06
Feb
10

Bermain dengan Kupu-kupu

foto bersama dengan kupu-kupu

Dari sekian kegiatan-kegiatan menyenangkan yang saya lakukan dengan anak-anak saya di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun, kegiatan mengeksplorasi alam di lahan samping merupakan yang paling saya suka.

Sebetulnya lahan yang ada di samping TPA tersebut tidaklah bisa dibilang lahan yang sangat-sangat aman untuk anak-anak saya. Rerumputan tumbuh liar dan hampir selutut dari anak-anak saya. Tentu saja untuk ukuran lutut batita. Namun, justru di situlah saya dan anak-anak bisa mengeksplorasi berbagai kehidupan alam di sana.

Jika beberapa waktu lalu saya bercerita tentang kegiatan saya dan anak-anak mengskplorasi ulat di buah belimbing yang membusuk, kali ini saya ingin bercerita tentang kupu-kupu. Meski hewan tersebut sangat cantik dan manis, namun ternyata tidak semua anak-anak saya berani menyentuhnya, lho!

Kebetulan di hari kemarin, begitu banyak kupu-kupu yang berlalu lalang di lahan kosong tersebut. Bahkan, saya bisa menemukan dengan mudah beberapa kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

Mengamati kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

menyiapkan kupu-kupu hasil tangkapan untuk diamati bersama anak-anak

Walhasil, kegiranganlah saya menemukan bahan yang mengasyikkan untuk dibahas dan dimainkan bersama anak-anak saya. Mulai dari mengamati kupu-kupu yang terbang bebas, mengendap-endap bersama mereka memetik daun berkepompong dengan kupu-kupu yang bergelantungan dan belum bisa terbang karena baru saja terlepas dari selaput kepompongnya, menceritakan kepada mereka tentang proses kehidupan kupu-kupu, melepaskan kepergian kupu-kupu yang telah beberapa saat keluar dari kepompong untuk bisa terbang di alam bebas, hingga tentu saja acara… berfoto bersama!

Acara berfoto bersama dengan objek yang rata-rata ditakuti oleh anak-anak memang kerap sengaja saya lakukan bersama mereka sebagai jurus andalan saya untuk membujuk mereka memiliki mental pemberani. Jika dulu berfoto dengan ulat, maka sesi foto kali ini lebih terasa indah karena berfoto dengan para kupu-kupu yang cantik.

Ehem, meski begitu, ternyata masih banyak juga lho anak-anak saya yang penakut dengan kupu-kupu! Tapi demi melihat beberapa dari mereka yang hari demi hari makin pemberani dan bahkan menahan rasa takut demi bisa difoto, saya jadi makin salut dan optimis. Saya yakin, kegiatan-kegiatan seperti ini akan makin menambah anak-anak bermental kuat yang berani untuk mengeksplorasi rahasia dunia!

Mazaya dan kupu-kupu

Naka dan kupu-kupu

Tiara yang saya kenal di awal saya masuk di TPA adalah anak yang introvert. Kini, ia telah berubah menjadi gadis cilik yang pemberani, yang selalu bangga apabila saya menunjukkan ekspresi bangga terhadap keberanian yang baru saja ia lakukan.

29
Jan
10

Bocah-bocah Penjaja Bakso

Seorang bocah pria menapaki langkah kakinya dengan memanggul pikulan dagangan bakso Malang. Khas dengan pangsitnya. Dapat tetap tersaji hangat karena tungku berarang selalu menyala di salah satu pikulannya.

Seorang yang lain melenggangkan kaki pertamanya dengan mendorong gerobak bakso. Ada mi dan segala pelengkap bakso lainnya. Ia mendorong dengan mantap.

Lagi, di tempat yang terpisah, seorang bocah tanggung memijak pedal sepeda kumbangnya sebagai langkah pertama menjajakan bakso cimol. Berat sedikit terasa. Karena dua benda bundar yang dinaikinya meringankan bulatan-bulatan bakso yang setia tertata berada di belakang tubuhnya.

