“Ya, Dian juga gadis yang sangat berbeda dengan Vani, anak yang dulu pernah tinggal di rumah ini. Kalian ingat tidak, ia suka sekali menanam kita di taman ini. Tapi setelah itu, ia jarang memerhatikan kita,” ujar Bougenville.

Semua tumbuhan mengangguk membenarkan. Dian memang rajin merawat tanaman di taman rumahnya. Setiap pagi dan sore, ia tak lupa menyiram tanaman. Sesekali, ia juga akan memberi pupuk dan menata bentuk tanaman yang tumbuh kurang teratur.

“Oh ya, satu lagi, aku juga paling suka jika Dian bernyanyi dan sambil mengajak kita bercerita. Menyebutku si anggun, memanggil Mawar si cantik, menjuluki Bougenville dengan si manis, dan membaui melati sambil menyebut si wangi,” celutuk Adenium sambil tersenyum berseri-seri.

“Ya. Aku selalu suka mendengar cerita-cerita Dian. Ia hampir tak pernah menjelek-jelekkan teman-temannya. Rasanya, Dian itu anak yang baik dan banyak disuka oleh teman-temannya. Pasti ia ramah terhadap teman-temannya, seperti ia juga selalu ramah terhadap kita,” imbuh Bougenville.

“Itu benar. Kita memang sering sekali mendengar Dian memuji kita. Tak heran, kita pun jadi senang bermekaran di taman ini,” sahut Melati.

“Ya, ya… kalian memang bunga-bunga yang indah. Pantas, banyak kupu-kupu yang suka bermain di taman ini dari pada ke taman yang lainnya. Aku lihat, banyak di sekitar sini yang rumahnya jarang memiliki taman yang terawat. Apalagi kalau melihat rumah yang gersang tak bertanaman. Huh, aku jadi sedih. Udara juga pernah bercerita padaku lho, jika ia sangat suka mampir di taman yang teduh ini untuk menjemput para oksigen,” tutur matahari.

Jadi, apa nih hadiah kita buat Dian? Buat seorang gadis yang baik hati dan selalu merawat kita semua?” tanya Adenium.

“Tentu saja, apalagi kalau bukan bunga-bunga kita yang indah saat bermekaran? Bukan begitu teman-teman?” jawab Mawar.

“Pst… eh, itu Dian datang dan sedang menuju ke arah kita. Ayo teman-teman, kita berikan penampilan yang seindah mungkin untuk Dian,” seru Melati.

Saat menapaki batu-batu di taman yang tertata dengan teratur, Dian tampak terpukau melihat bunga-bunga di tamannya yang sedang cantik bermekaran. Warnanya telihat cerah karena terkena sinar matahari pagi. Ditambah lagi adanya embun pagi yang masih belum mengering, membuat taman rumah Dian menjadi tampak berkilauan.

“Wah, indahnya…” seru Dian terkesima.

“Lihat kebunku, penuh dengan bunga. Ada yang putih, dan ada yang merah. Setiap pagi, kusiram semua. Mawar, Melati, semuanya indah!” senandung Dian sambil menyentuh ringan kelopak Mawar dan Melati.

“Hai Adenium! Pagi Bougenvile! Apa kabar matahari? Selamat pagi semua penghuni tamanku!” sapa Dian dengan riang.

Rahasia Kata-kata Ajaib

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Suatu ketika, seorang Raja hendak menguji kedua puteranya, Pangeran Dira dan Pangeran Wira. Raja ingin tahu, siapa di antara kedua pangeran itu yang pantas menjadi raja karena memiliki kata-kata ajaib. Konon, seseorang yang memiliki kata-kata ajaib, bisa berhasil melaksanakan tugas apapun yang meskipun berat.

“Tradisi memilih calon raja yang memiliki kemampuan untuk mengucap kata-kata ajaib ini sudah menjadi tradisi. Begitu juga saat aku dulu terpilih untuk menjadi raja. Jadi sekarang, aku juga harus memilih satu di antara kedua puteraku tersebut dengan cara yang sama,” cetus Raja saat sedang menimbang-nimbang apa yang akan ia tugaskan untuk kedua puteranya.

“Aku ingin kalian meminjam batu sakti milik seekor naga yang tinggal di atas sana,” ujar Raja sambil menunjuk sebuah bukit tinggi yang terlihat dari istana.