Mereka berangkat dari tempat yang terpisah. Berjalan pada jalan yang berbeda. Namun kompak mengusung tema makanan yang sama mereka tawarkan, bakso! Meski berwujud beda.

Dan pada sebuah pos kamling, di sebuah perumahan, selalu, mereka bertemu untuk bersatu. Ada sebuah bola yang selalu menunggu. Ada sekelompok anak-anak perumahan yang selalu menanti untuk bertemu. Bila pertemuan itu berlangsung, mulailah kehidupan mereka yang sesungguhnya harus mereka kenyam teramu.

Mereka sejenak akan meletakkan panggulannya, mengistirahatkan roda gerobak baksonya, menyandarkan sepeda yang berisi bakso-bakso yang masih hangat. Bola-bola bakso itu lantas rela menunggu. Sementara sang pembawanya melupa sejenak untuk bermain dengan bola berkulit yang menggelinding di tanah tak rata.

Dalam lupa, mereka pun akan kembali ingat. Ketika teman-teman mereka bermain lantas lapar dan butuh pengganjal perut, maka kembalilah mereka ke kehidupan masing-masing. Menata dan menuang kuah panas dalam mangkok, menusuk-nusuk bulatan bakso dan mengucurinya dengan saos, atau kembali mengipasi arang tungku yang sejenak tak lagi membara di pikulan.

Tak sedikit mata yang menatap, sadar dan ikut mengiba, namun tak bisa berbuat banyak. Dan ketika langkah-langkah mereka sepakat untuk berpisah, mata-mata itu pun hanya bisa membuat si pemiliknya menghela nafas.

Demi melihat seorang bocah yang seharusnya masih bersekolah SMP, berwajah imut tak kalah dengan artis sinetron abg, berpakaian bersih dan rapih, namun sering terlihat kewalahan memikul kayu pikulan bakso yang tidak bisa dibilang ringan untuk tubuhnya yang kerempeng.

Demi melihat seorang anak belum menginjak remaja, mendorong gerobak yang biasa dibawa oleh usia bapak-bapak, namun dituntut mantap membuat rodanya terus berputar mengelilingi perumahan.

Demi melihat seorang anak laki-laki, mengayuh sepeda berisi bulatan-bulatan bakso. Tetap menyungging senyum kala berkeliling. Ia terus berwajah optimis dagangannya habis!

Mata-mata itu adalah milikku, milik tetangga-tetanggaku, yang hanya bisa terpaku diam dalam renung masing-masing otak beku. Selalu was-was demi melihat tubuh dan bawaan mereka yang tak seimbang terhuyung. Hingga kerap menyelip doa agar dagangan mereka laku. Dan kemudian mencoba untuk melupakan apa yang telah terlihat oleh mata kelu. Karena tak tega selalu!

Tulisan di atas saya buat di sebuah malam. Saat merenung teringat beberapa sore saya melihat seorang bocah penjaja bakso malang yang kerap lewat di depan rumah mbah saya. Ia masih bisa dibilang anak. Dan mungkin sepadan dengan sepupu saya yang masih duduk di kelas 1 SMP.

Anaknya berwajah bagus. Selalu berkeliling dengan pakaian rapih berkemeja kotak-kotak dan celana jins yang tak lusuh. Karena itulah saya menjulukinya dengan penampilan yang tak kalah dari artis abg di televisi.

Namun demi melihat apa yang dipanggulnya, semua orang yang melihat pasti tak tega. Mungkin diam seakan tak peduli tapi menahan iba dalam hati. Atau mungkin seperti bulek saya yang terus selalu mengujar kata kasihan demi mengingat anaknya yang seumuran dengan anak penjaja bakso tersebut.

Tubuhnya kecilnya kerap terlihat berjalan terseok. Kadang terhuyung. Dan tak jarang pikulannya pun seperti hampir nampak berantakan akan terajatuh karena kurang seimbangnya tubuh yang memanggul.

Hingga di suatu sore, kembali, lewatlah anak belia tersebut. Saat itu ada saya, dua sepupu saya, dan bulek saya. Sepupu saya bercerita, jika anak yang sebaya dengannya itu pernah ia ajak bermain bola.

Sontak, marahlah bulek saya. Ia kesal, seorang anak yang sedang sibuk berjualan kok malah diajak bermain bola. Namun sepupu saya yang lain justru berujar, jika di dekat tempat rumahnya, kejadian seperti yang saya tuliskan di atas itulah yang terjadi.

Karena mereka memang masih belia. Masih pantas memiliki waktu sore sebagai pelepas penat dengan bermain. Meski itu mereka lakukan di sela-sela perjalanan menjual bakso. Dan akan kembali berjalan usai permainan bola dengan anak-anak di perumahan mereka lakukan.

Sedih berlarut akan nasib diri sendiri itu egois. Karena seharusnya sedih itu cukup dirasa tapi tidak untuk menguasai hati. Karena sesungguhnya ada empati yang perlu mengisi ruang hati lain tentang nasib orang-orang yang kurang beruntung. Dan jika itu ada, barulah pantas kita bersedih. Karena kemudian kita akan jadi bersyukur. Atau mencoba bangkit membantu yang lain untuk bahagia. Dan dengan begitulah kita pun akan bahagia.” suatu pikiran yang terlintas dalam benakku ketika melihat realita dari cerita yang telah ku buat di atas.

26
Des
09

Jika Anak Harus ke Taman Penitipan Anak

Anak-anak di TPA Qurrata A'yun Lamongan usai menggambar

Anak-anak di TPA Qurrata A'yun Lamongan usai menggambar

Anak Dipantau Perkembangannya

Ketika orangtua harus bekerja, sedangkan anak masih dalam kondisi yang belum bisa mandiri, pertanyaannya pasti mengarah kepada, “Lantas, si kecil harus dengan siapa?”

Sementara itu, kesibukan orangtua untuk tetap harus memenuhi nafkah atau mengejar karir saat-saat ini begitu sulit untuk dikalahkan. Namun tentu saja, orangtua manapun tetap tidak ingin membiarkan si kecil begitu saja melewati masa-masa golden age-nya.

Pilihannya tentu saja tidak lain menitipkan si kecil pada pihak yang bisa menjaganya. Saat ini, masih banyak orangtua yang memercayakan anak-anaknya untuk dititipkan pada kerabat atau orang yang bisa dipercaya untuk mengasuh putra putrinya selama orangtua bekerja.

Sayangnya, sebetulnya tidak semua orang bahkan keluarga sendiri sekalipun menjadi tempat yang tepat untuk menitipkan si kecil. Karena sesungguhnya, anak tidak hanya perlu menghabiskan waktunya untuk bermain saja. Mereka pun perlu untuk melewatkan waktunya dengan kegiatan yang mampu mengasah kemampuannya. Belum lagi pengetahuan tentang psikologi anak yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.

Hingga kini, muncullah tren untuk menitipkan anak pada taman penitipan anak atau TPA. Di sana anak tidak hanya sekedar dititipkan saja. Melainkan, mereka juga diarahkan untuk mengisi waktunya dengan bermain yang edukatif.

Beberapa TPA pun kini makin melengkapi dirinya dengan agenda kegiatan demi kegiatan untuk anak yang berpatokan pada menu generik yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan. Dalam menu generik tersebut, anak per usianya memiliki target penguasaan kemampuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk aktivitas anak sehari-hari di TPA.

Selain pantauan perkembangan fisik dan penguasaan kemampuan akan beberapa hal, TPA juga memantau kesehatan anak. Bahkan jika anak dititipkan di TPA yang memberikan fasilitas makan pada anak, anak pun dapat terpenuhi kebutuhan gizinya secara ketat dan tepat.

Anak-anak juga akan belajar arti tanggung jawab dan hidup bersosial atau berbagi dengan teman-temannya. Di TPA tentu saja, semua adalah milik bersama. Permainan, fasilitas, semua membutuhkan istilah berbagi atau bergantian. Kecuali hal-hal yang dibawakan setiap orangtua untuk anak-anaknya.