Pangeran Wira langsung tersenyum. “Baiklah Ayah, kami akan melakukannya!” jawab Pangeran Wira optimis lalu menoleh ke arah kakaknya.

Wajah Pangeran Dira justru berubah pucat. “Ah, mana mungkin naga itu mau meminjamkan batu saktinya?” batin Pangeran Dira.

Pangeran Dira teringat berbagai cerita tentang naga tersebut. Konon, tubuh naga itu dikelilingi api yang menyala. Matanya selalu tampak marah dan siap menerkam siapa saja yang mendekat.

Tapi tetap saja, akhirnya Pangeran Dira dan Pangeran Wira berangkat melaksanakan tugas tersebut.

“Nanti, apa yang akan engkau lakukan untuk merebut batu itu? Selama ini, tak pernah ada orang yang berani ke sana,” kata Pangeran Dira.

“Tapi, bukankan cerita itu cuma kita dengar dari orang lain?” jawab Pangeran Wira.

“Aku yakin orang-orang itu benar. Kita pasti pulang tanpa membawa apa-apa!” gerutu Pangeran Dira.

Pangeran Wira cuma tersenyum. “Kita coba saja dulu!”

Sementara itu, Pangeran Dira rupanya sudah membuat rencana sendiri. Ia yakin jika tidak akan berhasil. Sehingga nantinya, Pangeran Dira akan membawa pulang sebuah batu biasa yang terlihat istimewa. “Pasti ayahku tidak akan tahu!” batin Pangeran Dira sambil tersenyum licik.

Perjalanan Pangeran Dira dan Pangeran Wira akhirnya sampai di tempat tujuan. Kedua pangeran itu lalu mengintip dari celah-celah pagar batu. Di seberang mereka, berdirilah seekor naga yang sangat menyeramkan!

“Ayo kita coba mendekatinya,” ajak Pangeran Wira.

“Apa kamu tidak takut celaka? Sudah, kita pulang saja!” cegah Pangeran Dira.

Karena merasa terganggu dengan suara Pangeran Dira dan Pangeran Wira yang sedang berdebat, naga menghardik. “Hai, siapa yang ada di balik batu?”

Pangeran Wira langsung berdiri. Sedangkan Pangeran Dira tetap berjongkok bersembunyi di balik batu.

“Maafkan kami jika mengganggumu. Tapi, kami tidak ingin bermaksud jahat,” ujar Pangeran Wira.

Naga lalu mendekati Pangeran Wira.

“Ampun… ampun… kami hanya ingin melihatmu saja. Maafkan aku ya,” teriak Pangeran Dira yang lalu berdiri dan melarikan diri.

Melihat itu, naga justru tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… Apa ia kira aku akan mencelakainya?”

“Maafkan kakakku, wahai naga. Tapi, ia ketakutan karena sering mendengar cerita orang tentang dirimu yang katanya jahat,” jawab Pangeran Wira.

“Tapi kenapa kamu tidak takut?”

“Karena selama ini aku hanya mendengar cerita, jadi aku tidak percaya. Lagi pula, aku ke sini atas perintah ayahku. Ia ingin agar aku dan kakakku meminjam batu sakti milikmu,” jelas Pangeran Wira.

Naga lalu mengajak Pangeran Wira mendekati batu sakti. Ternyata, batu milik naga itu sangat besar bentuknya. Warnanya juga sangat indah dan berkilauan.

“Sekarang, coba kamu angkat batu itu!” ujar naga. Ia sebenarnya ingin menguji, apakah Pangeran Wira benar-benar bisa membawa batu besar tersebut.

Sesaat, Pangeran Wira berdiri di depan batu itu sambil berkata dengan suara pelan, “Batu ini ringan, aku bisa membawanya!”

Ternyata, batu itu jadi mudah diangkat oleh Pangeran Wira.

“Hahaha… kamu hebat! Batu itu memang besar. Tapi ia memiliki berat yang sesuai dengan pikiran orang yang membawanya. Makanya, tidak ada yang berhasil membawa batu itu. Semua orang selalu berpikir, jika batu ini pasti berat. Ternyata kamu pemilik kata-kata ajaib!” ujar naga.

Naga kemudian meminjamkan batu itu ke Pangeran Wira. Raja yang telah melihat kegigihan dan keberhasilan Pangeran Wira, akhirnya menetapkan Pangeran Wira sebagai raja untuk menggantikannya kelak.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.