Karena milik bersama, segala fasilitas pun harus digunakan dengan cara yang bertanggung jawab. Meskipun itu adalah anak kecil, mereka sebetulnya bisa lho untuk mulai ditanamkan arti kepemilikan bersama berikut kegiatan untuk menjaga bersama. Padahal, anak kecil memiliki masa-masa keakuan yang cukup tinggi. Namun ketika mereka sudah dibiasakan untuk berbagi, yakin deh, hal itu akan berpengaruh besar pada hidupnya kelak!

Selanjutnya adalah jiwa mandiri. Di TPA tempat saya, anak usia 6 bulan saja sudah ada yang bisa memegang dotnya sendiri. Bahkan itu berlangsung sebelum tidur hingga mereka benar-benar tertidur sendiri! Sedangkan jika sudah besar, mereka tentu saja bahkan kerap harus bisa memilih kegiatan yang akan mereka tekuni sendiri dan mereka sukai.

Sungguh berbeda bukan kondisinya jika anak dititipkan pada keluarga sendiri atau orang yang dipercayakan hanya merewat anak itu saja sendiri? Kebutuhan anak serba dilayani, apa-apa serba ditentukan, dan anakpun bahkan bisa jadi melewati waktunya dengan aktivitas yang kurang penting bagi perkembangannya.

Tak Tahan dengan Tangis Si Kecil

Sudah tiga bulan ini saya memegang tanggung jawab manajerial di sebuah TPA. Dan dari sekian waktu yang ada, kerap saya temui adanya beberapa orangtua yang tidak nyaman ketika anaknya telah diputuskan untuk dititipkan di TPA.

Yang pertama, mereka yang ‘terpaksa’ menitipkan anaknya di TPA karena suatu hal. Pembantu tidak bisa masuk, keluarga sedang tidak bisa menjaga anaknya, atau mendadak harus menuju suatu tempat dan tidak memungkinkan mengajak si kecil.

Untuk golongan yang pertama ini termasuk pihak yang saya sayangkan. Mereka kerap begitu teganya mengabaikan tangisan si kecil yang tidak dipersiapkan untuk dibawa ke TPA, dan berpikir jika pasti cukup hanya sekali itu saja mereka menitipkan anaknya di TPA!

Walhasil, saya dan para pengasuh lainnya lah yang kemudian kewalahan menghadapi fluktuatif emosi dari si kecil ini. Kegiatan bermain dan belajar dari anak-anak lainnya pun harus kacau karenanya. Kerap saya temui, anak-anak yang terbiasa dititipkan di TPA menjadi terganggu konsentrasi dan kondisi psikologinya hingga akhirnya kerap ikut-ikutan menjadi emosional.

Golongan kedua adalah orangtua yang tidak tega kala melihat dan mendengar anaknya menangis. Ketika sudah memutuskan untuk menitipkan anaknya di TPA, lalu mendengar si kecil menangis tidak terima, tidak sedikit orangtua yang kemudian mencabut kembali anaknya dengan alasan yang selalu karena “tidak tega!”

Malah, saya pernah menemukan alasan tersebut terlontar oleh seorang pendidik yang notebene juga seorang guru TK yang pada awalnya menitipkan anaknya di TPA tempat saya. Kala itu saya hanya geleng-geleng kepala dan berpikir, bagaimana bisa seorang pendidik anak usia dini tidak memahami bahwasanya anak memiliki tahapan proses adaptasi.

Sempat juga suatu ketika saya tercetus pada teman dari seorang orangtua yang khawatir akan anak temannya yang terus menangis ketika akan dititipkan di TPA. “Anak tidak akan mati karena menangis!” demikian seru saya kala itu karena saking gemasnya.

Mungkin, siapapun bisa beralasan jika saya mudah mengucapkan itu karena saya masihlah seorang lajang yang belum memiliki anak kandung sendiri. Namun yang saya tahu dan kerap saya temui, untuk mereka yang paham akan psikologi anak-anak dan memang sudah memiliki anak, mereka bisa paham jika anak memang akan berperilaku seperti itu sebagai wujud masa adaptasinya.

Yah, jangankan anak kecil, orang dewasa pun akan memiliki rasa was-was kala berada di tempat baru dengan orang-orang yang semuanya baru dikenalnya. Jadi pahamilah, berempatilah, dan kondisikanlah anak jika Anda akan memutuskan menitipkan si kecil di TPA.

Ajak Si Kecil Berkomunikasi

Datang pertama kali, dan harus ditinggal selama hampir 5 jam lebih! Bayangkan saja jika Anda yang sudah dewasa berada dalam kondisi seperti si kecil yang tiba-tiba dibawa dan diletakkan di tempat yang belum pernah dikunjungi berikut orang-orang baru yang tak pernah dikenalnya.

Begitulah gambaran saya tentang beberapa anak baru di TPA. Panik mereka pun tentu saja bukan main. Versinya bisa macam-macam. Ada yang menangis berteriak-teriak, sesenggukan menangis ditahan dengan sedikit suara, dan segala versi kegiatan menangis lainnya.

Berbeda tentunya dengan anak-anak yang dibawa ke sebuah sekolah baru, playgroup atau TK di mana itu menjadi awal bagi mereka mengenal bangku pendidikan. Kebanyakan dan yang selalu ada, anak-anak ini akan ditemani di masa-masa awal hingga bahkan waktu pulang sekolah.

Masa ketika akan diajak sekolah pun kerap digunakan para orangtua untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan si kecil. “Nak, besok kamu akan sekolah lho. Ketemu teman-teman baru. Bisa belajar sambil bermain!” Hm, terdengar menyenangkan bukan?!

Berbeda dengan anak-anak yang akan dititipkan di TPA untuk pertama kalinya. Yang sering ada dan sering saya ketahui, mereka seperti anak-anak yang dibawa ke sebuah tempat, tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu, dan ditinggalkan menangis dengan rasa tega atau dibuat tega oleh orangtuanya!

Sering saya berpikir, mengapa sih harus seperti itu? Mengapa mereka tidak mengomunikasikan terlebih dahulu dengan si kecil? TPA memang nantinya akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Ada teman yang banyak, permainan yang banyak, mengapa tidak itu juga yang dikomunikasikan kepada anak yang akan dititipkan di TPA?

Lantas yang kerap buat saya lebih geregetan lagi, ada dari orangtua yang kemudian akan memarahi si kecil bila ketahuan menangis terus selama di TPA pada hari itu. Duh duh duh… bisa empati nggak ya sama perasaan anak kecil? Kok ya tega tanpa berpikir jika mereka telah tega untuk merenggut waktu si kecil jauh dari mereka yang notebene orangtua kandungnya dan memilih untuk bekerja atau mengejar karir?

Jadi bila Anda membaca tulisan ini dan terbersit untuk menitipkan si kecil di TPA, baik dengan alasan tidak ada yang menemani si kecil maupun dengan alasan cerdas agar si kecil bisa beraktivitas dengan pintar, tolong, cobalah untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan si kecil.

Anak-anak, meskipun mereka kecil dan kita adalah orang dewasa, tetaplah sosok yang perlu dan bisa untuk diajak berkomunikasi. Jika orangtua kemudian datang ke TPA, mengenalkan guru-guru atau para pengasuh TPA kepada si kecil, lantas menunjukkan hal-hal apa saya yang bisa menyenangkan bagi si kecil, yakin deh, anak manapun akan berproses untuk mencoba mengerti dan menerimanya.

Selanjutnya, biarkan mereka untuk berproses beradaptasi. Memang, menangis adalah pilihan anak untuk beradaptasi pada hal-hal yang tidak atau sama sekali belum dikenalnya. Namun percayalah, lambat laun hal yang bagi mereka serba tidak mengenakkan itu akan berubah menjadi menyenangkan.

Hehehe, buktinya sekarang, sering sekali saya temui anak-anak saya di TPA tidak mau diajak pulang oleh orangtuanya dari TPA. Bahkan, ada yang sudah tidak dititipkan lagi di TPA tapi kemudian meminta sendiri ke orangtuanya untuk kembali ke TPA. Ketagihan asyiknya di TPA sih!

20
Des
09

Ulat Itu Hewan yang Lucu

naka dan jangkrik, sedangkan koko hanya duduk di sebelahnya untuk mengawasi

naka dan jangkrik, sedangkan koko hanya duduk di sebelahnya untuk mengawasi

Saya kadang suka geli sendiri apabila ada orang yang phobia terhadap hewan-hewan tertentu. Misalnya, takut belatung, kecoa, ulat bulu, atau belalang. Memang, mungkin sayalah yang tergolong unik karena bagi kebanyakan orang, beberapa dari hewan tersebut termasuk menjijikkan. Namun, ada baiknya kan jika kebiasaan berani pada hewan-hewan tersebut ditanamkan pada anak-anak usia dini?

Apalagi jika kelak kita berharap ia bisa menjadi ilmuwan. Nah, bagaimana mau berani meneliti jika pada hewan-hewan tertentu saja mereka ketakutan atau merasa jijik? Jadi, pendidikan berani dan menyayangi hewan itu perlu menurut saya!

Berawal dari pikiran itulah akhirnya saya jadi terpikir untuk mengajak anak-anak saya di TPA untuk tidak hanya sekedar mengenal hewan. Mulai dari belalang, jangkrik, kecoa, kaki seribu, sampai belatung yang ada di belimbing busuk pun saya perkenalkan dan saya dekatkan kepada mereka.

Awalnya saya ajak mereka berpikir bahwasanya hewan-hewan itu pun sama dengan manusia, punya rumah, punya mama, punya papa. Hingga ketika ada dari mereka yang mungkin saking takutnya lalu akan membunuh si hewan, sering saya ajak mereka untuk berkomunikasi dengan cara empati.

“Lho nak, kok mau dibunuh? Nanti kalau orangtuanya nyariin gimana? Kasihan kan? Kita biarkan dia pulang yuk. Biar ketemu sama mama papanya…” ujar saya jika gelagat ingin mematikan hewan mulai nampak dari sikap anak-anak saya.

Memang, ada beberapa macam tipe anak-anakdi TPA saya. Anak saya yang bernama Naka misalnya. Pada dasarnya ia berani dan memang selalu berani dengan hewan apapun. Ada juga yang memiliki sikap penakut tetapi ikut-ikutan. Misalnya Koko atau Nisa. Yang peragu dan musiman sikapnya pun ada. Kadang penakut, kadang bisa jadi berani! Hehehe…

Ketika kemarin-kemarin saya kerap lebih menggunakan pelajaran empati, maka akhir-akhir ini saya justru mulai mendekatkan mereka pada hewan-hewan yang memang sering dipandang menjijikkan bagi kebanyakan orang.

Kebetulan, di samping TPA yang saya kelola, ada sebidang tanah kosong yang tidak terlalu bersih dari rerumputan. Sebatang pohon belimbing berada di sana. Sesekali, saya kerap menemukan belimbing busuk yang tentu saja bisa ditebak hewan apa yang ada di dalamnya. Yap, belatung!

Hewan mungil yang meski sudah berwarna putih itu kerap selalu diidentikkan dengan kejijikan. Yah, karena tempatnya yang memang berada di kondisi buruk. Sayangnya, sering juga banyak orang dewasa yang lantas mengajak anak-anak untuk menyikapi hewan ini dengan ekspresi yang tidak mengenakkan untuk harus ditiru oleh anak.

Mengamati belatung di belimbing yang busuk

Mengamati belatung di belimbing yang busuk

Namun yang saya lakukan justru sebaliknya. Belatung itu saya perkenalkan sebagai hewan yang lucu, mengasyikkan untuk diamati cara bergeraknya, dan memiliki cerita kehidupan untuk diketahui. Walhasil, seluruh anak-anak saya jadi berani untuk memegangnya.

Hewan lain yang bisa saya amati bersama anak-anak di lahan kosong itu adalah kaki seribu. Hm… sayangnya saya lupa nama asli hewan ini. Hanya saja di daerah saya, kami menyebutnya kluwing. Bentuknya sering hanya paling panjang sepanjang jari kelingking, berwarna merah, berkaki banyak hingga karena itulah ia dijuluki si kaki seribu, dan sering melingkar untuk melindungi dirinya.

Masih ketawa ketiwi waktu melihat si kaki seribu yang melingkar lucu

Masih ketawa ketiwi waktu melihat si kaki seribu yang melingkar lucu

Mulai terlihat was-was dan mengamati kala si kaki seribu nampak berjalan merambat

Mulai terlihat was-was dan mengamati kala si kaki seribu nampak berjalan merambat

Awalnya anak saya bernama Koko yang menemukannya. Bentuknya sudah dalam posisi melingkar ketika ia bertanya apakah yang sedang dipegangnya saat itu. Saya yang tahu jika Koko kadang adalah anak yang penakut untuk hewan-hewan yang tak dikenalnnya, jadi senyum-senyum juga saat tahu Koko berani memegangnya. Mungkin waktu itu ia berpikir jika apa yang dipegangnya adalah bukan hewan.

Namun ketika si kaki seribu itu saya genggam dan kemudian menunjukkan bentuk aslinya yang memanjang, barulah mulai gelagat ketakutan muncul di wajah anak-anak saya, kecuali Naka. Apalagi ketika saya biarkan ia berjalan di tangan saya, suara ha hi langsung keluar dari bibir-bibir mungil mereka.

Lambat laun rasa ketakutan mereka berubah saat mereka melihat bagaimana hewan tersebut santai berjalan merambat di tangan Naka dan lalu Syaif. Barulah mereka lantas mencoba berebut ingin ikut memegangnya.

Usia anak-anak yang masih belia memang jadi masa tepat untuk menanamkan hal yang ingin kita harapkan berbuah dari mereka kelak. Menginginkan mereka menjadi orang besar yang hebat, tentunya perlu dari hal yang kecil dan mungkin sering dianggap diabaikan bukan? Karena dari situlah, mereka bisa belajar melihat dengan jeli, teliti, dan mengikutsertakan rasa yang positif, modal utama untuk karya-karya besar mereka kelak!

20
Des
09

Bermain dengan Play Dough

Anak mana yang tidak suka bermain dengan plastisin atau yang biasa disebut dengan malam atau lilin. Bentuknya yang lunak dan berwarna warni, membuat anak-anak suka berkreasi dengan mainan yang satu itu.

Tapi di Taman Penitipan Anak yang saya kelola, saya tidak bisa membiarkan anak-anak saya bermain dengan plastisin. Pasalnya, usia mereka kebanyakan sekitar 2 sampai 3 tahun. Rasa ingin tahunya itu lho! Bisa-bisa, tidak hanya sekedar bermain, icip icip pun mungkin sampai mereka lakukan. Maklum, anak-anak kreatif!

Nah, tidak terbayang kan jika plastisin yang baunya khas itu masuk ke dalam mulut anak-anak saya? Sementara itu dalam kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), anak-anak juga dituntut untuk dirangsang kegiatan jari jemari dan tangannya. Dan yang ada pada anak-anak saya, mereka pun akhirnya asyik memilih bermain-main dengan pasir yang berserakan di halaman.

Namun suatu ketika, saya teringat dengan adonan kue yang sifatnya kalis. Saya pikir, sepertinya plastisin bisa digantikan dengan adonan untuk kue seperti itu. Hingga, saya pun mencoba-coba membuat bahan mainan yang aman dan bisa digunakan untuk anak-anak.

Sim sala bim, akhirnya jadilah adonan tepung kreasi saya yang sifatnya tidak berbeda jauh dengan plastisin. Mudah lho cara membuatnya! Tinggal campur saja tepung terigu, minyak goreng, dan air. Untuk ukurannya dikira-kira saja deh.

Namun ternyata, bahan mainan buatan saya itu barulah saya ketahui bernama Play Dough melalui hasil browsing di internet. Di luar negeri sendiri, adonan seperti itu memang lebih kerap digunakan dalam permainan anak-anak. Anak pun tidak hanya kreatif dalam bermain, melainkan para orangtua atau pengajar pun menjadi dituntut pula kekreatifitasannya.

Play Dough juga mudah cara menyimpannya. Jika sudah selesai, masukkan saja ke dalam plastik dan simpan di dalam kulkas. Sayangnya, saya masih belum tahu tingkat ketahanan dari Play Dough ini hingga beberapa lama. Namun jika lebih dari seminggu, Play Dough ini akan seperti laiknya makanan yang berubah aroma menjadi tengik. Jadi jika Anda membuat dan menyimpan Play Dough dalam kulkas, cobalah untuk mengamati bau dan rupanya terlebih dahulu sebelum digunakan kembali.

Bentuk Play Dough jika usai dimasukkan ke dalam kulkas memang agak berbeda. Minyaknya akan mengembang di permukaan. Sementara adonan tepungnya sendiri agak terasa mengeras. Namun jangan khawatir, remas-remas saja Play Dough hingga bagian tepungnya akan melunak dan unsur minyaknya kembali menyerap ke dalam tepung.

Agar lebih menarik lagi, Play Dough ini bisa diberi warna agar terlihat menarik lho! Pisah saja beberapa adonan dan warnai dengan pewarna makanan. Hasilnya, mainan yang satu ini tidak akan kalah dengan plastisin.

Dari Bakso sampai Mi

Bermain Play Dough memang butuh kreatifitas. Tapi, kekreatifitasan anak pun tentu saja juga berasal dari dorongan orangtua memotivasinya bukan? Biar asyik bermain Play Dough dengan si kecil, orangtua pun perlu ikut merasakan serunya bermain dengan anak-anak.

Bermain mudah membentuk Play Dough jika hasil pengalaman saya dengan anak-anak saya di Taman Penitipan Anak adalah membuat bakso. Meski bagi kita kelihatannya sepele, tapi membentuk bakso ini menuntut kemampuan otot-otot tangan dan jari anak-anak lho untuk memutar adonan menyerupai bakso! Walhasil, bakso buatan anak-anak saya lebih berbentuk bakso super mungil. Berkali-kali saya mencuilkan sejumput adonan yang lebih besar. Tetap saja, bakso-bakso imut selalu berwujud demikian hasilnya. Hehehe, mungkin karena tangan-tangan yang membuatnya juga mungil kali ya?

Selain bentuk bakso, bentuk lainnya adalah mi. Kalau yang satu ini tinggal tunjukkan saja kemanpuan kita dalam melinting adonan agar mereka menirunya. Cara lainnya adalah dengan memasukkan adonan ke dalam wadah yang berujung lubang kecil, lalu tekan adonan Play Dough hingga terus keluar dari lubang tersebut.

Cara main asyik lainnya adalah dengan membuat cetakan. Ratakan adonan Play Dough ke sebuah wadah datar yang lebar, lalu ambil cetakan bentuk aneka rupa seperti hewat atau bunga, lalu tekan di permukaan Play Dough. Sebelum cetakan diangkat, bersihkan sisa adonan yang ada di sekitarnya. Angkat cetakan, dan jadilah aneka bentuk rupa Play Dough.

Mainan ini asyiknya bisa diterapkan pada anak-anak usia 2 tahunan. Karena anak usia tersebut masih memiliki kecenderungan memasukkan barang ke dalam mulutnya, Anda pun tidak perlu khawatir karena adonan Play Dough sangat aman.

Dan meski kelihatannya mainan ini sepele, tapi nilai edukatifnya cukup besar lho! Mainan ini sesuai dalam kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menargetkan kemampuan motorik tangan dan jari anak. Belum lagi unsur tuntutan permainannya yang membutuhkan kreativitas.

Nilai lainnya adalah, Anda pun bisa membiasakan anak untuk bermain dengan berbagai barang yang ada di sekitarnya. Tidak harus beli apalagi bernilai mahal. Jika nilai ini sedini mungkin diterapkan, anak Anda pun akan terbiasa hidup kreatif dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Ehm, mirip iklan susu yang di televisi itu lho…!!!




Kalender

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 397,532 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

The Old Building

The Old Building

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan